Syarah Riyadhus Shalihin (Bab I)

 1. BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DI SELURUH AMALAN DAN PERKATAAN YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Allah Ta’la berfirman :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridha an) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. ..( Al Hajj : 37)

Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ). 

1. BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DI SELURUH AMALAN DAN PERKATAAN YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Allah Ta’la berfirman :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridha an) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. ..( Al Hajj : 37)

Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ). 


(SYARAH ………………….As Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin)

Niat tempatnya adalah di hati, maka tidak boleh melafadzkannya dengan lesan pada seluruh amalan. Untuk itu siapa saja melafadzkan niat ketika hendak ingin sholat atau puasa, haji, wudhu’ atau yang lainnya maka berarti dia telah membikin amalan baru yang tidak ada asalnya dari agama Allah.
Karena Nabi selalu berwudhu’ sholat, bershodaqoh, puasa dan amalan yang lainnya dan Beliau tidak melafadzkan niat, hal tersebut dikarenakan tempatnya niat adalah di hati. Sementara Allah Maha mengetahui apa yang ada di hati dan tidak ada sedikitpun yang tersembunyi bagi-Nya. Sebagaimana ayat yang dibawakan oleh imam An Nawawi yaitu 
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah Mengetahuinya. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 ). 
Wajib bagi manusia untuk mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah dalam seluruh ibadahnya. Dan jangan meniatkannya kecuali karena wajah Allah dan mengharap negeri akherat.
Demikianlah yang Allah perintahkan dalam firmannya : 
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)
(*) Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Dan sudah semestinya bagi manusia untuk senantiasa menghadirkan niat pada seluruh amalannya. (dengan tetap menempatkannya dalam hati. pent)
Misalnya dia berniat hendak berwudhu maka ia niat berwudhu karena Allah dan ia berwudhu’ karena menjalankan (sesuai) perintah Allah. Maka hal ini meliputi 3 perkara :
1. Niat suatu ibadah (misalnya wudhu. Red )
2. Niatnya karena Allah
3. Niat menjalankannya karena (sesuai) perintah Allah

Inilah keadaan yang sempurna berkaitan dengan niat, begitu juga ketika hendak sholat dan amalan-amalan yang lainnya.
Al Imam An Nawawi menyebutkan beberapa ayat yang kesemuanya menunjukkan bahwa niat tepatnya adalah di hati dan Allah maha mengetahui niat setiap hamba-Nya. Bisa saja dia beramal suatu amalan yang nampak dihadapan manusia sebagai amalan yang sholih padahal amalan tersebut ternyata rusak dikarenakan dirusak oleh niatnya, sebab Allah maha tahu apa yang ada dalam hati.
Seorang manusia tidaklah diberi balasan nanti di hari qiamat kecuali berdasarkan apa yang ada dalam hatinya berdasarkan firman Allah : 
Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia*, Maka sekali-kali manusia tidak memiliki satu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong. ( QS. At Thariq : 8 –10 )

(*) Yaitu dihari yang akan dikabarkan seluruh isi hati manusia. 
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada” ( QS. Al ‘adiyat : 9 –10 )

Maka di akherat, pahala dan siksa dan adanya penilaian berdasarkan apa yang dihati. Adapun didunia maka penilaian itu berdasarkan yang dhohir (nampak) maka bermuamalah dengan manusia dengan dasar dhohir keadaan mereka. Akan tetapi dhohir yang nampak ini jika sesuai dengan apa yang ada pada bathinnya maka menjadi baiklah yang dhohir dan yang batin tersebut, yang tersembunyi maupun yang terangan-terangan. Namun jika menyelisihi sehingga hatinya menjadi persembunyian atas niat yang rusak maka betapa besar kerugian yang akan ditanggungnya. Dia beramal hingga capek sementara tidak ada hasil dan bagian yang diperolehnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shohih dari Nabi bersabda (Hadits Qudsi): 
قال الله تعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته و شركه تخريج السيوطي: (م هـ) عن أبي هريرة. تحقيق الألباني : (صحيح) انظر حديث رقم: 4313 في صحيح الجامع.‌

“Sesungguhnya Allah berfirman : aku tidak butuh adanya sekutu-sekutu maka barang siapa yang beramal suatu amalan yang dia menyekutukan aku dengan yang selainku maka aku akan tinggalkan dia dan sekutunya.” ( HR. Muslim dari Hadits Abu Hurairah. )

Maka demi Allah wahai saudaraku tetapilah ikhlas karena Allah.
Ketahuilah syaithon senantiasa mendatangimu ketika engkau ingin beramal kebaikan dengan berkata : sesungguhnya kamu beramal ini tidak lain karena ria !! Kemudian dengan sebab bisikan tersebut, kamu hilangkan keinginanmu untuk beramal. 
Yang benar hendaknya kamu tidak usah memperdulikan bisikan itu dan jangan kamu ikuti syaithon tersebut maka tetaplah beramal karena kalau engkau ditanya apakah kamu sekarang beramal ini karena ria atau sum’ah ? jawablah : bukan. Jadi itu tadi adalah was-was yang disusupkan oleh syaithon didalam hati kamu maka jangan kamu pedulikan.

Hadits no : 10

 Berakhlak Baik

 

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلاَ مُتَفَحِّشاً وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ أًخْلاَقاً رواه البخاري.

 

10. Dari Abdullah bin Amru  berkata: Nabi  tidak pernah berbuat keji sendiri tidak pula berbuat keji kepada orang lain. Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Bukhari)

 

Perowi Hadits:

Dia adalah Abdullah bin Amru bin Ash Bin Wa-il Al Qurosy bertemu Nabi e pada garis kakeknya Ka-ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama masuk Islam (as sabiqunal awalun). Banyak meriwayatkan hadits.

 

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut terdapat dalil akan baiknya akhlaq Nabi . Beliau adalah bukan seorang yang berbicara maupun berbuat kotor. “Fakhsy” adalah setiap sesuatu yang keluar dari kadarnya hingga dianggap buruk termasuk dalam perkataan, perbuatan dan sifat. Sedang “Fakhisy” orang yang berkata keji dan “Mutafakhisy” orang yang menggunakan kekejian supaya orang ketawa.

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkata dan berbuat keji”

 

Tuntunan-Tuntunan:

1. Keagungan syariat Islam dimana menyeru kaum muslimin untuk memiliki sifat-sifat yang utama misalnya; menghilangkan gangguan, menyambut orang dengan senyuman serta mencurahkan kebaikan.

2. Wajib berpegang teguh dengan akhlak utama dan meninggalkan akhlak yang buruk.

1.      Berakhlaq baik mendekatkan kepada kedudukan Nabi e pada hari kiamat

2.      Menghormati kaum muslimin dan mempergauli mereka dengan akhlak baik

3.      Barangsiapa memiliki akhlaq baik memperoleh kecintaan Allah Ta’ala

4.      Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.

 

 

 

 

Hadits no :9

Peringatan Dari Marah

 

 

[ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّ مِرَاراً قَالَ : لاَ تَغْضَبْ] رواه البخاري.

 

9. Dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi: ’Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: ’Janganlah kamu marah’ Orang itu mengulang beberapa kali. Beliau bersabda: ’Janganlah kamu marah’ (HR Bukhari)

 

Perowi Hadits:

Dia adalah Abdurrahman bin Shokhr Ad Dausy, masuk Islam tahun Khaibar tahun 7 H, senantiasa menyertai Rasulullah karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

 

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut mengandung larangan marah dan menjahui sebab-sebab timbulnya marah dan menghindari hal-hal yang membangkitkan amarah. Nabi membatasi lafadz ini karena penanya adalah seorang pemarah. Adalah Rasul  memberikan fatwa kepada setiap orang dengan sesuatu yang memang sangat perlu (pas) untuk orang tersebut.

Dalam sabdanya ’Jangan marah’ Rasul  mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa ditakwilkan saling mutus hubungan dan mencegah kelembutan dan bisa ditakwilkan menyakiti orang yang dimarahi dengan sesuatu yang tidak perbolehkan sehingga menjadi kekurangan pada agamanya.

 

Tuntunan-Tuntunan:

1.     Islam melarang marah karena hasilnya membahayakan untuk Islam.

2.     Peringatan dari marah karena marah itu dari syaitan

3.     Seorang muslim tidak boleh memarahi orang lain tanpa alasan yang benar

4.     Ramah tamah dan lemah lembut termasuk sifat terpuji

5.     Barangsiapa banyak marah akan banyak menyesal

  

Hadits no : 8

 Adab Buang Hajat

 

Hadits no : 8

 

[عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : كانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إذاَ دَخَلَ الخَلاَءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ ]رواه البخاري.

 

8. Dari Anas bin Malik  berkata: “Adalah Nabi  apabila masuk kamar kecil berdoa: “Ya Allah seseungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” (HR Bukhari)

 

[عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الخَلاَءِ قَالَ غُفْرَانَكَ ]رواه الترمذي وغيره.    

Dari Aisyah  bahwasanya Nabi  apabila keluar dari kamar kecil berdoa: “Aku mohon ampunan-Mu” (HR Turmudzi dan yang lain)                                                                                                         

 

Perowi Hadits:

Anas bin Malik Al Anshory, pembantu Rasululah , meriwayatkan banyak hadits.

Aisyah, dia adalah Aisyah binti Siddiq , istri Rasul saw, ahli fikih dan ilmu, meriwayatkan banyak hadits.

 

Makna Secara Umum:

Dzikir ini disyariatkan pada tempat-tempat yang memang disiapkan (untuk buang hajat). Oleh karenanya disertai (lafadz) “masuk”. Dzikir ini juga disyariatkan pada tempat-tempat yang tidak disiapkan untuk buang hajat sekalipun hadits tersebut disebutkan pada kamar kecil karena tempat tersebut memang biasa didatangi syaitan. Dhohir hadits Anas bahwa Nabi  menyaringkan dzikir ini, maka labih baik menyaringkannya.

 

Tuntunan:

1.      Disunahkan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” ketika masuk tempat buang hajat

2.      Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar

3.      Disunahkan ketika keluar dari tempat buang hajat berdoa:

غُفْرَانَكَ

 “Aku mohon Ampunan-Mu”

4.      Menjaga larangan (baca) dzikirullah di dalam kamar mandi

5.      Larangan Dzikrullah di dalam kamar mandi

 

Hadits No : 7

 

Keutamaan Salam dan Perintah Menyebarkannya

 

Hadits No : 7

 

 

عن عبد الله بن عمرو أن رجلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الإِسْلاَمِ خيرٌ ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لمَْ تَعْرِفُ  رواه البخاري

 

1.      Dari Abdullah bin Amru: "Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah : "Gerangan apa itu Islam yang paling baik? Beliau bersabda: "Kamu memberi makan dan mengucapkan salam pada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal" (HR Bukhari)

 

Perowi Hadits:

Dia dalah Abdullah bin Amru bin Ash Wa-il As Sahmy Al Qurosy bertemu dengan Nabi  pada garis kakeknya Ka’ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama-tama masuk Islam, meriwayatkan banyak hadits.

 

Makna Secara Umum:

Sesungguhnya Salam termasuk diantara nama-nama Allah Ta’ala. Ucapannya: Assalamualaikum artinya kalian berada dalam penjagaan Allah sebagaimana, "Allah bersama anda", "Allah menyertai anda". Dikatakan salam, artinya keselamatan yaitu "keselamatan Allah menyertai anda". Salam yang paling pendek mengucapkan Assalamualaikum (kesehateraan semoga terlimpahkan pada kalian) sekalipun orang yang disalami hanya satu namun mencangkup orang tersebut sekaligus malaikat yang menyertainya. Dan salam yang paling lengkap menambah warohmatullahi wabarakatuh. Jika yang disalami hanya seorang maka wajib ain menjawab salam. Dan jika yang disalami jamaah maka menjawab hukumnya fardhu kifayah bagi mereka.

 

Tuntunan-Tuntunan:

1.      Mengucapkan salam adalah sunnah sedang menjawabnya wajib

2.      Selamat pagi atau selamat sore bukanlah ucapan penghormatan yang disyariatkan dalam Islam.

3.      Disyariatkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak kenal

4.      Boleh menyampaikan salam dengan isyarat disertai mengucapkan salam (jika teman anda tidak mendengar)

5.      Memulai pembicaraan di pesawat telpon dengan salam

6.      Disyariatkan salam ketika meninggalkan majlis

7.      Anjuran memberi makan dan menyebarkan salam

 

Hadits ke :6

 Anjuran Untuk Jujur dan Peringatan dari Dusta

 

Hadits ke :6

 

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

 

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586

 

Perowi hadits:

Dia adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud salah seorang Assabiqun Al-awalaun (golongan yang pertama-tama masuk Islam), termasuk kalangan sahabat utama dan ahli fiqih, hafal dari Rasulullah saw 70 surat. Meninggal di Madinah tahun 32 H dalam usia 60 tahun

 

Makna Secara Umum:

Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta  dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memperoleh, akan berlanjut sifat-sifat baik dan buruk. 

Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke jannah serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.    Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.

2.    Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.

3.    Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.

4.    Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.

5.    Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

6.    Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.

7.    Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.

8.    Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.

9.    Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

 

Hadits ke 5

Diantara Etika Bersin 

Hadits : 5

 

[عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إِذاَ عَطِسَ أَحَدُكمْ فلْيَقُلْ الحمدُ للهِ وليَقُلْ أَخُوهُ أوْ صَاحِبهُ يرْحَمُكَ اللهُ فإذا قَالَ لهُ يَرْحَمُكَ اللهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحْ بَالَكُمْ ]رواه البخاري.

     Dari Abu Hurairah  dari Nabi, Beliau bersabda :  "Jika salah seorang dari kamu bersin hendaklah mengucapkan" : Al-Hamdulillah Hendaklah saudaranya atau temannya menjawab :Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), dan jika saudaranya mengucapkan Yarhamukallah maka hendaklah ia mengucapkan : "Yahdikumullah wa yuslihu balakum, (Semoga Allah menunjukimu dan memperbaiki kondisimu)".  (HR. Bukhari)

 

Perawi Hadits.

Dia adalah Abdul Rahman bin Sakhr Ad-Dausy, masuk Islam pada tahun perang khaibar  7 H, senantiasa menyertai Rasulullah  karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

 

Makna Hadits Secara Global .

     Dalam hadits ini terdapat dalil akan agungnya ni’mat Allah atas orang yang bersin. Hal itu diambil dari kebaikan yang mengikutinya. Dalam hadits juga mengandung isyarat akan keagungan karunia Allah atas hamba-Nya dimana Allah menghilangkan bahaya dengan nikmat bersin ini, kemudian diperintahkan baginya untuk bertahmid yang diberikan pahala karena mengucapkannya. Kemudian mendoakan kebaikan bagi siapa yang menjawab setelah doanya dengan kebaikan baginya.

     Oleh karena bersin itu telah mendatangkan nikmat dan manfaat dari bersinnya dengan keluarnya udara yang tertahan di otak yang mana jika tetap berada di dalamnya akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang menyusahkan. Maka Allah mensyariatkan untuk bertahmid atas nikmat ini bersamaan anggota tubuhnya masih tetap pada posisinya setelah terjadi goncangan yang mana goncangan bagi tubuh tersebut layaknya goncangan gempa bagi bumi  .

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Melirihkan suara saat bersin sedapat mungkin.

2.     Menaruh tangan atau tissue di mulut saat bersin.

3.     Orang yang bersin mengucapkan "Al-Hamdulillah" ketika selesai bersin.

4.     Ucapan "Yarhamukallah" (semoga Allah mengasihimu) untuk orang yang bersin yang mengucapkan Hamdalah.

5.     Ucapan "Yahdikumullah wa yushlihu baalakum" (semoga Allah senantiasa menunjukimu dan memperbaiki kondisimu) bagi yang mengucapkan "Yarhamukallah".

6.     Anjuran untuk mendoakan orang yang bersin yang mana akan didapatkan rasa cinta dan persatuan diantara kaum muslimin.

 

Hadits no : 4

 Diantara Etika Makan dan Minum.

 

Hadits no : 4

 

[ عن عمر بن سلمة قال : كُنْتُ فيِ حِجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فيِ الصَحْفَةِ ، فَقَالَ ليِ : يَا غُلاَم سَمِّ اللهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ]. رواه مسلم

    

Dari Umar bin Abi Salamah berkata : “ Dulu aku berada dalam didikan Rasulullah, adalah tanganku berpindah-pindah pada piring makan. Maka beliau bersabda padaku : “ Wahai anak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang di dekatmu (HR. Muslim)

 

Perawi  Hadits :

     Dia adalah Umar bin Abi Salamah yang dididik di rumah Rasulullah, dilahirkan pada tahun kedua hijrah, dan pernah diangkat Ali bin Abi Thalib untuk  memerintah di Bahrain. Wafat di Madinah tahun 83 H.

 

 

Makna Hadits secara umum

     Dalam hadits ini terdapat petunjuk agar menyebut Nama Allah sebelum makan dan dengan tangan kanan dan menunjukkan akan haramnya makan dan minum dengan tangan kiri. Karena hal itu perbuatan dan perilaku syetan. Sedangkan seorang Muslim diperintahkan untuk menjahui cara-cara orang-orang yang fasik lebih-lebih dari syetan. Nafi’ telah memberikan tambahan : dalam hal mengambil  dan memberi. Demikian pula seorang muslim hendaknya makan dari makanan yang terdekat darinya.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Disyariatkan menyebut nama Allah sebelum memulai makan.

2.     Jika lupa untuk mengucapkan basmalah di awalnya hendaklah mengucapkan “Dengan nama Allah di awalnya dan akhirnya”.

3.     Jika anda makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanan juga.

4.     Mengucapkan “ Al-Hamdulillah “ setelah selesai dari makan dan minum.

5.     Jika anda duduk untuk makan, maka makanlah yang dekat dari anda.

 

Hadits no : 3

Haramnya Saling Membenci dan Hasad

 

Hadits no : 3

 

[عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ]  متفق عليه .

1.           dari Anas bin Malik t bahwasanya Rasulullah e bersabda: “ Janganlah kalian saling membenci, saling hasad (dengki), saling membelakangi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari” (Muttafaq Alaih)

 

Perawi Hadits

     Dia adalah Anas bin Malik Al Anshori pembantu Rasulullah  meriwayatkan banyak hadits dan meninggal pada tahun 92 H

 

Makna Hadits Secara Umum

     Pada hadits ini Rasulull membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari keburukannya. Menghilangkan dari hati kita perasaan hasad dan benci serta menjadikan hubungan (muamalah) kita hubungan secara Islam yang mulia.

 

     Hadits tersebut juga menunjukan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah. Maka tidak boleh bagi seorang muslim menjauhi saudaranya atau berpaling darinya lebih dari tiga hari selama hal itu tidak terdapat sebab yang diperbolehkan oleh agama yang diharapkan orang yang yang dijahui tersebut kembali dari penyimpangan dalam agama.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Haramnya perbuatan  saling membenci, saling hasad, saling bertolak belakang dan saling memutuskan hubungan.

2.     Larangan untuk menyakiti/mengganggu seorang Muslim dalam bentuk apapun.

3.     Haramnya menjahui saudaranya Muslim lebih dari tiga hari.

4.     Semua perbuatan tersebut bukanlah dari akhlaq seorang Muslim.

5.     Anjuran untuk bersaudara dan bersatu hati diantara sesama Muslim

Hadits no : 2

Penunjuk Kebaikan Seperti Yang Berbuat

 

Hadits no : 2

 

عن أبي هريرة  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  قالَ : منْ دعاَ إلى هُدَى كَانَ له من الأجرِ مثلُ أُجورِ منْ تَبِعَهُ لا ينْقُصُ ذَلِكَ منْ أُجْورِهمْ شَيْئاً ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً رواه مسلم.

 

1.     Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah  bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala  mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

 

Perowi Hadits

     Dia adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausy, masuk Islam pada tahun Khaibar tahun 7 H, selalu menyertai Rasulullah  karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak hafalan haditsnya.

 

Makna Secara Umum

     Rasul  sang pembawa petunjuk  menganjurkan umatnya untuk berbuat kebaikan dan menyerukannya. Bahwasanya siapa yang membimbing orang lain kepada petunjuk maka ia mendapatkan pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya” dan barangsiapa menjerumuskan seseorang kepada perbuatan dosa sekalipun sedikit atau menyuruhnya atau membantu dalam mengerjakannya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa manusia yang mengerjakannya. Lantas bagaimana halnya dengan orang-orang yang berpaling dari Syariat Allah dan menerapkan hukum dengan undang-undang buatan manusia serta mengakui ideologi atheis yang menghancurkan kehidupan. Mereka semua berpaling dari Kitabullah dan tersesat dari jalan yang lurus. Dan pasti akan ditimpakan pada mereka  dosa dari  penyimpangan-penyimpangan ini yang banyak membuat para pemuda menyeleweng dari kebenaran dan jalan Allah yang lurus.

 

Faedah Yang Bisa Dipetik dari Hadits

1.     Keutamaan menunjukan kepada kebaikan dan anjuran mengerjakannya serta pahalanya yang besar

2.     Bahwa pahala yang diberikan kepada orang yang memberikan petunjuk tidak mengurangi pahala yang mengikutinya

3.     Ancaman keras bagi siapa yang menyeru kepada bid’ah atau kesesatan dan hal itu merupakan sebab penyimpangan manusia dari kebenaran

 

Hadits no :1

 

Berbicara Baik dan Wajah Berseri

 

Hadits no :1 

عن أبي ذرّ  قال : قالَ لي النبي  : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ رواه مسلم

 

1.      Dari Abi Dzar, berkata : “ Rasulullah  bersabda : “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri” (HR. Muslim)

 

Perawi hadits:

Abu Dzar adalah termasuk kalangan sahabat yang zuhud dan dari kalangan muhajirin, masuk Islam sejak awal dan kisah-kisah hidupnya banyak sekali. Ia meninggal pada tahun 32 Hijrah pada masa khilafah Utsman

 

Makna Secara Umum

     Hadits ini membimbing kita bahwa selayaknya bagi seorang muslim tidak meremehkan apa yang dalam pandangan syar’i baik untuk dikerjakan. Dan seseorang hendaknya menjumpai teman-temannya dengan berseri, gembira dan senyuman sebab lahiriyah manusia merupakan tanda batinya maka menjumpai saudara dengan seperti itu dapat memberikan rasa cinta dan gembira kepada mereka.

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.      Tidak boleh meremehkan kebaikan sekalipun sesuatu yang ringan.

2.      Menggunakan kelembutan dan keceriaan ketika bersama teman

3.      Anjuran kepada hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam

4.      Keceriaan di hadapan saudaramu merupakan kebaikan