Mengenang Seorang Mujahidah Dakwah

 

 
(Mengenang Seorang Mujahidah Dakwah, Dr. Munirah Said Sp.PD RahimahaLlah)

 

Muhammad Ihsan Zainuddin


 “Jika hari ini engkau ditakdirkan tiada,

seperti apa engkau ingin dikenang?

Akankah ketiadaanmu akan ditangisi?

Akankah ketiadaanmu menyisakan arti?

 

Dahulu, orang-orang shaleh tak pernah ingin dikenang

Sebab kenangan tak punya arti apa-apa.

 

Mereka berbuat tidak untuk dikenang,

 

Tapi demi sebuah janji:

 

Perjumpaan di Surga dan menatap Wajah Allah.”

 

Hari itu –entah beberapa tahun yang silam-, perjuangan dakwah yang selama ini kita usung dapat sedikit bernafas lega. Hari itu, setelah sekian lama perjuangan ini menunggu, akhirnya lahirlah seorang ukhti pejuang dengan sebuah skill yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan ini. Telah lahir seorang mujahidah dengan sebuah kemampuan yang selama ini dirindukan oleh para pejuang muslimah. Yah, hari itu telah lahir seorang mujahidah spesialis penyakit dalam (internist) bernama Munirah Said…

Hari itu –entah beberapa tahun yang silam-, para akhawat dan ummahat kita dapat tersenyum dan bernafas lega. Jika saatnya Allah menakdirkan mereka sakit, mereka tidak perlu lagi berkonsultasi dengan dokter-dokter pria. Bahkan ketika anak-anak mereka sakit, mereka tidak lagi pusing untuk dibawa ke mana karena “Dokter Munirah!”, itulah jawabannya.
 

***


Hari itu, seorang ikhwah mengantar istrinya yang sakit menemui Sang Dokter itu. Seperti biasa, sebuah sambutan yang hangat menyapa mereka. Ketika sesi konsultasi pun dimulai, meluncurlah keluhan sang ummu kepada Sang Dokter. Dan Sang Dokter dengan tulus memberikan saran-sarannya. Di akhir sesi konsultasi, Dokter Munirah menuliskan resep, dan ketika sang ummu bersiap membayar, “Jangan makiUmmu…,” ujar dokter tulus itu dengan lembut.

Pada kali yang lain, seorang adik yang juga dokter menceritakan bahwa Dokter Munirah terlihat sibuk di salah satu rumah sakit di Makassar mengantar dan mendampingi seorang pasien melakukan pemeriksaan. Dan tidak hanya itu, Sang Dokter kita itu bahkan membantu sang pasien agar tidak dibebani biaya sepeser pun!

Di mana Anda bisa menemukan seorang dokter spesialis yang rela (baca: bela-belain) mengurus 1 orang pasien (sekali lagi: 1 orang pasien!) di sebuah rumah sakit, bahkan membantunya agar bebas biaya?? Anda benar. Di tengah ratusan dokter yang mungkin hanya sibuk berpikir bagaimana “mengembalikan modal”nya selama ini, mungkin hanya ada satu Dokter Munirah!

Kejadian-kejadian seperti itu sudah tidak terhitung lagi. Bukan hanya tidak perlu membayar, terkadang kita juga tanpa pandang waktu di saat mendesak menelpon Sang Dokter baik hati itu untuk memeriksa istri atau anak-anak kita. Dan ia tidak pernah menolak. Jika ia tidak bisa saat itu, ia akan mengaturkan waktu yang tepat untuk kita. Terkadang dengan semua kelelahannya setelah seharian mengurus pasien-pasiennya yang lain, pada jam 10 malam pun ia masih berkenan membukakan ruang konsultasinya untuk kita.

Dan ini mungkin hanya setitik dari sekian banyak kebaikan-kebaikannya…

Ia mungkin bukan seorang akhawat pengurus. Bukan pula seorang ustadzah ataumurabbiyah. Bukan pula orang yang biasa mengisi majlis ta’lim. Bukan pula orang yang pandai merangkai kata dengan pena yang ia miliki. Bukan pula seorang kaya raya. Ia “hanya” seorang dokter. Seorang dokter yang sederhana.

Ia “hanya” seorang dokter di antara puluhan ribu dokter yang ada di dunia ini. Tapi ia memiliki sebuah keikhlasan. Ia memiliki ketulusan yang sulit untuk diukur. Ia memiliki kelapangan hati sedemikian luas. Dengan itulah ia berdakwah kepada kita. Dan itulah yang membuatnya dicintai oleh begitu banyak hamba Allah. Itulah yang membuatnya dikenang oleh begitu banyak pejuang agama Allah. Dan itulah yang membuat air mata para ustadz, ikhwah dan akhawat menetes saat melepaskan kepergiannya…
 

***


Hari ini adalah hari Rabu. Tepat tanggal 7 Juli 2010 menurut penanggalan Masehi…

Tepat pukul 01.30 dini hari…

Kita melepaskan kepergian seorang mujahidah yang sejak bertahun-tahun silam kehadirannya selalu dinanti-nantikan oleh perjuangan dakwah ini. Hari ini kita harus merelakan kepergiannya sembari menggugat para dokter akhawat kita untuk melanjutkan semangat perjuangannya…

Hari ini, kita tidak lagi mendengar penolakan halus dan tulus Dokter yang mulia itu terhadap lembaran-lembaran rupiah usang yang dengan susah payah kita kumpulkan dari sisa-sisa kafalah kita yang tak seberapa…

Hari ini, jika anak dan istri kita jatuh sakit, setelah bertawakkal pada Allah, kita harus kembali berpikir keras untuk membawanya ke dokter mana lagi…

Tapi yang pasti, kepergian al-Thabibah al-Karimah (Sang dokter yang mulia, begitu Ustadz Yusran menyebut beliau dalam sms-nya kepada saya) itu telah mengajarkan kita betapa pentingnya untuk selalu berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas, tulus dan selalu berlapang dada kepada orang lain. Itu sungguh-sungguh akan membuat kita menjadi hamba yang dicintai oleh semua yang ada di langit dan bumi.

Selamat jalan, Dokter Munirah…

Engkau telah menuntaskan perjuanganmu usai hingga di sini.

Semoga kelak kita  dapat berjumpa di Surga-Nya dan mengenang kembali saat-saat dimana engkau memeriksa kesehatan anak-istri kami di dunia ini dan menolak apa yang seharusnya engkau terima dari kami…

Dari dunia yang fana ini, kami hanya bisa mengucapkan: JazakiLlahu ‘anna wa ‘an al-Islam khairan.

Strategi Penyesatan & Pemurtadan

Trik dan Strategi Penyesatan serta Pemurtadan


RED ALERT (1) : Trik dan Strategi Penyesatan serta Pemurtadan



Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.


Saudara-saudariku yang dirahmati oleh Allah ta’ala...

Berikut ini marilah kita bahas dan selidik beberapa Trik dan Strategi Penyesatan serta Pemurtadan yang sedemikian gencar "mereka" upayakan terhadap negeri yang bernama Endonesia ini. Maka, WASPADALAH... !!!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

"Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ." (QS.al-Baqarah {2}:109).

[82]. Maksudnya: keizinan memerangi dan mengusir orang Yahudi.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Hay bin Akhtab dan Abu Jasir bin Akhtab termasuk kaum Yahudi yang paling hasud terhadap orang Arab, dengan alasan Allah telah mengistimewakan orang Arab dengan mengutus Rasul dari kalangan mereka. Kedua orang bersaudara itu bersungguh-sungguh mencegah orang lain masuk Islam. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 109) sehubungan dengan perbuatan kedua orang itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ’Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)


JALUR-JALUR STRATEGI DITERAPKAN DANGAN BERBAGAI CARA



1. MELALUI INVASI KEBUDAYAAN, dengan mempengaruhi pola pikir

a. Strategi ini diterapkan karena ada ajaran dalam Matius 9: 37-38à tahun 2006 ditetapkan sebagai tahun penunaian besar-besaran=tahun pemurtadan. Dengan meminjam tenaga dari orang Islam yang berpola pikir bebas tanpa batas untuk dijadikan corong pengaburan ajaran islam. Seringkali yang dijadikan senjata adalah ayat al-qur’an surat al-baqarah 62/al-maidah:69 dalih bahwa semua agama itu sama, atau al-maidah:5 dijadikan legalitas kawin campur.

b. Sampai saat ini strategi Snaugh Horgronye masih diterapkan, yakni menghadapi kaum muslimin bukan dengan kekerasan tetapi merusak Islam dari dalam dengan cara

1) Pendangkalan aqidah, yang ditonjolkan adlah mistiknyam khurafat agar mendekati syirik.

2) Menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang sebenarnya, hindarkan mereka menghindari ayat al-qur’an tetapi doronglah pada lagu qiraatnyaàkadang kita terjebak pada tadarus pada percepatannya bukan pada tadarus lafdhiyyah(perhatian pada makhraj dan tajwid dan sangat kurang pada tadabbur(pencermatan) ayat dikaitkan dengan ayat lain atau hadist, mungkin dirunut juga asbabun nuzulnya. Diperkuat dengan pernyataan missionaris Zwemmer pada Konferensi Missionaris

“misi kita bukan menghancurkan muslim, tetapi memisahkan mereka dari ajaran Islam, agar menjadi muslim yang tidak berakhlak, dengan begitu akan membuka kemenangan imperialis di negeri Islam. Tujuan kalian dalma missionaris memepersiapkan generasi baru sesuai kehendak penjajah.

3) Merusak moral angkatan muda Islam

a) Atas nama anak gaul, anak Islam dibujuk senang pada pesta valentine dan halowen yang kadang mengarah pada kebebasan pergaulan.
b) Kasus Doulos anak-anak Muslim yang dicekoki miras dan narkoba bahkan pengakuan John F. Tenker dari Manado (informasi Ulil Albab, Kodiran Salim) bahwa narkoba merupakan alat yang merusak kaum muda Islam, meski dalam hal ini sulit dibuktikan


2. MELALUI INVASI KEKERASAN, cara yang diterapkan adalah dengan:

a. Psywar berupa teror dan pembentukan opini bahwa Islam adalah identik dengan kekerasan, dengan penggunaan ayat-ayat al-Qur’an tentang peperangan dan menunjukkan beberapa kesadisan yang dilakukan Islam (contoh film fitnah)
b. Menimbulkan konflik di daerah-daerah tertentu seperti Maluku dan Poso
c. Penculiian dan dicuci otaknyaàgadis MAN di Padang, Akbid ‘Aisyiyah di Jawa barat, Mahasiswa di Lampung, dst


3. MELALUI JALUR EKONOMI. dengan jargon pengentasan kemiskinan sangat strategis untuk pemurtadan, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan berupa:

a. Pemberian atau peminjaman modal
b. Bantuan/pembebasan SPP
c. Bantuna menyalurkan tenaga kerja
d. Pembagian sembako/ bahkan ada yang berani menggunakan bingkisan lebaran
e. Pemberdayaan masyarakatàACT, Action Church together


4. MELALUI PENDIDIKAN

a. Secara terang-terangan menolak sikdiknas terutama pasal penyediaan guru agama yang sejenis agama anak didik.
b. Mendirikan beberapa perguruan tinggi yang mengajarkan Islamologi sebanyak 36-40 SKS seperti Institut Teologi Kalimatullah(ITK) pimpinan Josias Lengkong, sekolah Tinggi Teologi(STT), Apostolos pimpinan Yusuf Roni. Mereka memiliki ayat-ayat favorit dari al-Qur’an untuk legalisasi ajaran mereka. Dengan persiapan matang mendompleng kajian bersama dan mengetengahkan ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan senjata untuk memukul umat Islam
c. Program Asrama Daniel, Salatiga: Beasiswa Info Internasional


5. JALUR POLITIK. Melalui politik praktis ataupun mempengaruhi kebijakan, misalnya

a. Pendekatan pada pemegang kekuasaan, melakukan intervensi kebijakan, agar mereka menjalankan pemerintahan sesuai pesanan sang majikan.
b. PDS adalah keberhasilan persatuan mereka meraih akses kekuasaan, meski perolehan belum mencukupi tetapi bisa menjadi kekuatan mereka dalam menduduki kekuasaan.
c. Beberapa daerah yang rawan konflik menjadi pemicu SARA, contohnya RMS sejatinya bukan Rakyat Maluku Selatan tetapi Rakyat Maluku Seraini, di Poso. Hal ini selain dapat menjatuhkan citra pemerintah juga bertujuan untuk menyakiti umat Islam
d. Proyek Yosef(2004)=PDS dan Proyek Daud(2009)=PKD(Partai Kristen Demokrat). Target mereka: DPRD kab/kota:286 kursi, DPRD Propinsi: 54 kursi, DPRRI:13 kursi dan melirik RI 1 atau RI 2
e. Politik Mapping(pemetaan Politik)

1) Segmentasi pasar: gereja, ormas, kepemudaan dan mahasiswa
2) Optimalisasi pemilih pemula
3) Gol Hindu, Budha dan Konghucu sebagai karib
4) Kejawen, kebatinan, aliran kepercayaan, dibina secara optimal
5) Floating mass=masa mengambang dan Escapist mass=masa pelarian lahan penggarapan


6. JALUR KESEHATAN SANGAT POTENSIAL. Bahkan dokter aktifis penginjil berpendapat seorang dokter lebih efektif dan efisien melakukan pengabaran injil daripada sepuluh penginjil

a. Pemanfaatan waktu ketika menghadapi pasien
b. Pemanfaatan waktu ketika pasien merasa takut di operasi
c. Memberikan pengobatan dan pemeriksaan gratis
d. Pengonatan massal {endeta Youngren


7. PEMANFAATAN MEDIA TULIS. Berupa buku-buku yang ditulis murtadian, leflet dan brosur serta lukisan, misalnya

a. The Islamic invasion karya Robert Morrey yang kemudian telah dijawab oleh Bunda Irena Handono (muhtadin)
b. Buku upacara Haji tulisan Drs Poernama Winangun (murtadin)
c. pengakuan gadis kristen (NITA) yang mempertanggungjawabkan imannya di pusat pengginjilan Nehemia yang memojokkan pemuda Islam(EKY) yang kemudian dikristenkan.
d. leflef yang sarat dengan ayat al-qur’an dan hadist, seperti rahasia menuju jalan surga, keselamatan Iman dan Ketaatan pada sirathal mustaqim, alamat postboxnya sama dengan penginjil Nehemiaà pengakuan Ihsan Mokoginta(Muhtadin)
e. Yesus dalam Al-Qur’an tulisan Abdul Yadi/Pariyadi(murtadin) yang juga ahli menulis kaligrafi


8. PEMANFAATAN MEDIA SENI BUDAYA

a. Membangan tempat ibadah yang sesuai dengan kebudayaan setempat, gereja berbentuk rumah gadang, gereja denngan kubah, gereja menyerupai rumah tinggal
b. Pengamen mulai melanyanyikan lagu gerejani
c. kaligrafi


MEMINJAM TENAGA YANG TIDAK KASAT MATA, ATAU DENGAN DENGAN CARA MISTIK



a. Meminjan tenaga jin, ada yang kerasukan da menyebut Yesus. Hal ini tidak aneh karena menurut korintus 2:11-14=iblis dapat menyamar menjadi malaikan terang

b. Pengobatan yang tiba-tiba dapt sembuh, walau nanti jika kekuatan jinnya tak ada kembali sakit lagi

PERKAWINAN/PERGAULAN MUDA, dengan beberapa metode, diantaranya

a. D3 (dipacari, dihamili dan dimurtadkan) atau metode hamilisasi, diterapkan kepada sesama anak muda

b. Angkut penumpang, jika pasangannnya kembali ke Islam maka yang terpenting anak-anak didiknya ikut ke kristen.


BERKEDOK ISLAMI



a. Shalawatan, tetapi yang dibaca adalah doa dalam Matius 6:9-13 (abanaldzi fi samawati, lataqaddasi ismuka, liyakti malakuutuka, latakun masyiyatuka...dst) = bapa kami yang ada di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datangkanlah kerajaan-Mu, jadikanlah kehendak-Mu.

b. Melakukan tilawatil injil

c. Membuat kaligrafi juga seperti dalam doa matius 6:9-13

d. Mempelajari ayat-ayat al-Qur’an tertentu untuk legalisasi ajaran mereka

e. Mereka melakukan sholatul sab’u karangan pendeta yusuf Roni:

Tabarokallahu ilahuna kulahinin wa ana kullu awwanin wa dahradahirin. Amen. Bismi abi wa ibni wa rukhil quddusi al ilaha wahid. Ketika pendeta mengakhiri sholat mmembaca “assalamu li jami’ikum, jama’ah menjawab wa ma’a ruhika aidhon

f. Pendeta Ignatius Soetawan lulusan sekolah tinggi Prajnawidya Yogyakarta, berhasil menciptakan shalat rabbaniyah yang doanya dengan bahas Arab menggunakan Injil matius 6:9-1


TRIK PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN



1. Menerapkan injil Matius 10:16,, halus seperti merpati tetapi licik seperti ular

2. Kamuflase atau penyamaran, karena memang diajarkan oleh Paulus dalam Korintus 1, 9:29, pura-pura fasih berbahasa Arab/al-Qur’an

3. Kadang membolehkan dusta atau peniouan dan memang diperbolehkan dalam Roma 3:7, kegiatan tanpa identitas

4. Teori makan bubur panas: pemurtadan diawali dari daerah pinggiran dan pedesaan baru pada pusat desa atau kota

5. Debat, namun sasarannya orang yang lemah pengetahuannya

6. Tebar pesona: menunjukkan sikap baik suka membantu, ramah, sopan, span aktif di masyaarakat, menunjukkan kasih ke setiap orang.

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendirir, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka. Sampai Allah mendatangkan perintah-Nya*. Sesungguhnya Allah maha Kuasa Atas segala sesuatu.

*maksudnya: keizinan mamerangi dan mengusir orang Yahudi.

Matius 28:19, Amanat Agung, perintah memberitkan injil

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua murid-Ku dan baptislah mereka dengan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

(ayat ini termasuk yang diklarifikasi menurut Robert Funk guru besar di Havard University ahli pneliti kitab perjanjian baru, ayat ini tambahan)


LOGIKA



Gereja dan pendeta membutuhkan jema’at. Jema’at yang sudah ada milik gereja dan pendeta tertentu. Tiada jalan lain selain memurtadkan umat lain.

Proses perjuangann kaum salibis/palangis untuk kristenisasi di Indonesia melalui proses panjang, berawal dari truma perang salib, kemudian dikembangkan dengan ekspedisi portugal dalma misi TRIPPLE MiSSIONS yaitu god(kejayaan), glory(kekuasaan), gospel(penyebaran agama). Pada masa penjajahan pun telah diterapkan krisrening polotok(1916) melalui misi dan zending yang mat giat upaya pemurtadannya. Sampai KHA. Dahlan pernah debat dengan pendeta Dimine Bakker, Zwemmer, dan Loberton. Ahli kitab (orang yang pernah mendapat kitab), baik Yahudi maupun Nashara à sekarang kristen(kis 11:26). Akan selalu mencari cara maupun celah untuk melaksanakan panggilan/ misi amanat agung tersebut.


GRAND STRATEGI



Dalam sidang Luar Biasa Dewan Gereja Indonesia di Hotel Sahid Surabaya tanggal 8-10 Juni 2001 mereka memutuskan tahapan strategi kristenisasi.

1. Strategi jangka panjang

a. Mewujudkan pemerintahan yang diisi oleh pejabat kristen
b. Mewujudkan agama Kristen sebagai komunitas mayoritas
c. Mewujudkan negara Kristen di Indonesia

2. Strategi jangka menengah

a. Mungupayakan pendirian gereja di seluruh pelosok tanah air
b. Membentuk pasukan yang siap untuk menghadapi musuh kristen
c. Mewujudkan sistem ekonomi terpusat di setiap daerah di Indonesia

3. Strategi jangka pendek

a. Merekrut jama’ah Kristen dengan jalan pemurtadan atau dengan kekayaan/uang
b. Membuat posko pengaduan segala macam kasus

Anggaran untuk grand strategi adalah 200 trilyunn, diantaranya untuk: Proyek Yerico, Proyek Andalas, Proyek Rencong, Proyek DKI, dll.

Wallahua’lam bish-showab. WASPADALAH... !!!

Pesan Kebangkitan

Pesan Kebangkitan Untuk Putra & Putri Ummat Yang Terluka

Saudara-saudara kaum muslimin yang kami cintai..

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh..

Perkenankanlah kami, Harakah Sunniyah untuk Masyarakat Islami (HASMI), sebuah gerakan dakwah kebangkitan, menyampaikan pesan singkat dan ajakan ini.Kejayaan dan kecemerlangan dunia yang membahagiakan, ada pada penitian jalan yang lurus, jalan wahyu Ilahy… Semua jalan selain jalan itu adalah jalan kesengsaraan yang selalu dibanjiri oleh arus derita.Hal itu adalah tatanan dasar kehidupan sejak terciptanya kehidupan ini. Tatanan yang tak akan berubah sepanjang masa… Penyelisihannya adalah bencana yang besar.

Tanpa sedikitpun mengurangi nilai-nilai kemulyaan yang ada di negeri ini, kita akui bahwa kondisi penyelisihan jalan Ilahi yang lurus, Sirotulmustaqim, di negeri kita dewasa ini sudah sangat memprihatinkan sekali. Kesyirikan-kesyirikan, kepalsuan-kepalsuan, kerusakan akhlak, pembangkangan besar-besaran terhadap hukum-hukum Alloh subhanahu wa ta’ala di seluruh bidang kehidupan dan lain-lainnya sudah menjadi bagian yang besar dari kehidupan masyarakat kita.

Masyarakat kita dipenuhi oleh kenistaan-kenistaan. Korupsi.. judi.. miras.. porno aksi.. penindasan-penindasan.. takhayul.. kepalsuan-kepalsuan dan lain-lain. Semua itu akan, bahkan sudah menyebabkan bencana-bencana yang terus-menerus menimpa kita! Banjir… dan banjir lagi, gempa, letusan gunung merapi, bermacam-macam penyakit; demam berdarah, flu burung dan sekarang… sekarang! Flu babi, yaa flu babi yang dangat diharamkan! Bencana, bencana dan bencana. Bencana-bencana itu tak akan pernah berhenti sampai kita semua terbinasakan! Kecuali bila kita mau bangkit kembali meniti Sirotulmustaqim, Islam yang murni, yang tidak tersusupi oleh ritual-ritual palsu karangan tangan-tangan kotor para penoda. Sampai kita bertekad meninggalkan kenistaan-kenistaan itu. Dengan demikian bukan hanya keselamatan dunia saja yang dicapai, tetapi juga kebahagiaan akhirat, yang pada hakikatnya adalah tujuan kita yang utama.

Mari bergabung dengan HASMI, berupaya membentuk masyarakat yang Islami demi meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan di akhirat. Jalan yang kami tempuh untuk tujuan ini adalah jalan dakwah yang damai dan tentram.

Kami memilih strategi dakwah, karena demikianlah strategi para rasul. Kami menolak strategi kekerasan yang hanya melahirkan kekacauan, ketakutan dan kerusakan. Strategi seperti ini tidak bisa melahirkan sebuah kebangkitan. Walaupun kami meyakini bahwa jalan parlementer tidak akan melahirkan kebangkitan, karena kebangkitan jiwa hanya bisa terjadi dengan pencerahan jiwa-jiwa oleh usaha-usaha dakwah yang benar, tetapi kami tetap menghargai keyakinan saudara-saudara kita yang meniti jalan parlementer.

Dengan dakwah yang benar untuk meniti manhaj yang benar, kami yakin kita akan sanggup membentuk jaringan orang-orang yang bertekad untuk meniti jalan yang lurus terlepas dari tingkatan keislaman masing-masing. Jaringan yang terus menerus dibina secara Islami adalah embrio sebuah masyarakat Islami…

Tak usah ragu untuk menjadi anggota, tidak ada syarat apapun juga! Anda tak akan terbebani oleh beban apapun juga. Kami tidak meminta harta anda. Hubungan kita tidak didasarkan atas harta. Kami akan memberi tahu tentang kegiatan-kegiatan kami dan anda bisa mengikuti jika anda menghendakinya dan tidak ada pertanyaan mengapa tidak mengikutinya.

Semua tanpa beban… semua hanya ketentraman…

Mari bergabung bersama kami dengan mendaftarkan diri anda melalui :

http://www.hasmi.org/hasmi/index.php?option=com_content&view=article&id=64&Itemid=70

atau

Ketik:

Daftar#Nama#Jenis kelamin#Tahun kelahiran#Kota domisili

Kirim ke: 08121 000 9451 (tarif biasa)

Setelah menerima nomer keanggotaan, anda kami minta mengirimkan alamat email (jika ada) dan alamat pos yang sejelas-jelasnya ke nomer yang sama untuk memudahkan korespondensi kita. Dengan cara ketik:

Lengkapi#Nama#Alamat lengkap#Email anda

Kirim ke: 08121 000 9451

Atas nama DPP HASMI-BOGOR, kami ucapkan banyak terima kasih atas kesudian anda menyimak pesan kami ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

 Hukum Mengucapkan Selamat Natal.

 

Berikut adalah fatwa ulama besar Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.

Beliau rahimahullah pernah ditanya,

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Beliau rahimahullah menjawab :

Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar [39] : 7)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5] : 3)

[Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?]

Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.

Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron [3] : 85)

[Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?]

Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.

[Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?]

Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan,

“Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-

Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.

Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.

:: Fatwa Kedua ::

Berkunjung Ke Tempat Orang Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka

Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405.

Syaikh rahimahullah ditanya : Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan?

Beliau rahimahullah menjawab :

Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)

Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena dulu ketika kecil, Yahudi tersebut pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.

Pemikiran JIL Membatalkan Otoritas

Forum Ulama Muda NU: Pemikiran JIL Membatalkan Otoritas

  

Ulama muda NU menggelar tabayyun dengan Ulil Abshar. Mereka berkesimpulan, pemikiran JIL membatalkan otoritas para ulama salaf dan khittah NU.
Hidayatullah.com—Muktamar NU belum dimulai, namun suasana sudah mulai menghangat. Ahad (11/10) lalu, berlangsung diskusi seru antara kalangan muda Nahdhatul Ulama (NU) yang dikenal Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala. Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur ini berlangsung hangat.

Dalam rilis yang diterima situs www.hidayatullah.com, forum diselenggarakan sebagai bentuk tabayyun kelompok muda NU yang selama ini hanya membaca pikiran Ulil Abshar dan kalangan JIL melalui media massa dan buku.

Dalam rilisnya, pihak FKM berkesimpulan, pemikiran Ulil dengan paham liberalnya tak memiliki landasan teori yang sistematis dan hanya plagiator.

“Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini,” ujar FKM.

Karena itu, FKM juga menilai, pemikiran Ulil dengan paham liberalnya juga membahayakan tradisi NU dan akidah ahulussunnah wal jamaah.

“Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin,” tambahnya.

Melihat hasil tabayyun dengan pihak Ulil, dalam pernyataannya yang dikutis situs resmi PBNU, juru bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus A’ab) menyatakan, NU mempunyai garis-garis yang jelas.

Menurut Gus A’ab, pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak bisa dikaitkan dengan NU, meskipun beberapa orang dari kelompok ini adalah anak NU, bahkan menantu salah seorang tokoh NU.

Ia menyatakan, keberadaan JIL sangat merisaukan warga NU, karena salah seorang pentolannya, Ulil Abshar-Abdalla adalah warga NU.

“Kalau Ulil sudah bukan NU, ya silakan mau berkata apa saja. Tidak masalah,” ungkapnya usai mengikuti debat terbuka dengan Ulil. [cha/fkm/nu/www.hidayatullah.com]

 

Tadwin As-sunnah

 I.MUQADDIMAH

Kedudukan As-Sunnah sangat tinggi dan agung dalam islam di mana ia merupakan sumber hukum dan syariat islam tertinggi setelah Al Qur’an Al-Karim. Bahkan, sebagai satu di antara dua bagian wahyu ilahi yang diberikan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (bagian yang lain adalah Al qu’ran),yang dengannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-menganjurkan ummatnya untuk menghafal dan meriwayatkannya(menyampaikannya) sebagaimana yang datang dari beliau,sebagaimana beliau menegaskan agar pengambilan hadits dari beliau shahih (tepat) dan akurat, tanpa tambahan ataupun pengurangan yang pada hakikatnya adalah kedustaan atas Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang pelakunya terancam neraka.

 

Maka bertitik tolak dari hal tersebut,kita dapat melihat secara gamblang dalam sejarah islam betapa besar dan maksimalnya perhatian (‘inayah) ulama ummat ini terhadap As-Sunnah,menghafalnya,memeliharanya (dengan pengamalan yang prima),mencatat dan membukukannya,melakukan perjalanan(rihlah) yang panjang dan berat di jalan As-sunnah,melakukan pemisahan antara riwayat yang shahih dengan yang lemah atau palsu,melakukan pencatatan nama-nama periwayat hadits dan menjelaskan derajat kapabilitas ‘adalah serta kekuatan hafalan dan pemahaman mereka,dan berbagai macam penilaian positif(ta’dil) maupun negative (jarh) yang berkaitan dengan sanad hadits maupun matannya.
 

Keberadaan ahlu-hadits ini merupakan salah satu karekteristik pokok dan suatu spesifikasi ummat ini yang membedakan mereka dari ummat-ummat yang lain. Mereka para ahlu-hadits yang telah membuktikan kekuatan potensi ilmiah yang dahsyat dan susah dibandingkan dengan para ahli ilmu lainnya. Dan sesungguhnya ini adalah manifestasi dan pembuktian firman Allah ta’ala dalam Al Quran Al Karim:
إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

“ Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya”.(Al-Hijr:9).

II.MAKNA TADWIN SUNNAH

Secara bahasa, kata Tadwin (التدوين) bermakna (المتشتت في ديوان) artinya : ”mengikat yang terpisah dan mengumpulkan yang terurai (dari tulisan-tulisan)pada suatu diwaan.”

Dan “diwaan” (الديوان) adalah kumpulan kerts-kertas atau kitab (buku) yang biasanya dipakai untuk mencatat keperluan tertentu, misalnya diwaan ahlu jaisy (buku daftar keluarga militer) yang dalam sejarah Islam untuk pertama kalinya dilakukan Umar. ( lihat Kamus Mukhtar Ash Shihaah dan Qamus Al-Muhith serta kamus-kamus Arab lainnya pada materi : (د و ن).

Adapun “tadwin As-Sunnah” (تدوين السنة), maknanya adalah penulisan riwayat-riwayat hadits nabawy pada kumpulan lembaran atau buku (kitab).


Tadwin As-Sunnah adalah merupakan salah satu bentuk inayah yang besar dan khidmat yang agung dari para ulama Ahli Hadits terhadap Sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

III. KAPAN DIMULAI TADWIN AS-SUNNAH?


Kebanyakan kaum muslimin memahami bahwa dalam kurun waktu lebih dari seratus tahun para ulama saling meriwayatkan dan menerima hadits dengan lisan dan hafalan saja tanpa ditulis dan bahwasanya orang yang pertama kali menulis hadits adalah Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (wafat 124H),atas perintah dari khalifah Ar-Rasyid Umar bin Abdul Aziz.

Dan pemahaman ini semakin bertambah masyhur, kuat dan berlangsung terus sampai sekitar 5 abad, hingga munculnya tokoh ulama hadits yang terkenal Al Khatib Al Baghdadi, yang melalui sebuah studi yang akurat dapat membuktikan bahwa penulisan hadits nabawi telah ada jauh sebelum masanya Imam Az Zuhri, bahkan dalam kitabnya “Taqyidul-‘ilmi” beliau menyatakan bahwa pencatatan hadits telah ada ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih hidup dan juga di masa shahabat dan taabi’in.
 

Telah diriwayatkan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang pencatatan hadits-haditsnya,sebagaimana diriwayatkan pula bahwa beliau memberikan izin kepada sahabat-sahabatnya untuk mencatat/menulis.
 

Para ulama Muhaqqiqin menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang berisi larangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam pencatatan hadits beliau,semuanya lemah kecuali hadits Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-,bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda:

لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

Jangan kamu menulis dariku (hadits-haditsku) siapa yang menulis darku selain Al Quran maka hendaknya ia menghapusnya”.(Riwayat Imam Muslim;Imam Bukhari menyatakan bahwa riwayat ini mauquf pada Abu Sa’id)
 

Di antara riwayat-riwayat yang berisi izin Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam pencatatan hadits beliau:

1. Berkata Abdullah bin Amr bin Ash –radhiyallahu ‘anhuma-, “Saya pernah menulis segala apa yang saya dengar dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, saya ingin menghafalkannya,lalu orang-orang Quraisy melarangku seraya berkata, “Engkau menulis segala apa yang engkau dengarkan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sedangkan ia manusia biasa yang bisa berbicara dalam keadaan marah dan ridha?” Lalu saya menghentikan menulis, lalu saya sampaikaan itu kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau member isyarat dengan jarinya kemulutnya dan berkata,

((اكتب فوالذي نفسي بيده ما خرج منه إلا حق))


“Tulislah! Demi zat yang jiwaku ada ditangan-Nya tidak keluar darinya kecuali yang haq”(Riwayat Imam Ahmad, Ad darimi, Abu Daud, Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil-‘ilm dan Al Khatib dalam At Taqyiid dari banyak jalan)
 

2. Berkata Abu Hurairah, “Tidak ada seorangpun sahabat yang lebih banyak haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amru bin ‘Ash karena ia menulis sedangkan aku tidak menulis”.(HR.Imam Bukhari).
 

3. Berkata Abu Hurairah, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berkhutbah pada Fathu Makkah, lalu berdiri seorang dari Yaman yang bernama Abu Syah dan berkata, ”Ya Rasulullah saya minta dituliskan (perkataanmu).Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

((اكتبوا لأبي شاه))

Tuliskanlah untuk Abu Syah”.(HR.Imam Bukhari, Imam Ahmad dan lain-lain.Imam Abdullah bin Ahmad dan mengatakan tidak ada riwayat yang paling shahih mengenai bolehnya menulis hadits selain hadits ini).
 

4. Berkata Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- ,”Ketika sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- semakin parah beliau bersabda:


((ايتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده)),

Ambilkan aku kitab!aku akan tuliskan untuk kamu suatu tulisan yang kamu sekalian tidak akan sesat setelahnya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain)
 

Masih banyak lagi riwayat-riwayat yang shahih berkenaan dengan dibolehkan (oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menulis hadits.Di samping itu ada juga riwayat-riwayat yang lemah, yang sebagiannya dapat naik menjadi hasan.
 

Bertolak pada penerimaan Ulama terhadap keshahihan hadits Abu Said di atas,maka berarti dua hal yang zhahirnya kontradiktif yang sama-sama diriwayatkan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Bagaimana manhaj ulama muhadditsin dalam memadukan dua macam riwayat di atas?

a. Bahwa larangan menulis hadits itu hanya pada awal Islam,yang mana dikhawatirkan pula bercampurnya hadits dengan Al-Quran. Setelah jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan merekapun memiliki pengetahuan yang baik terhadap Al Quran, mampu membedakannya dari hadits-hadits nabawi, maka hilanglah kekhawatiran itu ditambah lagi dengan semakin banyaknya Sunnah Nabawiyah sehingga bila ditulis bisa hilang sebagiannya. Maka, hukum larangan menjadi manshukh dan berubah menjadi kebolehan.(Para Ulama telah menjelaskan dengan hujjah yang kuat bahwa Hadits Abdullah bin Amru dan Hadits Abu Hurairah di atas lebih akhir dari hadits Abu Sa’id).
 

b. Bahwa adanya larangan menulis hadist itu karena kekhawatiran akan larutnya orang-orang dengan menulis sehingga terlalai dari Al-Quran. Dan di sisi lain adalah dalam rangka menjaga/melestarikan kekuatan hafalan kaum muslimin karena berpatokan terhadap tulisan akan menyebabkan melemahnya hafalan. Maka di sini larangan berlaku untuk sahabat yang tidak diragukan kekuatan hafalannya, adapun yang tidak kuat hafalannya maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengizinkannya untuk menulis, misalnya pada kasus Abu Syah.
 

c. Bahwa larangan berlaku umum, dengan alasan (‘illat) karena dikhawatirkan bercampurnya hadits dan Al Quran,sehingga dengan ‘illat ini dikecualikan orang-orang yang dijamin tidak keliru dalam menulis semisal Abdullah bin Amru bin Ash yang dipercaya oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam urusan ini.

Para Ulama Muhaqqiqin dari Ahlu-hadits menyatakan bahwa ketiga pendapat ini sebetulnya tidak ada pertentangan dan dengan mudah dapat dipadukan satu sama lain.Walhamdulillah.
Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa penulisan hadits (tadwinussunnah) telah dimulai di masa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.Tidak sebagaimana yang senantiasa digembar-gemborkan oleh para orientalis dan juga dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin bahwa Sunnah belum ditulis kecuali pada masa Imam Az-Zuhri (periode shigharuttaabi’in).

IV.PERIODISASI TADWIN SUNNAH

Sejarah penulisan (kodifikasi) Sunnah telah melalui perjalanan yang panjang dengan melalui beberapa periode sebgai berikut:

1. Periode Abad I H. (sebagian muhadditsin menyebut periode ini dengan marhalah at ta’siis).

Periode ini mencakup masa kehidupan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, masa sahabat sepeninggal beliau dan masa tabi’in.
Usaha dan perjuangan yang dilakukan sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah pondasi awal dalam pencatatan Sunnah serta upaya penghafalan dan periwayatannya/panyampaiannya kepada ummat ini, sebagaimana usaha dan perjuangan mereka adalah pondasi dalam penyebaran din Islam dan pengokohan aqidah dan penjagaan Sunnah dari segala apa saja yang merusaknya.
Di antara upaya-upaya sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hal Tadwin sunnah adalah sebgai berikut:

a. Motivasi dalam mengahafal dan menguatkan hafalan, bahkan banyak di antara mereka yang menyuruh murid-muridnya untuk menulis dalam rangka menguatkan hafalannya lalu menghapus kembali tulisan itu agar tidak menjadi patokan/sandaran.

b. Menulis Sunnah dan mengirimkannya kepada orang lain.

c. Menganjurkan kepada murid-murid mereka untuk menulis/mencatat hadits.

d. Mencatat dan mengumpulkan hadits dalam diiwaan (lembaran-lembaran).
 

Setelah masa sahabat datanglah generasi tabi’in yang memawarisi Sunnah. Bahkan, dien ini secara keseluruhan dari sahabat dan mereka tampil dengan mengemban amanah penyampaian risalah kepada seluruh manusia. Mereka telah memaksimalkan usaha mereka dalam rangka ta’zhim dan khidmat terhadap Sunnah dalam berbagai bentuk dan upaya.
 

Dan di antara usaha besar dan kerja keras mereka khusus untuk tadwin sunnah adalah sebagai berikut:

a. Menganjurkan untuk iltizam kepada Sunnah, menghafal dan menulisnya, serta tatsabbut dalam meriwayatkan dan mendengarkannya.

b. Mencatat Sunnah dalam lembaran-lembaran.

c. Usaha-usaha yang besar dari dua imam kaum muslimin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Ibnu Syihab Az Zuhri,dalam tadwin sunnah.
 

2.Periode abad II (marhalah at ta’-shil)

Periode ini mencakup dua generasi,yaitu generasi shigar at Tabi’in dan generasi atba’uttabi’in. Dalam periode ini khidmah kepada Sunnah dan ilmu-ilmunya semakin meningkat, upaya penjagaan dari segala hal yang menodai dan mengotorinya makin gencar. Di masa ini mulailah Sunnah dikodifikasikan secara teratur dan tersusun. Bersamaan dengan itu muncul pulalah ilmu rijal, yang cikal-bakalnya telah muncul sejak akhir masa sahabat dan kibar at tabi’in ditandai dengan munculnya pertanyaan tentang isnad. Di tangan generasi inilah awal mula disusunnya kitab-kitab ilmu rijal dan kitab-kitab hadits yang tersusun atas bab-bab dan pasal-pasal.

Beberapa perkembangan tadwin sunnah yang terjadi pada periode ini:

a. Lahirnya metode penulisan hadits yang baru yaitu hadits-hadits disusun teratur bab per-bab (tashnif).
b. Penggabungan ucapan (atsar) sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in dengan hadits-hadits nabawi dalam kitb-kitab yang ditulis pada periode ini.Setelah sebelumnya atsar dan fatwa tersebut tidak ditulis.
Periode ini dipandang sebagai masa pengokohan ilmu-ilmu Sunnah, di masa ini hidup tokoh-tokoh besar Sunnah, para imam yang mulia: Malik, Asy-Syafi’i, Sufyan Ats-tsauri, al-Auzai’Ii Syu’bah bin Hajjaj, Ibnu Mubarak, Ibrahim Al Fazari, Ibnu Uyainah, Yahya bin Said al Qaththan, Ibnu Mahdi, Waki’ dan lain-lain.
 

3.Periode Abad III (Marhalah An-Nudhj)

Periode ini merupakan masa kemajuan ilmu-ilmu keislaman secara umum, dan ilmu-ilmu Sunnah secara khusus.bahkan masa ini dipandang sebagai masa keemasan Sunnah Nabawiyah, yang mana pada masa ini semakin gesit rihlah untuk Tholabil-‘ilm, semakin gencar penulisan kitab dalam ilmu rijal dan semakin luas karya-karya dalam tadwin sunnah. Munculnya Kitab-kitab Masanid, Shihah dan Sunan. Yang diantaranya adalah Al Kutub As Sittah.

Pada periode ini tampil para tokoh-tokoh Huffazh, ahli naqd (kritik hadits) dan ulama-ulama besar seperti: Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Ali bin Al Madini, Yahya bin Ma’in, Abu Abdillah Al Bukhari, Muslim bin Hajjaj, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar Razi, Utsman bin Sa’id Ad Darimi, Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasaai, Ibnu Majah dan lain-lain. Yang kesemuanya merupakan pelopor ilmu hadits secara umum dan ilmu jarh wa ta’dil secara khusus.

Dari tangan-tangan mereka pula lahir suatu bentuk karya baru dalam tadwin sunnah ,yaitu kitab-kitab aqidah, sebagai upaya membentangi islam dan Sunnah dari golongan ahlu ahwa wal bida’.
 
4.Periode abad IV (Marhalah al Istikmal)
Periode ini merupakan tahap lanjutan dan penyempurnaan terhadap karya-karya periode sebelumnya.

Pada abad IV H,para ulama umumnya mengikuti manhaj pendahulunya (generasi III). Dalam penulisan sunnah. Di antara mereka ada yang mengikuti manhaj Ash Shahihain dengan mengeluarkan hadits-hadits shahih saja dalam kitab mereka, adapun yang mengikuti manhaj kitab-kitab sunan dengan mengeluarkan hadist-hadits yang berkaitan dengan hukum-hukum dan adab-adab dan adapula yang mengarahkan karyanya pada masalah ikhtilaf al hadits.

Pada periode ini pulalah muncul bentuk baru dalam tadwin sunnah seperti munculnya kitab-kitab mustakhrajat, dan ma’ajim (mu’jam-mu’jam) hadits. Muncul pula pengkodifikasian syarah hadits (fiqhul hadits). Muncul pula pengkodifikasian ilmu mustholah hadits untuk pertama kali dan munculnya karya ulama dalam ilmu ‘ilal al hadits. Dalam ilmu jarh wa ta’dil pun terdapat beberapa kitab-kitab terkenal dan merupakan referensi yang ditulis ulama pada masa ini.

Di antara tokoh dan Imam Sunnah di masa ini adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu As Sakan, Al Hakim, Ibnul Jarud, ad Daraquthni, Ath Thahawi, Ath Thabarani, Abu Nu’aim Al Ashbahabi, Al Isfirayini dan lain-lain.
 
5.Periode abad V H (Marhalah at-tahdzib)
Pada abad V H, ulama memunculkan kreasi baru dalam tadwin sunnah, yang mana merupakan perluasan dan pengayaan khazanah haditsiyah.Misalnya:
a.Pengumpulan hadits-hadits dari kitab-kitab yang berbeda, seperti penggabungan hadits-hadits Shahihain, penggabungan hadits-hadits Al Kutub As Sittah, penggabungan hadits-hadits dari kitab-kitab yang berbeda-beda.
b.Munculnya kitab-kitab takhrij
c.Munculnya kitab-kitab maudhu’at.
d.Munculnya kitab-kitab tentang hadits-hadits At Targhif wattarhib.

Di samping adanya karya-karya para ulama yang mengikuti manhaj para ulama sebelumnya seperti kitab-kitab sunan (hadits-hadits ahkam) dan mustakhrajat. Jenis usaha lain yang semakin menguat pada masa ini adalah pensyarahan terhadap hadits-hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits yang ada.

Di antara tokoh-tokoh hadits di masa ini adalah Al Baihaqi, Al Baghawi, Muhammad bin Nashir al Humaidi, Al Khatib Al Baghdadi, Ibnu Abdilbarr dan sebagainya.
 
6.Periode abad VI dan VII (Marhalah at tamhish)
Pada periode ini ulama menempuh berbagai bentuk pengkhidmatan terhadap Sunnah melalui buah karya mereka, yang umumnya adalah melanjutkan apa yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya yang tentunya dengan susunan-susunan yang umumnya lebih baik dari sebelumnya misalnya:
a. Kitab-kitab maudhu’at.
b. Kitab-kitab hadits ahkaam.
c. Kitab-kitab gharibul hadits.
d. Kitab-kitab athraful hadits.
 
7.Periode abad VIII dan IX (Marhalah al Jam’i wattartib)
Pada periode ini para ulama juga melakukan tadwinus sunnah dalam bentuk inayah dan khidmat kepada kitab-kitab salaf (generasi-generasi awal) dengan mensyarahnya, selain itu mereka juga menyusun biografi (tarjamah) para periwayatnya.
Di samping itu para ulama di periode ini melanjutkan apa yang telah dilakukan oeh generasi sebelumnya dan di antara yang paling nampak adalah munculnya kitab-kitab Takhrij dan kitab-kitab Jawami’.

Pada periode ini pula sebuah kreasi baru muncul dari kalangan Ulama yaitu adalah kitab-kitab Zawaaid.
 
8.Periode Pasca Abad IX hingga awal abad XIV (Marhalah aljumud)
Pada periode ini gerakan ilmiah dalam alam islami mengalami kemunduran, termasuk dan terutama dalam ilmu-ilmu Sunnah nabawiyah.Namun,hal ini bukan berarti sama sekali tidak ada produksi para ulama hadits hanya saja adanya kreasi-kresai baru menjadi sesuatu yang langka dan hanya peran muhadtstsin tidak lagi sebesar sebagaimana sebelumnya.

Di antara tokoh besar ulama hadits yang hidup di zaman ini adalah Al Imam Jalaluddin As Suyuthi, Al Hafizh As Sakhawi, Al Hafizh Zakariya Al Anshari, Muhammad Al Baiquni, Imam Waliyyullah Ad Dahlawi, Al ‘Ajluni, As Saffaarini, Az Zabidi, Muhammad bin Ali Asy Syukani dan lain-lain.
 
9.Periode abad XIV hingga sekarang (marhalah an nuhdh wal inbi’ats),
Pada periode ini, khidmatus sunnah mengalami suasana perkembangan baru, dengan adanya peran percetakan, di awali dengan masuknya percetakan ke alam islmai mulai dari Mesir, kemudian Syam, Iraq, Palestina. Libanon, India dan seterusnya. Maka perhatian diarahkan kepada percetakan kitab-kitab agama terutama yang berkaitan dengan Al Quran ,Hadits, dan Fiqh ,mulailah diadakan pengumpulan karya-karya agung para ulama dalam ulum As Sunnah dalam berbagai disiplinnya, termasuk tadwinus sunnah di mana kitab-kitab induk mulai dicetak begitu pula kitab-kitab yang berhubungan dengannya.

Pada pertengahan abad 20 M, gerakan ilmiah ini makin luas dan gencar, terutama setelah kaum muslimin memahami tujuan-tujuan busuk yang terselubung dalam kedok imperialisme Barat yang berupaya memadamkan islam dengan jalan memadamkan Sunnah.

Di antara ulama muhaditsin yang hidup di zaman ini adalah Syamsulhaq Azhim Abadi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Ahmad Syakir, Muhammad Nashiruddin Al Albani dan lain-lain.
 
V. MENGENAL KITAB-KITAB HADITS YANG TERKENAL:
1. Dari abad II :
Al Muwaththa (Imam Malik bin Anas), Al Mushannaf (Abdurrazzaq Ash Shan’ani), Al Mushannaf (Ibnu Abi Syaibah).
2. Dari abad III :
a. Kitab-kitab masanid (musnad-musnad) : Musnad Abu Daud Ath Thayalisi, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Amru Al Bazzar, Musnad Abu Ya’la Al Maushili, Musnad Al Humaidi, Musnad Ibnu Rahuyah dan sebagainya.
b. Kitab-kitab shihah : Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim.
c. Kitab-kitab sunan : Sunan Abi Daud, Sunan (Jami’) At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan Sunan Ad Darimi.
d. Kitab-kitab hadits yang berkaitan dengan aqidah : As Sunnah (Imam Ahmad), As Sunnah (Abdullah bin Ahmad), As Sunnah (Abu Nashr Al Marwazi), Ar Raddu ‘alal Jahmiyah (Imam Ahmad), Al Raddu ‘ala Bisyr Al Marisi Al Mu’tazili (Imam Ad Darimi), Khalqu Af’aalil ‘Ibad (Imam Bukhari) dan sebagainya.

3. Dari abad IV :
a. Kitab-kitab Shihah : Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Sakan, Mustadrak Al Hakim.
b. Kitab-kitab Sunan : Muntaqa Ibnul Jarud, Sunan Ad Daraquthni.
c. Kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu mukhtalafil-hadits : Syarh musykil al-aatsar (Ath Thahawi).
d. Kitab-kitab Mustakhrajat : Mustakhrajat Abu Bakar Al Isma’ili (tehadap Shahih Bukhari), Mustakhrajat Abu ‘Awanah Al Isfarayini (atas Shahih Muslim).
e. Kitab-kitab Ma’ajim : Al Mu’jam Al Kabir, Al Mu’jam Al Ausath, Al Mu’jam Ash Shagir (ketiganya oleh Imam Ath Thabarani).
f. Kitab-kitab syarah hadits : Tahdzibul aatsar (Ibnu Jarir Ath Thabari), Syarhu Ma’anil Aatsaar (Ath Thahawi), Syarhu Shahihil Bukhari dan Ma’alim as sunan (keduanya oleh Al Khaththabi).
4. Dari abad V :
a. Kitab-kitab Sunan : Sunan Al Kubra (Al Baihaqi).
b. Kitab-kitab yang mneggabungkan Kitab-kitab hadits sebelumnya:
- yang menggabungkan shahihain: Al Jam’u baina Ash Shahihain (masing-masing ditulis oleh Ibnu Nashr Al Humaidi, Abu Bakar Al Barqani dan lain-lain).
- yang menggabungkan al Kutub as Sittah : At Tajrid lish-shihaah wassunan ( Al Hafizh As Sarqasti), Jaami’ al- ushuul (Ibnu Atsir Al Jazari).
- yang menggabungkan hadits-hadits dari kitab-kitab yang berbeda: Bahrul asaaniid fi shahihil masaaniid (Al Hafizh Abu Muhammad As Samarqandi), Mashaabihus-sunnah (Imam Al Baihaqi).
c. Kitab-kitab maudhu’at : kitab Tadzkir Al Maudhu’at (Abul Fadhl Muhammad bin Thahir ibnu Qaisaraani).
d. Kitab-kitab yang berkaitan dengan at targhib wattarhib : Kitab At Targhib wat Tarhib, Kitab ad Da’waat Al kabir (keduanya oleh Imam Al Baihaqi).
e. Kitab-kitab mustakhrajat : Mustakhraj Al Hafizh ibnu Marduyah (atas Shahih Bukhari), Mustakhraj Abu Nu’aim Al Ashbahani (terhadap Shahihain) dan lain-lain.
f. Kitab-kitab syarah hadits : At Tamhid (Ibnu Abdilbarr), Syarhus-Sunnah (Al Baghawi), Al Muntaqa –syarah Al- Muwaththa- (Abul Walid Al Baaji).
5. Dari abad VI dan VII :
a. Kitab-kitab maudhu’at : Al Abaathil wa Manakir (Al Husain Al Jauzaqani), Al Maudhu’at (Al hafizh Abul Faraj Ibnu Al Jauzi).
b. Kitab-kitab Ahkam : ‘Umdatul Ahkam (Abdulghani Al Maqdisi), Al Ahkam Al Kubra (Majduddin Abdussalam Ibnu Taimiyah), Al Ilmaam fi bayani Adilatil-ahkaam (Al izz abdissalam), Al Ilmaam fi Ahaadits-Ahkam (Ibnu Daqiq Al-Ied).
c. Kitab-kitab gharibul hadits : Gharibul hadits (Ibnul jauzi), An Nihayah fi Gharibil-hadits (Ibnu atsir Al Jazari).
d. Kitab-kitab athraaful hadits: Al Isyraaf ‘ala ma’rifatil Athraaf (Ibnu Asakir).
e. Kitab syarah hadits : Syarh Shahih Muslim (Ibnu Sholah), Al Minhaj fi Syarhi shahih Muslim Ibnil-Hajjaj (An Nawawi).
f. Kitab-kitab berkaitan dengan At Targhib wattarhib : At Targhib wattarhib (Al Mundziri), Riyaadhush Shalihin (An Nawawi).
6. Dari abad VIII dan XI
a. Kitab-kitab syarah hadits: Fathul Baari (Al hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani).
b. Kitab-kitab takhrij : Nashbur Raayah li ahaaditsil hidaayah (Az Zaila’i), At Talkhish Al Habir (Al hafizh Ibnu hajar).
c. Kitab-kitab Jawaami’ : Jaami’ul masaanid (Ibnu Katsir).
d. Kitab-kitab Zawaaid : Kasyful Aatsaar ‘an Zawaa-id al Bazzar, Majma’uz- Zawaid wa Manba’ul-fawaaid, Mawariduzh zham’an ilaa Zawaa’id Ibnu Hibban dan sebagainya (Al Haitsami), Al Mathaalib al Aliyah fi Zawaa-id al Masaanid ats Tsamaniyah(Ibnu Hajar), Ithaaful Khiyarah al Maharah bizawaa-id Masaanis al ‘Asyarah (Al Buushiri) dan lain-lain.
e. Kitab-kitab Athraaf : Tuhfatul asyraaf bima’rifatil athraaf karya Al Hafizh Al Mizzi.
f. Kitab-kitab Ahkam: Al Muharrar fi ahadits-Ahkam (muhammad bin Ahmad Al Maqdisi), BulughurlMaram (Ibnu Hajar), Tharhut Tastrib fi Syarhit-Taqrib (Al-Iraq).
g. Kitab-kitab maudhu’at: Ahaaditsul-Qushshaash (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

7. Dari abad IX hingga abad XIV:
a. Yang berkaitan dengan syarah hadits : Syarh Sunan An Nasaai (As Suyuthi), Mishbahuz-Zujajah Syarah Sunan Ibnu Majah (As Suyuthi), Nailul Authar Syarhu Muntaqa akhbar (Asy-Syaukani),Subulussalam Syarh Bulughul Maram (Ash Shan’ani), Al Faidhul Qadir (Al Munawi) dan sebagainya.
b. Yang berkaitan dengan Jawami’: Jam’ul Jawami’ dan Al Jami’ As Shagir (As Suyuthi), Kanzul ‘Ummaal (Alauddin Qadhi Khan Al Hindi).
c. Yang berkaitan dengan maudhu’at: Al La-ali Al Mashnu’ah (As Suyuthi), Al Fawaaid Al Majmu’ah (Asy Syaukani), Tanzih Asy Syari’ah Al Marfu’ah (Ibnu Arraq Al Kinani), Al Asrar al Marfu’ah ‘anil Ahadits al Maudhu’ah (Mula Ali Al Qari).
8. Dari abad XIV hingga kini.
a. Yang berkaitan dengan syarah hadits : ‘Aunul Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud (Syamsul  Haq Azhim Abadi), Tuhfatul Ahwadzi syarah Jami’ At Tirmidzi (Al Mubarakfuri) dan lain-lain.
b. Yang berkaitan dengan takhrij hadits : Irwaa-ul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaarissabiil (Al Albani).
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Referensi:
1. Tadwin As Sunnah, Syaikhuna Prof Dr. Muhammad bin Mathar Az Zahrani.
2. As Sunnah qabla At-Tadwin, Dr. Muhammad Ajaj Al Khatib.
3. Buhuts fi tarikh As Sunnah Al Musyarrafah, Dr. Akram Dhiya Al Umari.
4. Al Wadh’u fil hadits, Dr. Umar bin Hasan Fallatah.
5. Ar Risalah Al Mustatharafah, Al Imam As Sayyid Muhammad bin Ja’far Al Kattani.
6. Tathawwur Diraasaat As Sunnah An Nabawiyah, Dr. Faruq Hamadah.
7. Bahtsun fi Tadwin As Sunnah An Nabawiyah Fi Al Qarnil Khamis Al Hijri

 

Renungan ke-7

 KEMAMPUAN YANG TIADA GUNA

 

Allah I telah memberikan kemudahan kepadaku untuk dapat menghadiri mutamar tahunan yang diadakan oleh Organisasi Islam di wilayah Amerika Utara (tahun 1415 H), di mana sebagian besar yang hadir adalah para Sarjana S-2 dan S-3 yang mendalami beragam spesialisasi dalam ilmu-ilmu Terapan dan Kemanusiaan. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku: "Mungkinkah dalam pertemuan seperti ini kita dapat mengundang para ulama dan pemikir yang akan menentukan arah kegiatan dawah sebagai panduan bagi para dai di wilayah Amerika Utara ini?"

Pada awalnya pertanyaan ini sangat indah dan menggelitik...Namun ketika kurenungi lebih dalam, ternyata hal ini membuat dadaku terasa sesak, yaitu tatkala aku menunggu agar pertanyaan seperti ini juga dilontarkan oleh para peserta lainnya.

Sampai kapankah perjalanan dawah dan amal Islami berlangsung secara individual atau hanya digerakkan secara pribadi-pribadi? Dan sampai kapankah kaum muslimin lainnya yang ternyata jumlahnya jauh lebih banyak hanya diam berpangku tangan, tanpa tergerak dan menyadarinya? Ataukah karena yang mereka pahami bahwa dawah dan amal Islami hanya sekedar seni berkomunikasi dan menarik simpati?

Yang membuat dadaku sesak tiada lain adalah karena tanggung jawab mengemban (mendakwahkan) agama ini bukan hanya amanat yang harus dipikul oleh seorang, bahkan amanat ini merupakan tanggung jawab seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada, bagaimanapun posisi (atau pekerjaan) mereka dan apapun kemampuan dan kesanggupan yang dapat mereka persembahkan. Seorang penyair berkumandang:

و تزعم أنك جرم صغير                و فيك انطوى العالم الأكبر

Engkau anggap dirimu adalah suatu yang sepele

Padahal usahamu yang besar, dinanti oleh seluruh alam

Namun hal ini bukan berarti bahwa kita tidak dapat mengambil pelajaran atau pengalaman-pengalaman yang telah diretas oleh orang lain yang telah mendahului kita. Hal ini justru sangat bermanfaat dan sangat terpuji dalam pandangan syari. Bahkan saling memberikan nasehat dan saling bahu-membahu merupakan salah satu pilar syariat yang harus ditegakkan, namun hal ini bukan berarti kita hanya merasa puas dan bersandar secara mutlak dengan pengamalam mereka tersebut, tanpa berfikir kreatif dan inovatif!

Dan hal inipun bukan berarti bahwa orang-orang awam yang banyak harus menjadi para pemimpin dan pemikir dalam dakwah dan amal Islami! Yang dituntut adalah agar ummat ini jangan sampai tercerai-berai sehingga amanat dakwah dianggap hanya sebagai tanggung jawab orang atau kelompok tertentu, dan mereka sajalah yang harus senantiasa berfikir, menyusun langkah dan strategi serga berkreasi menciptakan inovasi baru dalam dakwah!

Sesuatu yang kreatif dan inovatif tidak akan pernah muncul dalam sehari ataupun semalam. Karena hal ini dihasilkan dari berbagai rangkaian usaha dan uji coba. Oleh karena itu, medan dakwah dan amal Islami adalah media yang paling akurat untuk menimba pengetahuan dan mematangkan pengalaman. Seseorang terkadang harus jatuh-bangun dalam kegagalan, namun di akhir perjalanan diapun akan dapat mengecap kesuksesan, karena belitan kegagalan yang menggelayutinya justru semakin mematangkan pengalamannya serta menggelorahkan semangat dan tekadnya.

Sesungguhnya ketakutan terhadap kegagalan, atau ragu dalam berbuat dapat dipastikan merupakan hasil dari adanya "kesantaian jiwa", atau "kepuasan jiwa terhadap yang lampau". Karena seseorang yang tidak akan pernah berbuat suatu kesalahan hanya seorang mayat yang tidak dapat bergerak kesana-kemari. Keminiman atau bahkan kemunduran tarbiyyah seperti ini justru memiliki peran yang sangat besar dalam mengenggelamkan ambisi (tekad) seseorang, melumpuhkan gerakannya dan menyempitkan akal pikirannya. Maka, hanya institusi tarbiyyah (lembaga, yayayasan atau harakah) yang matanglah yang sanggup untuk membina kepribadian seseorang, menggelorakan semangat dan tekadnya, serta memperluas pengetahuan dan cakrawala berfikirnya.

Dan setelah letupan hatiku dalam menanggapi pertanyaan di awal pembahasan, salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku pada kali yang kedua: "Kami adalah para mahasiswa yang disibukkan oleh berbagai kajian teoritis dan praktis, sehingga otomatis kami tidak memiliki waktu untuk memberikan pemikiran dan pengalaman bagi dakwah atau amal Islami?"

Namun, sesungguhnya hastiku tersa semakin sesak tatkala mendengar pertanyaan yang datar ini! Apakah hanya karena mengejar strata pendidikan tinggi, maka mereka rela meninggalkan gelora perjuangan Islam yang harus mereka tegakkan?

Ingatlah baik-baik, sebuah dakwah tidak akan pernah sukses apabila para pendukungnya adalah orang-orang yang menyibukkan waktu senggangnya hanya untuk memperturutkan hawa nafsunya!

Dan sebuah dakwah tidak akan pernah sukses apabila para pendukungnya adalah hanyalah sekumpulan orang yang lalu-lalang kesana-kemari di waktu pagi maupun petang, tanpa jelas arah tujuannya! Kecuali hanya sekedar menjalankan rutinitas dan menanti perubahan sosial di masyarakat!

Sesungguhnya arti sebuah dakwah dalam pandangan anak generasi yang ikhlash lagi penuh bakti tiada lain adalah cita-cita yang paling tingggi dan aktifitas yang menenteramkan! Maka aktifitas selainnya, hanyalah sekedar penunjang dan harus dikerahkan untuk mendukungnya!

 

 

Renungan Ke - 5

 DA’I  ISLAM

ANTARA MILITANSI DAN KEKERDILAN JIWA

 

 

Berbagai peristiwa di dunia Islam datang silih-berganti, suhu politik terus-menerus mengalami perubahan, dan pertempuran antara Islam dan kekufuranpun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal-ihwal kaum muslimin hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah.

Shahwah Islāmiyyah (kebangkitan Islam) pada masa modern pun mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran ummat secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidak berdayaan dan kelemahan yang dialami pada masa-masa sebelumnya secara berkepanjangan. Dan ummat ini tidak akan sanggup untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan melalui usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan. Akan tetapi semuanya membutuhkan seluruh kemampuan dan upaya yang saling melengkapi lagi saling mendukung. Jika demikian keadaannya, maka amal Islami –dengan karunia Allah- akan dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri dan ketenteraman. Dan meskipun perjalanannya terasa berat karena banyaknya kerikil dan rintangan, akan tetapi suatu hari kelak, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya: "Apakah peran yang harus kupersembahkan dalam meniti perjalanan amal Islami ini?". "Dan apakah yang dapat kupersembahkan untuk agama ini?"

Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton, yang menyaksikan perjalanan shahwah Islāmiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih? Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan Lā Hawla wa Lā Quwwata illa Billah dan Inna Lillahi wa Inna Ilayhi Rāji’ūn, tatkala amal Islami atau gerakan da�wah mengalami musibah yang menyedihkan (atau bahkan sangat menyedihkan)?

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan keteledoran yang sangat menina bobokan, yang menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan daya upayanya (bagi perjuangan da�wah). Dan –alhamdulillah- sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku (statis) dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat kepada ummat ini. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki ini dililit oleh berbagai ketidakberdayaan dan kelemahan. Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih adalah sebagaimana yang digambarkan dalam sya�ir:

يثقلون الأرض من كثرتهم                    ثم لا يغنون في أمر جلل

Jumlah mereka hanyalah sanggup untuk memberatkan bumi

Namun mereka tidak sanggup untuk memperjuangkan sesuatu yang agung

Atau dalam ungkapan lain:

و بعض الرجال نخلة لا جنى لها             و لا ظل إلا أن تعد من النخل

Sebagian lelaki hanyalah bagaikan bongkahan pohon yang tiada berbuah

Dan juga tidak memiliki ranting, kecuali apabila berasal dari benih pohon yang unggul

Sumber daya hakiki yang dimiliki ummat bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung. Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan kehidupannya demi untuk mengayomi dan melindungi da�wah. Dan gambaran keindahan dari tipikal insan yang berdaya guna ini adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah r adalah:

( من خير معاش الناس لهم رجل ممسك عنان فرسه في سبيل الله يطير على متنه، كلما سمع هيعة أو فزعة طار عليه ينبغي القتل أو الموت مظانه )

"Sebaik-baik penghidupan yang diupayakan oleh seorang manusia yang akan memberikan kebaikan baginya adalah keturunan yang berjiwa militan yang senantiasa bersiaga untuk memacu kudanya menuju medan laga di jalan Allah, yang manakala terdengar genderang perang atau gemerincing pedang di mana pilihan saat itu hanyalah membunuh atau terbunuh, maka diapun dengan sigap menyongsongnya" {HR. Muslim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa al-Ribāth (3/1503) No. 1889}

Dia adalah seorang kesatria yang telah menadzarkan dirinya untuk membela Allah I dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya. Renungkanlah bersama sabda Rasulullah r dalam ungkapan "...memacu kudanya...", dan ungkapan"...dengan sigap menyongsongnya".

Saat ini kita berada dalam suatu masa yang masing-masing kita dituntut untuk untuk berfikir "Apakah yang dapat kupersembahkan?", atau bahkan "Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan suatu (perjuangan) melebihi kemampuan yang ada?"!. Hal ini tidak akan mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan tekad dan semangat membara yang dilandasi kejujuran, sehingga dalam berbuat atau berproduksi dia senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya maupun dalam beramal secara kreatif, dan dan tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit lagi minim.

فـكن رجلا رجله في الثـرى        و هـامـة هـمتـه فـي الـثريـا

Jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah

Namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit

Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan (ambisi) kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas. Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena dia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang berulang.

Dan sudah merupakan hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan (ambisi) dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya. Namun dia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi diapun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama. Alangkah indahnya ungkapan Syaykh al-Islam Ibnu Taimiyah yang berkata:

"Orang awam (yang memiliki ambisi dan tekad biasa-biasa saja) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang dianggapnya indah, sedangkan orang khusus (yang memiliki ambisi dan tekad luar biasa) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealiskannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya)" {Dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Madārij al-Sālikīn 3/3 dan 148}

Hūth bin Riāb al-Asadiy berkata:

و مـن يتهيب صعود الجبـال                يـعش أبـد الدهر بـيـن الـحفـر

Barangsiapa yang berhati kerdil tatkala mendaki gunung

Maka dia akan hidup dalam kubangan kekerdilan sepanjang hayatnya

دببت للمجد و الساعون قد بلغوا               جـهد النـفوس و ألقوا دونه الأزرا

فكابروا المجد حنى مل أكثرهم                و عانق المجد من أوفى و من صبرا

لا تـحسب المجد تمر أنت آكله               لـن تـبلغ المجد حنى تلعق صبرا

Kucoba untuk merengkuh kemuliaan

Di saat orang lain tiada berkeinginan menggapainya

Mereka anggap kemuliaan sebagai kehinaan hingga kebanyakan mereka bermalas-malasan

Tiadalah sanggup untuk menggapai kemuliaan, kecuali seseorang yang mau bekerja keras dan mau bersabar

Jangan samakan kemuliaan dengan sebiji korma yang gampang kau telan

Dan tiadalah engkau dapat merengkuh kemuliaan, kecuali dengan membawa sayap kesabaran

Abū al-Qāsim al-Syābiy berkata:

إذا صغرت نفس الفتى كان شوقه              صـغيرا فلم يتعب و لـم يـتجشم

و من كان جبارا المطامع لم يزل             يـلاقي مـن الدنيا ضرارة قـشعم

Tatkala sang pemuda berhati kerdil, maka gelora ambisinyapun

      terasa kerdil, sehingga diapun tidak ingin capai dan tidak mau pernah bersusah-payah

 

Renungan Ke - 4

 RIWAYAT SANG PENGGENGGAM BARA API

 

RENUNGAN KE - 4:

 

 

Saat pertama aku mengenalnya, kudapati jiwanya adalah jiwa yang lain, penuh gelora hidup untuk dapat memberikan andil perjuangan, sigap untuk selalu menyongsong beragam ketaatan, selalu dihinggapi semangat hidup dan semangat juang, serta lebih banyak berbuat namun sedikit bicaranya. Maka pantaslah dia menjadi sang panutan dalam kepribadian dan dalam dakwah. Tatkala diperintahkan untuk berjaga di barisan belakang perjuangan, dengan sigap dia bersegera berbaur ke belakang. Dan tatkala diperintahkan untuk berjaga di front terdepan, maka secepat kilat diapun telah berada di garda terdepan dalam perjuangan.

 

Setelah bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, maka aku menyangka bahwa kepribadiannya pastilah telah berubah oleh berbagai fitnah kehidupan, atau bisa jadi jiwanya semakin lembut, semangatnya semakinn redup, atau paling minimal adalah bahwa perjuangan dan tekadnya mulai luntur. Sesungguhnya Allah  akan senantiasa meneguhkan para wali-Nya yang shalih dengan kekokohan hati dan membantunya untuk dapat mengentaskan berbagai kesulitan dan rintangan. Dan bukankah angin topanpun tidak sanggup untuk menghantam gunung yang tegar ataupun pohon yang kokoh? Dan bukankah Rasulullah  telah bersabda:

 

( مثل المؤمن كمثل الخامة من الزرع: من حيث أتتها الريح كفأتها، فإذا اعتدلت تكفأ بالبلاء )

"Perumpamaan seorang mukmin adalah bagaikan sebuah pohon yang kokoh, yaitu tatkala angin berhembus kencang maka dia berusaha keras menghadangnya agar tetap tegar, dan tatkala angin berhembus sepoi-sepoi, maka diapun tetap dalam ketegarannya" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Mardha Bab Ma Jaa fi Kafarah al-Maradh (10/103) No. 5644}

 

Mungkin saja berbagai fitnah kehidupan sanggup untuk mengikiskan bagian kehidupan duniawinya, baik harta-benda maupun anggota badannya, akan tetapi sesungguhnya apapun yang ada di dunia ini, maka tidak akan sanggup untuk menggoda dan menggelincirkan kaum mukminin. Dan tidak akan pernah sedikitpun sanggup melumpuhkan tekadnya, meskipun hidup dalam deraan derita dan kemiskinan, kesempitan dan penderitaan, karena jiwanya adalah jiwa seorang kesatria pejuang, tekad perjuangannya senantiasa bergelora, dan hatinya senantiasa tunduk patuh kepada Rabbnya dengan penuh sakīnah dan thuma’nīnah.

 

تزول الجبال الراسيات و قلبه                          على العهد لا يلوي و لا يتغير

 

Bisa jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

Tiada pernah akan bergeming dan berubah untuk senantiasa memegang teguh janji setianya

Belum pernahkah kita menyaksikan seorang kesatria pejuang dari generasi pertama yang pada suatu saat ditikam musuh dan bersiap hendak meregang nyawa, namun di detik terakhir tersebut dia masih lantang berseru dengan penuh kemenangan dan senyum: "Demi Allah, hari ini akulah sang pemenang". Dan ternyata kisah heroik ini tidak hanya menjadi milik generasi para shahabat, bahkan dalam setiap generasi kaum muslimin akan senantiasa ada epos kepahlawanan yang mempesona seperti ini, yang memancarkan pesona kebaikan dan keagungan sebagai seorang martir, sehingga kisahnya senantiasa menjadi buah bibir dan keteladanan dalam memegang teguh dan memperjuangkan panji kebenaran.

 

Banyak sekali orang-orang yang sanggup untuk merengkuh kebenaran, namun sangat sedikit sekali di antara mereka yang mampu untuk berkata lantang, tegar dan sabar dalam memperjuangkan kebenaran tersebut. Dan yang sedikit inilah yang sanggup untuk merubah perjalanan sejarah dan mereformasi realita ummat yang menyedihkan.

 

Alangkah menawannya ungkapan al-Rāfi�iy yang berkata:

"Hanya bimbingan pahlawan berpengalaman yang berhati kesatrialah yang sanggup untuk menggelorakan keberanian para pemuda, dan hal ini tidak akan dapat terjadi kecuali melalui pembinaan yang ditujukan untuk memupuk keperwiraan ummat" {Majallah al-Risalah vol. 94, Muharram 1354}

 

Kalau kita renungkan dengan seksama tentang hal-ihwal dan kondisi kaum muslimin, tentunya kita akan mendapati bahwa kebanyakan mereka secara umum adalah orang-orang yang tidak memiliki andil untuk menyebarkan dakwah dan mengangkat panji perjuangannya. Tekad mereka nyaris tiada berdetak, dan bahkan tidak pernah memberikan perhatian sedikitpun. Perasaan mereka tidak tersentuh sedikitpun tatkala menyaksikan kehormatan agama diinjak-injak dan dinodai para durjana. Dada mereka tidak pernah merasa sesak tatkala panji tauhid dicabik-cabik. Karena ambisi mereka hanyalah kehidupan dunia yang bersifat fatamorgana lagi fana. Di belahan dunia yang lain, kitapun melihat sekelompok kesatria yang dengan sigap mengangkat panji tauhid dengan penuh keyakinan dan kemantapan ilmu. Mereka siap mengorbankan harta, keluarga dan bahkan jiwa mereka sendiri demi tegaknya panji tauhid. Cacian dan celaan yang menghujani mereka tiada sedikitpun menyurutkan langkah. Kita jumpai mereka senantiasa ruku’ dan sujud seraya berharap akan karunia dan keridhaan Allah. Itulah sekelompok insan yang telah mengenggam kedudukan agung, sedangkan selain mereka hanyalah beroleh "kedudukan sisa". Salah satu hikmah Allah  yang pasti adalah bahwa sarana yang dapat menghantarkan kepada kedudukan tersebut merupakan jalan terjal yang teramat sulit. Karena kalau seandainya jalannya mudah, tentulah akan banyak insan-insan lain yang sanggup menjadi para prajuritnya, bahkan mungkin secara berbondong-bondong. Maha benarlah Allah yang telah berfirman:

 

} لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَ سَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَ لَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَ سَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَ اللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ {

 

"Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samam". Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta" {QS. al-Tawbah (9): 42}

 

Renungan Ke - 3:

SIAPAKAH YANG BERSEDIA  MENGEMBAN PANJI TAUHID INI?

 

Tatkala menyaksikan realita penuh nestapa lagi memilukan yang menimpa sebagian kaum muslimin, tentunya hati seorang mukmin akan merasakan suatu kepedihan dan keputus-asaan.

 

Bahkan hatinya akan semakin pilu manakala dia menyaksikan bahwa ternyata mereka adalah sekelompok pribadi yang mudah sekali diombang-ambingkan oleh perbuatan bid’ah dan syirik.

 

Yang mereka perbuat hanyalah mengumandangkan wirid-wirid bid’ah dan senandung puja-puji syirik sambil melenggak-lenggokkan kepala, terlebih lagi apabila diiringi gemerincing rebana, mereka tatkala memperingati malam-malam maulid.

 

Ternyata, hal ini dikerjakan secara komunal dan berjama’ah, sehingga gemanya saling bersahutan, bagaikan air bah yang menerjang deras. Mereka keramatkan kuburan-kuburan dan beristighātsah kepadanya, mengusap wajah-wajah mereka dengan tanahnya sambil berguling-guling dan memegang tirai atau kelambu kuburan tersebut. Bahkan terdengar pula teriakan nyaring saling bersahutan yang meluncur deras lagi keras dari mulut mereka, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu teriakan kotor: “Wahai fulan, berilah kami pertolongan…Wahai fulan, berilah kami rezeki…”!!!

 

Terkadang di antara mereka ada yang sampai harus menempuh perrjalanan jauh selama berhari-hari dan dengan menahan rasa penat yang tidak sedikit, tiada lain hanya untuk menepati nadzar mereka untuk menyembelih hewan di hadapan suatu kuburan keramat, seraya berharap mendapatkan pahala dan berkah, serta berharap memperoleh bantuan dan pertolongan.

 

Subhānallah!...Sampai begini parahkah gambaran Islam yang ada dalam benak orang-orang sesat tersebut? Sesungguhny hal inil merupakan salah satu hasil penjajahan (atau bualan) yang dilakukan oleh kaum Darwisy (pemuka Sufi) dengan beragam kesyirikan yang mereka jajakan sebagai barang dagangan yang ditujukan kepada mayoritas kaum muslimin. Dan betapa mengenaskannya kenyataan ini apabila kita analogikan dengan gambaran kehidupan jahiliyyah pada generasi sebelumnya.

 

Maka, bagaimana mungkin kita dapat merasakan nikmatnya makan dan minum, sementara kita masih terus menyaksikan khurafat ini banyak dipamerkan oleh kebanyakan kaum muslimin yang awam?

 

Dan masih mungkinkah bagi kita untuk merasakan kenikmatan hidup, sementara kesesatan ini masih terus menghinggapi hati-hati mereka, yang merupakan wujud persekongkolan jahat kaum Darwisy, para ahli khurafat dan para durjana penyebar kerusakan?

 

Sesungguhnya kaum muslimin (saudara kita) yang banyak terjatuh dalam perbuatan ini adalah amanat (dakwah) yang diembankan kepada kita, maka di manakah para ulama …serta di manakah para dai dan reformis dawah, baik di bumi belahan barat maupun belahan timur?

 

Apa sajakah yang telah kita korbankan untuk memaparkan dan menjelaskan secara gamblang misi utama agama ini, yaitu menegakkan panji tauhid dan syahadat?

 

Sesungguhnya panji tauhid adalah panji utama yang diperjuangkan oleh para nabi, sebagaimana Allah I berfirman:

 

} وَ مَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" {QS. al-Anbiya (21): 25}

 

Dan panji ini merupakan wasiat yang diestafetkan Rasulullah r kepada Muadz bin Jabal ketika diutus menjadi duta dawah ke Yaman, yaitu untuk memulai dakwahnya dari perkara yang paling penting hingga yang penting berikutnya, di mana beliau bersabda:

 

( إنك ستأتي قوما من أهل الكتاب، فإذا جئتهم فادعهم إلى أن يشهدوا أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله، فإن هم أطاعوك لك بذلك فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم خمس صلوات في كل يوم و ليلة... )

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, oleh karena itu ketika engkau berada di hadapan mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi dengan Lā Ilāha Illallah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah. Dan apabila mereka menyambut ajakanmu tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka tentang perintah Allah, yaitu kewajiban mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari-semalam…" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Zakah Bab Wujub al-Zakah (3/261) No. 1395, dan Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab al-Dua ila al-Syahadatayn (1/50) No. 19}

 

 

Dan bahkan meskipun di saat sedang meregang nyawa menghadapi sakaratul maut, beliau tetap mengobarkan panji tauhid tersebut, yaitu dengan memperingatkan ummatnya tentang bahaya perbuatan syirik, di mana beliau bersabda:

 

( لعنة الله على اليهود و النصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد )

"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabinya sebagai masjid (keramaian, tempat ibadah atau wisata religius)" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi Bab Maradh al-Nabiy  (8/140) No. 4445, dan Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi al-Shalah Bab al-Nahyi  an Binai al-Masajid  ala al-Qubur (1/377) No. 531}

 

Alangkah berharapnya ummat ini terhadap wasiat seperti ini? Dan alangkah berharapnya ummat ini untuk dapat memegang teguh wasiat ini dengan seoptimal mungkin? Hal ini tiada lain dikarenakan keuniversalan dan keagungan misi tauhid merupakan titik tolak utama dari perjalanan sebuah dawah, dan merupakan tanggung jawab dawah paling asasi yang harus diberikan porsi yang sangat memadai.

 

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berduka cita dengan sangat mendalam, manakala dia merasakan bahwa misi utama kehidupannya hanyalah menyibukkan diri dari hal yang kurang utama, atau bahkan malahan dengan melalaikan hal yang utama, atau ketika hidupnya hanya berputar dari satu logika filsafat mantiq menuju logika lainnya, dan bahkan dengan melalaikan misi tauhid!

 

Sebaliknya, terkadang kitapun menjumpai sekelompok dai yang memiliki kesensitifan dawah dan kesungguhan untuk mengemban misi tauhid, namun mereka melakukan beberapa kesalahan, yaitu keinginan meniti jalan tauhid namun dengan membuat orang lain berpaling dan lari dari dakwahnya tersebut. Maka. alangkah nikmatnya apabila kita dapat menyandingkan dua hal yang berbeda sebagaimana gambaran tersebut di atas, yaitu meniti kemurnian manhaj (berupa misi tauhid) dan memiliki kecakapan dalam mempergunakan sarana (dengan tidak membuat orang lain berpaling)! Lalu, siapakah yang bersedia mengemban misi tauhid ini???

 

 

Renungan Ke - 2:

Renungan Ke - 2:

 

SEJENAK BERMUHASABAH !!!

 

Allah I berfirman:

} اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَ قُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ... {

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur�an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…" {QS. al-Zumar (39): 23}

 

Itulah salah satu kedudukan agung yang dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu kedudukan yang akan meninggikan dan melambungkan jiwanya meninggalkan syahwat kemanusiaannya. Yaitu seseorang menghadap langsung menemui Rabbnya dengan mentadabburi ayat-ayat-Nya, dengan penuh ketenteraman dan penghormatan, sehingga ayat-ayat tersebut memenuhi relung-relung hati dan rongga-rongga persendiannya, menundukkan kepala dan menyungkurkan wajahnya ke permukaan tanah tepekur dalam ibadah dan sujud, seraya bermunājāt kepada-Nya dengan penuh ketundukan dalam memohon pertolongan-Nya dan mengalirkan air matanya sebagai bentuk taubat dan penyesalan.

 

Dan tatkala dia membaca salah satu ayat al-Qur’an, maka ayat tersebut sanggup menggetarkan hatinya, menyucikan jiwanya, merubah tabiat dan perangainya, serta mendorongnya untuk berkesinambungan dalam taat dan senantiasa siap menyongsong perintah-Nya.

Allah  berfirman:

 

} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَ جِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal" {QS. al-Anfāl (8): 2)}

 

Maka, meskipun syahwat dan fitnah dengan beragam tipu-daya dan jerat menyerangnya, semuanya tidak akan sanggup melumpuhkannya, bahkan satu-persatu bertekuk lutut di bawah telapak kakinya, dan dalam tatapan tajam sorot matanya yang penuh ketinggian jiwa dan ketegaran hati. Bahkan dia palingkan mukanya tanpa menengok sedikitpun seraya terus membasahi lisannya dengan puja-puji kepada-Nya. Inilah buah munājātnya kepada Rabbnya, yang sanggup menumbuhkan kekuatan dan tekad yang membara. Hatinya adalah hati yang bersinar putih kemilau, tiada satu fitnahpun yang sanggup mengeruhkannya, saat dia menjalani roda kehidupannya.

 

Rasulullah bersabda:

( سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله، -ذكر منهم- و رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه من الدمع )

"Ada tujuh orang atau golongan yang akan memperoleh naungan Allah pada saat dimana tidak ada naungan yang dapat dijadikan tempat berteduh, -di antaranya- adalah seseorang yang berdzikir kepada Allah di keheningan malam dengan berurai air mata" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Adzan Bab Man Jalasa Yantazhiru al-Shalah (2/715) No. 660, dan Muslim dalam Kitāb al-Zakah Bab Fadhl Ikhfa al-Shadaqah (2/715) No. 1031}

 

( عينان لا تمسهم النار: عين بكت من خشية الله، و عين باتت تحرس في سبيل الله )

"Ada dua mata (orang) yang tidak akan pernah terjilat oleh api neraka, yaitu mata seseorang yang berurai air mata karena takut kepada Allah, dan mata seseorang yang dipergunakan untuk berjaga malam saat berjuang di jalan Allah" {HR. al-Tirmidzi dalam Kitab Fadhail al-Jihad Bab Ma Jaa fi Fadhl al-Haras (4/175) No. 1639}

 

Subhānallah! Alangkah tinggi kedudukannya! Alangkah mulia sifatnya! Dan ternyata, hal ini tiada lain merupakan wujud kedalaman iman dan kesucian hatinya!

 

Sesungguhnya kesensitifan dan ketenteraman hati, serta ketundukan dan pengagungan hanya kepada Rabbnya merupakan kedudukan tertinggi yang dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yang tidak akan pernah terpengaruh oleh kepedihan dan kekerdilan jiwa orang-orang bodoh lagi berjiwa kerdil.

 

Dan dengan kondisi hati yang jujur, membara dan disinari cahaya ilmu dan iman sebagaimana gambaran di atas, para shahabatpun sanggup memporak-porandakan benteng yang kokoh, maju bertempur dengan gagah berani tanpa gentar, menaklukan penjuru dunia, dan meninggikan panji tauhid, hingga singgasana Kisra dan Qaisharpun berada dalam genggaman tangan mereka.

 

Alangkah berharapnya ummat ini akan munculnya seorang ‘alim Rabbani, yaitu seorang ‘alim yang ketika mendengar satu ayat al-Qur’an, maka hatinya tergetar, kedua matanya berurai air mata, merenungi kandungannya dan dia pegang teguh segala konsekuensinya. Bukan sebaliknya, dia biarkan ayat tersebut berlalu begitu saja karena ingin mendengar ayat yang lainnya, baik karena hawa nafsu pribadinya atau karena ketidak-teguhannya.

 

Dan alangkah berharapnya ummat ini akan munculnya seorang da’i yang bekerja keras dalam mendidik, menyampaikan da’wah dan dalam mentarbiyyah. Sampai-sampai, meskipun malam mulai merayap dan mata mulai meredup, namun dia tetap bersemangat dalam bermunājāt kepada-Nya, tafakkur menghadap-Nya seraya menengadahkan tangan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya, serta memohon kepada-Nya akan datangnya pertolongan dan kemenangan, tentunya dengan diiringi derai air mata dan rintihan permohonan.

 

Dan alangkah berharapnya kita semua untuk dapat menitikkan air mata kejujuran yang dilandasi oleh kejujuran iman dan keteguhan iman, serta dilandasi keagungan jiwa untuk mengalahkan hawa nafsu. Hanya kepada Allah  saja kita mengaduhkan segala kelemahan, kekerdilan jiwa dan kekotoran hati kita, karena sesungguhnya:

 

إذا قسا القلب قحطت العين

“Apabila hati telah keruh, maka air matapun menjadi kering (hingga tidak bisa menangis)" {Renungan dari Ibnu al-Qayyim dalam al-Fawaid hal. 111}

Rasulullah bersabda:

} لو تعلمون ما أعلم: لبكيتم كثيرا، و لضحكتم قليلا {

"Apabila kalian memahami apa yang telah kupahami (dengan pasti), niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit sekali untuk tertawa" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Raqaiq Bab Law Talamuna Ma Alamu (11/319) No. 6485}

 

 

Renungan Ke - 1

 RENUNGAN KE - 1 

LEZATNYA SEBUAH MUNAJAT

Salah satu faktor utama yang dapat mendatangkan ketenteraman dan ketenangan hati adalah merasa nyaman tatkala bermunājāt kepada Allah serta merasa lezat tatkala berdzikir dan memuji-Nya.

Allah berfirman:

} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ {

 

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" {QS. al-Rad (13): 28}

 

Maka tatkala kelopak mata telah meredup (menahan kantuk) dan jiwa telah terlelap (dalam tidur), serta kegelapan malam mulai membuncah, saat itulah sesosok insan malah asyik berdzikir kepada Allah dengan menitikkan air mata, menampakkan segala hajat-kebutuhan hanya kepada Penciptanya, mengakui segala kekurangan dan kelemahan diri, tiada henti memuji bahkan terkadang sambil merengek, bertasbih dan bertahlil kepada-Nya, serta menengadahkan tangan mungilnya dengan hati yang tepekur untuk memohon dan mengharap pertolongan hanya kepada-Nya semata:

 

} أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَ قَآئِمًا يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ وَ يَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِ... {

 

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya…" {QS. al-Zumar (9): 9}

 

} تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَ طَمَعًا... {

 

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap…" {QS. al-Sajdah (32): 16}

 

Itulah yang dimaksud dengan lezatnya bermunājāt, yaitu berkeluh-kesah dan memohon hanya kepada Allah. Suatu bentuk kelezatan yang lebih menggiurkan daripada kelezatan dunia yang fana, sekalipun yang dianggap paling lezat. Yaitu kelezatan yang sanggup menenteramkan jasmani dan rohani. Suatu kelezatan yang tidak akan dapat digapai kecuali oleh orang-orang yang telah merasakan lezatnya keimanan, manisnya berinteraksi dengan al-Qur’an dan sejuknya sebuah keyakinan. Dan benarlah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

( مثل الذي يذكر ربه و الذي لا يذكر ربه مثل الحي و الميت )

 

"Perumpamaan antara seseorang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan yang tidak berdzikir adalah ibarat seseorang yang masih hidup dengan yang telah menjadi mayit" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Daawat Bab Fadhl Dzikri Allah (11/208) No. 6407}

 

Marilah sejenak kita renungkan kisah Nabi Musa yang telah mengalami penatnya sebuah perjalanan sehingga menuntunnya untuk berteduh dalam kerindangan sebuah pohon, dan dari lubuk hatinya yang paling dalam beliaupun menumpahkan keluh-kesahnya sebagai seorang buruh kepada majikannya, yaitu Allah, seraya berkata:

 

} فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ {

 

"Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku" {QS. al-Qashash (28): 24}

 

Dan renungkan pula ungkapan puja-puji dan munājāt Rasulullah kepada Rabbnya, niscaya akan kita temukan sebuah ungkapan penghambaan, penyerahan diri dan ketundukan secara total kepada Allah. Dan di dalamnya kitapun dapat menemukan sebuah ratapan memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya. Bahkan tidak hanya sebatas itu, sampai-sampai beliaupun rela menyungkurkan wajahnya ke permukaan tanah (lantai) serta berdiri (lama) seraya membaca al-Qur’an dan bersujud hingga bengkak kedua kakinya, meleleh air matanya dan bergemuruh dadanya bagaikan gemuruh sebuah periuk yang sedang mendidih. Itupun masih diiringi dengan istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 100 kali dalam sehari, dan dalam doanya yang harum-semerbak, beliau lirih berdoa:

 

( اللهم اغفرلي خطيئتي و جهلي، و إسرافي في أمري، و ما أنت أعلم به مني. اللهم اغفر لي جدي و هزلي، و خطئي و عمدي، و كل ذلك عندي. اللهم اغفر لي ما قدمت و ما أخرت، و ما أسررت و ما أعلنت، و ما أنت أعلم به مني. أنت المقدم و أنت المؤخر، و أنت على كل شيء قدير )

 

"Ya Allah, ampunilah segala kesalahan, kebodohan dan kelalaianku dalam mengerjakan urusanku, serta segala kesalahan lainnya yang hnya Engkaulah yang lebih mengetahuinya bahkan dibandingkan diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baik tatkala sungguh-sungguh maupun bercanda, tatkala sengaja maupun tidak sengaja. Ya Allah, ampunilah segala kesalahanku, yang telah lalu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan ataupun kutampakkan serta segala kesalahan lainnya yang hanya Engkaulah yang lebih mengetahuinya bahkan dibandingkan diriku sendiri. Engkau adalah Dzat Yang Maha Awal lagi Maha Akhir, dan Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Daawat Bāb َََََQawl al-Nabiy r "Allāhumma Ighfir li Ma Qaddamtu wa Ma Akhkhartu" (11/196) No. 6398-6399, dan Muslim dalam Kitab al-Dzikr wa al-Dua Bab al-Taawwudz min Syarri Ma Amila (4/2087) No. 2719, dan lafazh ini adalah berdasarkan riwayatnya}

 

Itulah bukti dan manifestasi nyata dari sebuah ketundukan, kepatuhan dan sikap bergantung hanya kepada Allah, sehingga siapa saja yang dapat merealisasikanya, maka dia tidak akan pernah berbangga dan silau dengan berbagai amal perbuatannya. Sebaliknya, dia akan selalu tunduk patuh kepada Rabbnya, memohon keteguhan dan ketetapan hati kepada-Nya, dan senantiasa bermunājāt kepada-Nya seraya lirih berdoa:

 

( اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك )

"Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu" {HR. Muslim dalam Kitāb al-Qadr Bab Tashrīf Allah al-Quluba Kayfa Syaa (4/2045) No. 2654}

 

Seorang hamba akan merasa nyaman ketika hanya berhadapan dengan Rabbnya, sehingga lisannya senantiasa basah dengan dzikir dan bacaan al-Qur’an. Dia tidak akan pernah menengok terhadap urusan duniawi, dengan segala duka, kepedihan dan mara-bahanya yang datang silih-berganti. Maka diapun akan sanggup melalui kehidupannya dengan penuh ketenangan, ketenteraman dan kemantapan hati.

 

Doa merupakan manifestasi utama dari sebuah ibadah, karena merupakan bentuk hubungan langsung antara seorang hamba dengan Penciptanya. Di dalam doa, kita menemukan sebuah totalitas ketundukan seorang hamba kepada Rabbnya, siap menunggu di pintu-Nya dengan penuh kepasrahan, serta memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya semata. Oleh karena itu, hamba yang sangat dicintai Allah I adalah seorang hamba yang senantiasa berdoa dengan tekun kepada-Nya.

Rasulullah  bersabda:

( من لم يسأل الله يغضب عليه )

"Barangsiapa yang enggan berdoa atau meminta kepada Allah, maka Dia pun marah kepadanya" {HR. Ahmad (2/442), al-Tirmidzi dalam Kitab al-Daawat Bab Fadhl al-Dua(5/1258) No. 3827}

 

Maka, untaian dan rangkaian doa yang berkesinambungan dari seorang mukmin yang tulus merupakan anugerah kehidupan yang paling agung, yang akan memberikan semangat kuat bagi hatinya serta yang akan mendorongnya untuk beramal dengan maksimal dan mengerahkan segenap kemampuannya dengan penuh kejujuran dan tulus ikhlas. Dalam kondisi seperti ini, dia adalah sosok prajurit yang tak terkalahkan, atau sebuah senjata yang tak tertandingi.