

Risalah Untuk Saudariku Terkasih, Urgensi Menuntut Ilmu
Wahai ukhti muslimah…..
Saya akan kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din, akan tetapi pada kenyataannya banyak wanita yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, bahkan meninggalkannya (berpaling darinya). Telah menjadi keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalil Al-Qur’an, disertai ta’liq sederhana.
Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan.
"Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali-Imran :18]
Berkata Imam Al Qurtubi rahimahullah dalam tafsirnya :
"Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemuliaan ilmu."
"Artinya : Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." [Thaha :114]
Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan sesuatu itu, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan ilmu. [Tafsir Al-Qurthubi hal. 1283]
"Artinya : Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" [Az-Zumar : 9]
Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata :
"Menurut Az-Zujaj Radhiyallahu ‘anhu, maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui" [Tafsir Al-Qurthubi hal. 5684]
"Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [Al-Mujaadilah : 11]
Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata,
"Maksud ayat di atas yaitu, dalam hal pahala di akhirat dan kemuliaan di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan orang beriman dan berilmu di atas orang yang tidak berilmu. Kata Ibnu Mas`ud, dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para ulama. Dan makna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, adalah derajat dalam hal agama, apabila mereka melakukan perintah- perintah Allah" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]
"Artinya : Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." [Al- Fathirv: 28]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"Maksud ayat di atas adalah, orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar hanyalah ulama yang mengenal-Nya, karena semakin mengenal Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui,Yang memiliki sifat kesempurnaan dan kebaikan, maka pengenalan, pengetahuan, dan ketakutan terhadap-Nya akan semakin sempurna" [Tafsir Ibnu Katsir 3/163]
"Artinya : Sesungguhnya al-Quran adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi. Dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dholim." [Al-Ankabut : 49]
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang ayat di atas.
"Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung ahli ilmu, memuji dan memuliakan mereka dengan menjadikan kitab-Nya sebagai ayat-ayat yang nyata/jelas dalam dada mereka. Ini merupakan kekhususan dan kebaikan bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya." [Miftah Daari As-Sa’adah hal. 1/50]
Dan kata Imam Al Qurtubi rahimahullah.
"Maksud ayat tersebut adalah, Al Qur`an bukanlah sihir atau syair, seperti yang dikatakan oleh orang-orang batil. Akan tetapi Al Qur`an adalah tanda dan dalil Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al Qur`an agama dan segala hukum-Nya dapat diketahui. Seperti itulah al-Qur`an di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu. Mereka adalah para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan orang-orang yang beriman kepadanya. Mereka berilmu, mampu memahami dan membedakan antara kalamullah, perkataan manusia dan ucapan-ucapan setan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]
"Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [At-Taubah : 122]
Imam Al-Qurtubi rahimahullah berkata.
"Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan perang semua, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak, sehingga mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka, setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka. Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah. Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib `ain" [Tafsir Al-Qurtubi hal.3132]
“Artinya : Dan katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". [Thaha :114]
Berkata Ibnu `Uyainah rahimahullah.
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa bertambah ilmunya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau" [Tafsir Ibnu Katsir 3/167]
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah.
"Dengan hal ini cukuplah merupakan kemuliaan bagi ilmu, yaitu bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan berupa ilmu" [Miftah Daari As-Sa’adah]
"Artinya : Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." [Al-An`am : 83]
Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata.
"Firman Allah, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat yaitu dengan ilmu, kepahaman dan imamah (kepemimpinan) serta kekuasaan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 2466]
"Artinya : Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." [An Nisaa` : 113]
Berkata Ibnul Qoyyimrahimahullah tentang ayat di atas,
"Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kenikmatan-kenikmatan dan karunia-Nya kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kenikmatan dan karunia-Nya yang paling agung adalah memberinya Al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang belum diketahuinya."[Miftah Daari As-Sa’adah 1/52]
Demikianlah Ukhti Muslimah
Semoga pemaparan saya kali ini bermanfaat bagi ukhti semuanya. Harapan saya semoga kita masih mendapat kesempatan untuk meniti ilmu-Nya yang maha luas. Amin
[Diterjemahkan oleh Salamah Ummu Ismail, dari Kitab Al-Kalimatun Nafi’at Lil Akhwatil Muslimah hal. 23-28]
Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?
Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.
Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.
Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.
Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.
Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hati para pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.
Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”
Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.
Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.
Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”
Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.
Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.
Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.
Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.
Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.
Dikutip dari kitab Tafsir Surah Mu’awadzatain, Surat Al-Falaq dan An-Naas Melindungi dari Kejahatan Jin dan Manusia, Imam Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah, Akbar,2002
(read more ...)Des
26
Saudariku yang berbahagia, perlu keberanian diri untuk mencoba mengatakan sesuatu yang selama ini menjadi ganjalan hati ini. Dan saya bukanlah orang yang pandai berbicara atau merangkai tulisan dengan kata-kata, namun di kesempatan yang berharga ini saya paksakan lisan saya tuk bicara, saya jalankan jari-jemari saya untuk menuliskan kata-kata yang hanya khusus untukmu…..bukan untuk yang lain….
Saudariku..Ada baiknya bila engkau menengok sejenak ke belakang, Saat engkau masih dalam pangkuan ibu tersayang, saat itu engkau hanyalah seorang bayi yang tak punya kelapangan. Saat itu engkau belum mampu melakukan apa-apa, sehingga hanya untuk menarik perhatian saja , yang dapat engkau lakukan hanyalah menangis ditengah malam hingga membangunkan semua orang.
Kemudian, engkau tumbuh melangkah ke depan menjadi sosok gadis kecil yang selalu bermanja di pangkuan Bunda. Dan waktu terus berjalan…..sehingga kini engkau telah menginjak remaja. Engkau menjadi semakin besar, pintar, dan makin banyak pengalaman hidup yang telah engkau miliki.
Saudariku yang berbahagia.., sekarang semakin hari kita tumbuh semakin tinggi, bukan hanya tinggi badan kita, namun juga ketinggian pola berpikir kita. Kita bukan kanak-kanak lagi yang harus disuruh begini begitu. Kini kita sudah besar, sehingga banyak yang harus kita siapkan agar makin dewasa untuk menentukan sendiri jalan hidup kita nanti.
Wahai saudariku muslimah….. Hari demi hari telah kita lalui.Telah banyak perubahan yang terjadi. Satu hal yang menjadi pertanyaan untukmu…bila saja kau pandangi dirimu pada cermin indah dalam kamarmu, apa yang engkau lihat disana? Apakah sesosok gadis remaja yang sudah cukup matang yang sedang mengarungi hidup ataukah sosok gadis yang masih menjalani proses perubahan membentuk diri? Mungkin, engkau akan menjawab kedua-duanya…atau mungkin hanya salah satu jawaban…
Itulah dirimu yang dulu terlahir dari rahim Bunda, setelah malaikat meniup ruh dan menulis catatan tentangmu ketika engkau masih menjadi janin usia 4 bulan. Dan sekarang, engkau semakin beranjak dewasa, dan banyak waktu telah yang engkau lalui.. lalu ada satu hal lain yang ingin perlu ditanyakan, “Apakah saat ini engkau telah mengenal dirimu sendiri, wahai saudariku tercinta? Ingat jawaban ini, Bukan sekedar mengiyakan bahwa sosok bayangan yang ada di depan cermin itu adalah dirimu? ” Jawablah saudariku, tak usah engkau malu-malu…..karena ini penting. Ini penting sekali sebagai bekal hidupmu kelak, karena seperti yang kita sama-sama mengerti, sekarang ini kita sedang dalam proses mendewasakan diri…dan itu butuh bekal agar kita tidak salah arah.
Saudariku….. Ketahuilah oleh dirimu, bahwa sosok yang ada dalam cermin itu adalah seorang manusia, seorang hamba yang telah banyak diberi karunia oleh Allah….karena memang Allah yang menciptakan dirimu… Allah yang memenuhi kebutuhanmu, dan Allah pula yang telah mengatur semuanya sehingga engkau tumbuh menjadi dewasa. Hanya Dia, Saudariku muslimah….Ditangan-Nyalah diatur segala urusan, termasuk urusan langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan kita manusia…. Allah di atas langit pula yang telah menentukan bahwa engkau tercipta sebagai wanita, sebagai muslimah…Dan lihatlah, betapa tingginya Allah memberi kedudukan kepada kita, sampai-sampai dalam kita suci kita, Al-Quran, Allah membuat surat khusus bernama “An-Nisa” yang artinya perempuan.
Wahai Saudariku muslimah, engkau masih ingat nama surat itu bukan ? Ini adalah satu diantara sekian tanda bahwa Allah memuliakan kedudukan wanita. Kelak Insya Allah, dari rahim kita lah akan lahir ummat Islam yang banyak, sehingga di hari Akhir nanti, Nabi kita, Nabi Muhammad Shollallaahu’alayhi wa sallam akan mengatakah dengan bangga atas jumlah ummat yang banyak. Bahkan, tentang kodrat wanita, Rasulullah pun bersabda,
“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.
Hadits ini disampaikan oleh Imam Muslim, dan memang benar dan shahih bahwa ini perkataan Rasul. Engkau kini yakin bukan bahwa Allah dan Rasul-Nya amat menjunjung martabat kita?
Saudariku muslimah yang berbahagia… aku mengajakmu…Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah memilihmu untuk hadir kedunia ini dengan hikmah penciptaan yang agung ; bukan sembarangan, karena Allah Maha Kuasa mencipta apapun yang dikehendaki-Nya, sehingga mustahil bagi Allah untuk sembarangan dalam berbuat, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya.
Dan sekarang, cobalah pikirkan lebih dalam… Sampai detik ini, telah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah kepada kita sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu memang karena kebaikan Allah semata, bukan dari yang lain. Allah yang berkuasa berbuat kebaikan, Allah memberi nikmat sehat, ketenangan hati, teman sepergaulan yang baik, ini….itu…., tentu amat sangat banyak, sehingga aku tidak mampu menuliskan semuanya untukmu, karena aku yakin Allah selalu berbuat kebaikan kepada kita semua. Engkau ingat bukan……tempo hari kakimu tidak tergores meski berjalan di atas batu-batu. Itu adalah nikmat Allah yang mungkin terasa kecil bagi kita. Sedangkan nimat yang besar, dan yang paling besar yang mungkin kurang terpikirkan oleh kita…..adalah nikmat iman. Dengan nikmat dari Allah yang satu ini, kita bisa dengan bangga menyandang predikat muslimah.
Sungguh Saudariku muslimah……..tidak banyak wanita-wanita di dunia ini yang bisa dipanggil muslimah. Tengoklah ke negara-negara yang penduduknya tidak mengenal Allah sama sekali, atau mengenal Allah dengan hanya menyebut nama-Nya ketika sedang susah tertimpa bencana, atau bahkan mereka yang malah menyekutukan Allah dengan memohon bantuan kepada selain Dia. Dan tentunya engkau mengetahui keadaan mereka, bukan?
Semoga Allah melindungi kita supaya tidak termasuk golongan mereka. Amin.
Wahai Saudariku muslimah….. kenapa lisan kita selalu terasa berat untuk berucap syukur, memuji Alloh atas nikmat ini…bukankah semakin kita mempelajari nikmat Allah dan meyakini betapa Allah Maha Mengetahui atas jiwa-jiwa ini, kita akan bisa semakin memahami hikmah mengapa aku dan kau diciptakan, dan mengapa pula kita semua harus beribadah hanya kepada-Nya…..
Ya, benar….hanya kepada-Nya, karena memang Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah. Lain tidak, karena selain Dia hanyalah ciptaan-Nya. Sehingga kita tidak boleh menduakan-Nya dengan apapun atau siapapun. Bagaimana, Saudariku muslimah ? Engkau memahami hal ini, ‘kan? Aku berharap demikian, karena bagiku, tidak ada yang lebih kuinginkan darimu, kecuali kebaikan untukmu di dunia dan akhiratmu kelak.
Saudariku muslimah, semoga apa yang kuungkapkan ini adalah sebuah nasehat yang tulus, sebuah nasehat bagiku dan bagimu, bagi kita semua agar kita bisa menemukan sosok dewasa cermin indah itu…. karena suatu hari nanti, kita pasti dan harus lebih dewasa daripada hari ini. Dan sebaiknya memang begitu, seiring usia yang bertambah, kita mejadi lebih mengenal akan diri kita yang sebenarnya dan lebih mengerti hak-hak Allah atas diri kita.
Semoga Allah mengasihi diriku, dirimu, keluarga kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga kita selalu mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita….Amin.
Sep
12
Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.
“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah mukhlishiina lahudiini hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta. Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu. Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah. Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja. Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara. Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan.
Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.
Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.
Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.
Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.
Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.
Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.
Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…
Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.
Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak anugerah Allah yang terindah ini.
Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang back street tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.
Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa diikhtiarkan maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:
Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.
Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.
Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.
Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.
Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.
Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan. Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.
Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada Sang Pemilik Cinta. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.
Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.
Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.
Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.
Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.
Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.
Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:
Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.
Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, Di mana engkau berada?
Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:
Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,
wahai kekasih…
Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu! Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya
Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku jawab si gadis kekasihnya itu.
Bilakah aku dapat melihatmu kembali? Tanya si pemuda menegaskan
Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari, Jawab kekasihnya.
Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.
Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS. Ar-Ruum : 21).
(read more ...)
Jul
20
KU NASEHATKAN UNTUKMU
Akhirnya, saya persembahkan 11 nasehat yang
berharga ini kepadamu, wahai Ukhti Al Muslimah.
Kerjakanlah, Insya Allah engkau akan berbahagia di
dunia dan akhirat, minta tolonglah kepada Allah
dalam mengamalkannya, kemudian dengan membaca
dan memahami isi tulisan ini.
1-Beribadahlah kepada Allah semata, sesuai dengan
apa yang telah diisyaratkan, di dalam Al Qur’an dan Al
hadits.
2-Hati-hatilah terhadap syirik dalam aqidah dan
ibadah, sebab syirik menggugurkan amal dan
menyebabkan kerugian.
3-Hati-hatilah terhadap bid’ah, baik dalam aqidah
maupun dalam ibadah, sebab setiap bid’ah adalah
sesat dan orang-orang yang sesat adalah (tempatnya)
di dalam neraka.
4-Jagalah shalatmu dengan sempurna, sebab orang
yang selalu menjaga shalatnya, ia akan lebih menjaga
dalam hal lainnya, dan orang yang meremehkan
shalat, ia akan meremehkan hal lainnya juga.
Jagalah kesucian, thuma’ninah, I’tidal, serta khusyu
dalam shalat, janganlah sampai engkau mengakhirkan
waktunya, sebab seorang hamba bila shalatnya baik,
maka seluruh amal perbuatannya baik, sebaliknya bila
shalatnya rusak (tidak baik) maka amal perbuatannya
juga rusak (tidak baik).
5-Taatilah suamimu, jika engkau sudah berumah
tangga, jangan sekali-kali engkau menolak
keinginannya, dan melanggar perintahnya, selama
tidak menyuruh berbuat maksiat dan dosa.
6-Jagalah suamimu jika dia tidak ada bersamamu
dan ketika ia berada disisimu. Jagalah dirimu dan
hartanya.
7-Berbuat baiklah kepada tetanggamu dengan
perkataan dan perbuatan sebagai balas budi dan
menolak keburukan.
8-Menetaplah di rumahmu, jangan keluar kecuali
dalam keadaan darurat, dan menutup aurat (berjilbab).
9-Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu
dengan perkataan dan perbuatan selama mereka
menyuruhmu dalam kebaikan, jika mereka
menyuruhmu berbuat maksiat, maka tidak boleh taat
kepadanya, sebab tidak ada ketaatan dalam maksiat
kepada Allah.
10-Curahkan perhatianmu terhadap pendidikan
anakmu, jika engkau sudah mempunyai anak, dengan
membiasakan mereka jujur, bersih, benar dalam
perkataan dan perbuatan, serta dengan mengajarkan
kepada mereka adab yang tinggi /mulia dan akhlak
yang terpuji. Suruhlah mereka shalat
berusia 7 tahun, dan bila mereka meninggalkannya
pada usia 10 tahun, maka pukullah mereka serta
pisahkan tempat tidurnya (antara laki-laki dan
perempuan).
11-Perbanyaklah dzikir dan sedekah/infak.
Semoga Allah menjagamu dari setiap kejahatan
dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.
Segala puji bagi Allah pada awal dan akhir serta
shalawat dan berkah kepada Nabi Muhammad,
keluarga, para shahabat dan pengikutnya sampai hari
kiamat tiba.
Jul
13
SYARAT-SYARAT HIJAB SYAR’I
Adapun syarat-syarat hijab syar’i adalah:
1-Hendaklah hijab/jilbab menutup seluruh badan. Allah berfirman:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh badan mereka” (QS. Al Ahzab: 59).
Jilbab adalah pakaian panjang yang menutup seluruh badan (dari kepala hingga mata kaki), artinya dengan mengulurkan keseluruh badan yang merupakan aurat wanita. jadi jilbab yang syar’i adalah yang menutup seluruh badan wanita.
2-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tebal, tidak tipis dan tidak transparan, karena maksud dari hijab adalah menutup, jika tidak menutup, tidak dinamakan hijab, karena hal tersebut tidak menghalangi
penglihatan, sehingga seperti yang di katakan dalam hadits Nabi “Berpakaian tetapi pada hakikatnya telanjang".
3-Hendaklah hijab/jilbab tidak berupa perhiasan atau pakaian yang menyolok, yang memiliki warnawarni yang menarik, sehingga menimbulkan perhatian. Allah berfirman:
“Dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak darinya” (QS; An Nur : 31).
Makna ( إلا ما ظهر منها ) apa yang nampak darinya, yaitu dengan tanpa disengaja. Apabila hijab itu sendiri perhiasan, maka tidak boleh dipakai, dan tidak dinamakan hijab, sebab hijab adalah sesuatu yang menghalangi timbulnya perhiasan terhadap bukan muhrim.
4-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak sempit, ketat. Tidak membentuk lekuk tubuh dan aurat, maka jilbab harus luas dan lebar, sehingga tidak menimbulkan fitnah.
5-Hendaklah tidak memakai minyak wangi, yang menyebabkan timbulnya fitnah, yaitu rangsangan bagi laki-laki. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya wanita apabila memakai minyak wangi lalu lewat pada suatu majlis, maka ia adalah ini dan ini yaitu: ia wanita pezina” (HR. Ashabus sunan, Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih).
Dalam riwayat lain:
“Sesungguhnya wanita bila memakai minyak wangi kemudian lewat pada suatu majlis/ perkumpulan kaum agar mereka mencium baunya, maka ia telah berzina”.
6-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki. Dalam hadits yang di riwayatkan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:
“Nabi r melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Dalam hadits yang lain:
“Allah melaknat laki-laki yang bergaya perempuan dan perempuan yang bergaya laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Maksudnya: perempuan yang menyerupai laki-laki dalam pakaiannya, modelnya, seperti perempuan zaman sekarang ini, begitu pula laki-laki yang menyerupai perempuan dalam pakaian,
Jul
12
Menutup Aurat Yuk…!
Bismillah…
Saudariku seiman....
Bagi kita kaum Muslimin, tentu tahu kewajiban kita masing-masing. Mulai dari Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dll. Dan salah satu dari itu ya… “MENUTUP AURAT”
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (
Keterangan :
Ayat ini menegaskan empat hal:
a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT.
b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.
d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada.
Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
2. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Keterangan :
Hadis ini menunjukkan dua hal:
a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.
Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.
Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:
1. Dari Al-Qur’an
a. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Al-Ahzab: 33).
Keterangan:
Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.
Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).
b. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Keterangan:
Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.
2. Hadis Rasululloh SAW, bahwasanya beliau bersabda:
“
Keterangan:
Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.
Jul
08
1. Ya, dengan senyum cantik anda yang membangkitkan rasa cinta dan menebar kasih sayang kepada orang lain.
2. Ya, dengan tutur kata baik anda yang dapat menjalin persahabatan yang dianjurkan syariat dan menghapus semua rasa dengki.
3. Ya, dengan ketulusan derma anda yang dapat membahagiakan orang miskin, menggembirakan orang fakir, dan mengenyangkan orang yang lapar.
4. Ya, dengan duduk manis bersama Al-Qur’an seraya membaca, merenungi makna, mengamalkan kandungannya, bertobat, dan memohon ampun kepada-Nya
5. Ya, dengan banyak dzikir, memohon ampun, rajin berdoa dan suka memperbaharui tobat.
6. Ya, dengan mendidik anak-anak anda untuk mendalami agama, mengajari mereka sunnah dan membimbing mereka kepada hal-hal yang berguna bagi mereka.
7. Ya, dengan rasa malu dan jilbab seperti yang diperintahkan Allah kepada anda sebagai sarana memelihara diri dan kehormatan anda.
8. Ya, dengan berteman bersama wanita-wanita yang baik dari kalangan mereka yang mempunyai rasa takut kepada Allah, menyukai pengamalan agama, dan menghormati norma-norma etika.
9. Ya, dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, menghormati tetangga dan menjamin anak-anak yatim.
10. Ya, dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, menelaah bacaan yang berguna, maka hal itu benar-benar merupakan hal yang amat menyenangkan lagi memberikan informasi yang benar
Jul
03
DUA GOLONGAN YANG BELUM PERNAH
DILIHAT RASULULLAH DAN TELAH
KITA LIHAT
Rasulullah bersabda:
“Dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah
aku lihat, yaitu: “suatu kaum yang memiliki cambuk,
seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para
wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggaklenggok
(jalannya), mengajarkan wanita berlenggaklenggok,
kepala mereka seperti punuk unta yang miring,
wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak
akan mencium wanginya, walaupun wanginya tercium
selama perjalanan ini dan ini ( jauhnya)” ( HR. Muslim ).
Berita Rasulullah r telah terbukti. Sungguh beliau
telah memberikan ciri-ciri yang tepat seperti orang
yang menyaksikannya.
Berpakaian tapi telanjang
Mereka memakai pakaian yang tipis, sehingga
kelihatan lekuk tubuhnya atau pakaian mini (bikini)
dan semisalnya. Wanita seperti ini berpakaian tapi
pada hakikatnya telanjang.
Maailat
Berpaling dari ta�at kepada Allah, dan dari
kewajiban-kewajiban berupa malu, enggan memakai
hijab dan jilbab. Mereka berlenggak-lenggok saat
berjalan dengan pakaian mini yang memperlihatkan
auratnya.
Mumilaat
Memalingkan wanita lain, dengan mengajarkan
kepada mereka bersolek, berdandan secara seronok
dan tidak menutup aurat, dengan berbagai macam
cara. Memalingkan hati laki-laki dengan rayuan manis
beracun iblis.
Kepala mereka seperti punuk unta
Menyanggul rambutnya keatas (kebanyakan rambut
sambungan dan pasangan, padahal Allah dan Rasul-
Nya melaknat wanita yang menyambung rambutnya
dan minta di sambungkan) seperti punuk unta yang
miring.
KEPADA SETIAP ORANG TUA
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu, penjaganya malaikatmalaikat
yang kasar, yang keras, yang tidak
mendurhakai Allah Y terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6).
Ali bin Abi Thalib berkata: “Didiklah mereka dan
ajarilah terutama masalah dien Islam yang mulia ini”.
Imam Qatadah berkata: “Engkau perintahkan
mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kamu larang mereka dari maksiat dan berbuat dosa,
melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya dan
meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan”.
Wahai orang tua? bila ada orang yang berkata
kepadamu: “Bahwa gedungmu yang megah itu, jika
tidak engkau rawat dengan seksama, dan engkau jaga
dengan baik, dengan selalu mengontrol dan
memperbaiki setiap kerusakan sebelum kerusakan itu
parah, jika ini tidak engkau lakukan, niscaya
gedungmu yang megah itu akan roboh”.
Apa yang akan engkau kerjakan? tentu engkau akan
berusaha semaksimal mungkin agar gedungmu tidak
roboh, maka bagaimana sikapmu terhadap anak
perempuanmu, sedang Allah r telah memerintahmu
menjaganya dari api neraka.
Wahai para orang tua! Sesungguhnya para pemudi
yang telah hilang sifat malunya, yang sombong untuk
mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya mereka itu kita
lihat dan kita dengar, mereka tidak turun dari langit
dan tidak keluar dari perut bumi. Tapi mereka
sesungguhnya keluar dari rumahmu (pengawasanmu)
keluar dari rumah saudara dan famili muslimmu.
Akhi Muslim! bertaqwalah pada Allah!
Perhatikan anak puterimu melebihi perhatianmu
terhadap duniamu. Janganlah engkau termasuk orang
yang Rasulullah r maksudkan dalam sabdanya:
“Tidak masuk surga Dayyus, para sahabat bertanya:
"Siapakah yang dimaksud dengan Dayyus itu wahai
Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Seorang yang tidak
ada (cemburu) terhadap muhrimnya”. Dalam riwayat
yang lain beliau bersabda: “Seorang yang rela
kenistaan menimpa keluarganya” (HR. Muslim).
SALAM DAN KABAR GEMBIRA
Kepada Ukhti Muslimah !
Yang tegar dalam menghadapi serangan musuh yang
buas. Kepada Ukhti Muslimah yang menampar muka
setiap penyeru kebebasan dengan sikap konsisten,
komitmen, dan konsekwen terhadap ajaran Islam.
Kepada Ukhti yang selalu memegang teguh sifat
malu dan kesucian dirinya, kepada benteng yang
kokoh dalam menghadapi topan kebatilan.
Kepada Ukhti yang berpegang teguh kepada kitab
Allah dan selalu mengangkat panji Rasul-Nya seraya
berkata:
“Dengan tangan kesucianku, akan aku jaga
kemuliaan hijab dan jilbabku
dan dengan kesucianku pula aku diatas temanteman
sebayaku.
Kepadanya khabar gembira dari Nabi :
“Sesungguhnya di belakang kamu ada hari-hari
kesabaran. Orang-orang yang berpegang teguh pada
hari itu mendapat pahala 50 orang dari kamu.
sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah sebesar pahala
50 orang dari mereka? Nabi r bersabda: “Bahkan dari
kamu”. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, dishahihkan
Albani). Juga kepadanya sabda Rasulullah yang lain:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing
dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka
beruntunglah orang-orang yang asing, Rasulullah r
ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah ? Rasulullah r
menjawab: Mereka yang mengadakan perbaikan ketika
manusia rusak” (HR.Tirmidzi dan dishahihkan Albani).
Kepada mereka salam dari Allah, para muslimin dan
muslimat yang sabar dalam menjalankan perintah
Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya:
“Salam sejahtera untukmu, karena kesabaranmu,
dan sebaik-baik kesudahan surgalah balasannya” (QS;
Jun
29
RAMBU-RAMBU JALAN
Ukhti Al Muslimah !
Untukmu yang masih dibalut keraguan untuk
memakai jilbab. Untukmu untaian ayat ilahi ini:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).
Untukmu yang belum sadar, yang berjalan tanpa
petunjuk, untukmu untaian sabda Rasulullah saw:
“Janganlah seorang dari kalian menjadi orang yang
tak berpendirian, yang berkata: aku bersama orang
banyak, bila mereka baik, aku baik, bila mereka
berbuat jahat, akupun berbuat jahat, akan tetapi
mantapkan dirimu, bila mereka baik, maka berbuat
baiklah anda, dan jika mereka jahat, maka jauhilah
kejahatannya”.
Buatmu yang selalu berkata:
Bilamana aku
memakai jilbab di negeri kafir, manusia akan melihat
dan memperhatikanku, namun bila aku melepaskan
jilbabku, aku seperti mereka, tak ada yang
memperhatikanku.
Wahai puteriku yang cerdik dan pandai:
sesungguhnya melawan arus kejahatan, konsisten,
komitmen, dan konsekwen dalam kebenaran terutama
di negeri kafir adalah iman yang diserukan Allah,
tidak boleh seorangpun melakukan ijtihad menentukan
hukum padahal telah ada nash Al Qur’an dan Al
Hadits.
SEJENAK
Ukhti Al Muslimah…
Wahai wanita yang tunduk kepada kekafiran,
mereka berkata:
"engkau adalah wanita terpelajar. Diantara kami ada dokter wanita, ada sastrawati, ada
wartawati, ada dosen wanita yang mengajar di negeri
kalian. Islam tidak pernah melarang sedikitpun hal itu.
Tidak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan
perempuan. Sukakah engkau kepada kami? jawaban
kami hanya menyitir firman Allah:
“Orang-orang yahudi dan nashrani tak akan pernah
rela padamu sampai engkau mengikuti agama mereka.
Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah adalah
petunjuk yang sebenarnya, dan sesungguhnya jika
kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan
datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
Pelindung dan Penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120).
Mereka berkata:
“Cukup bagi saya ke-Islamanmu sebatas pada ibadah ritual semata. Adapun ilmu, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan duniamu, wajiblah engkau mengikuti cara kami”.
Sungguh benar sabda Rasulullah saw:
"Kamu akan mengikuti tradisi orang-orang
sebelummu, sejengkal demi jengkal, sehasta demi
hasta, hingga andaikan mereka memasuki lubang
biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya, kami
berkata: apakah mereka kaum Yahudi dan Nashrani?
jawab Rasulullah r siapa lagi kalau bukan mereka”
( HR. Muslim ).
Ukhti Al Muslimah!
Engkau seharusnya memperhatikan pakaianmu dan
perbuatanmu serta wajib mengikuti kepribadian Islam
sebagaimana apa yang engkau dengar, lihat dan baca.
Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak
kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang
penyair:
“Wahai dikau yang selalu mengurusi badanmu.
Betapa banyak usaha yang telah engkau lakukan.
kepada Ukhti Muslimah 20
Apakah engkau mencari keuntungan dari sesuatu
yang jelas merugikan.
Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya.
Sebab dikau disebut manusia dengan jiwa, bukan
karena tubuh jasadmu.
Ukhti Al Muslimah!
Jadikan Khadijah radhiyallahu anha suri tauladan
dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan
jiwa. Jadikan Aisyah radhiyallahu anha tauladanmu
dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir
suri tauladanmu dalam kesabaran dan berpegang
teguh kepada agama Allah. Wahai ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair:
“Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan
Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.
Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram.
ia akan berdaun rindang.
Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat
besar sepanjang masa.
Ukhti Al Muslimah !
Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak
menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta,
apakah mereka masih memajang fotomu, di sampulsampul
majalah, buku dan semisalnya, walaupun
kamu orang yang terpelajar? Masihkah mereka
memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu
pesawat, dengan dalih penghargaan terhadap wanita?
Masihkah engkau temui orang yang memperjuangkan
sempitnya ruang lingkup belajarmu?
Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati
kecantikan wajah dan kemolekan tubuh serta
merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu maka
merekapun pasti meninggalkanmu, seakan-akan
engkau adalah sebuah barang yang sudah habis masa
berlakunya.
PERINGATAN
Rasulullah saw bersabda:
“Aku tidak meninggalkan fitnah sepeninggalku yang
lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita” (HR.
Bukhari Muslim).
Musuh-musuh Islam telah mengetahui, bahwa
kerusakan dan kerendahan moral wanita berarti
pengrusakan terhadap masyarakat secara universal
dan integral. Seorang tokoh aliran (free masonry) berkata:
“secangkir minuman keras, seorang biduanita dapat
menghancurkan ummat Muhammad melebihi
kekuatan seribu tank baja, peluru kendali, dan senjata
kimia yang canggih. Oleh karena itu buatlah mereka
tenggelam dalam cinta materi dan syahwat”.
Temannya yang lain berkata:
“Kita harus mempergunakan wanita sebab setiap
kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah
mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita telah
berhasil memporak-porandakan serdadu penolong
agama Islam”.
ANCAMAN
Kepada setiap orang yang berusaha menjadikan para
artis dan biduanita sebagai tauladan idola wanitawanita
muslimah, kepada mereka kami persembahkan
ancaman Allah ini:
“Sesungguhnya orang-orang yang senang, agar
tersiar perbuatan keji dikalangan orang-orang yang
beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di
akhirat, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui” (QS. An Nur: 19).
Ancaman ini terhadap orang yang senang, lalu bagaimana terhadap orang yang melakukan ! tentu lebih dahsyat.
UKHTI AL MUSLIMAH
[SIAPA YANG MENYURUHMU MEMAKAI JILBAB]
Jangan terkejut sebelum engkau baca risalah ini.
· Seorang mahasiswi meminta kepada salah
seorang teman puterinya agar menemaninya
menghadap dosen laki-laki dalam mempertahankan
disertasinya untuk meraih gelar magister (MA).
temannya berkata: "tak tahukah engkau bahwa kita ini
hidup di abad 20?
· Seorang dokter wanita di salah satu rumah sakit,
ketika ia memakai pakaian dokter hilanglah malunya.
Wajah dan rambutnya serta pakaiannya terbuka.
Seakan-akan menanggalkan agama dan malu adalah
hal yang wajib bagi tugas kedokteran.
· Saya pernah berkunjung ke salah satu kerabat
yang saya kenal selalu menjaga kehormatan dan
hijab/jilbab. Tiba –tiba saya di kejutkan oleh
masuknya sopir pribadinya ke tempat pertemuan.
Seakan-akan ia salah satu anggota keluarga yang tidak
perlu menutup aurat darinya.
Ukhti..!! pernahkah engkau menduga, bahwa mereka
wanita muslimah sadar, mengapa mereka berjilbab??
Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka
pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adatistiadat
yang mereka warisi dari orang tua mereka dan
sebagai bakti kepadanya yang telah menyuruhnya.
Oleh sebab itu sebagai warisan suci,
maka wajib di jaga dan di lestarikan.
Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab?
Dan siapa yang menyuruhnya? Bukankah itu perintah
Allah ..!!
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanakmu,
dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka
mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).
Tidakkah ia megetahui bahwa ia mentaati perintah
penciptanya yang memberi rizki yang menciptakan
langit dan bumi dan mengetahui mana yang tidak
pantas untuk makhluk-Nya.
Firman Allah:
“Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di
bumi”. (QS. Al Baqarah: 284).
Allah yang menciptakanmu:
“Demikianlah, itulah Allah tuhanmu, tidak ada tuhan
yang patut di sembah selain Dia. Pencipta segala
sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah
Pemelihara segala sesuatu” (QS. Al Anam: 102).
Yang memberimu nikmat:
“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari
Allah jualah”. (QS. An Nahl: 53).
Yang mematikanmu:
“Dan datanglah sakaratul maut (kematian) sebanarbenarnya.
Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.”
( QS. Qaaf: 19).
Yang berfirman:
“Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka
Jahannam: apakah kamu sudah penuh ? dia
menjawab: masih adakah tambahan? Dan
didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang
bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari
mereka). (QS. Qaaf: 30-31).
Yang berfirman:
“Hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang yang
takwa kepada Dzat yang Maha Pemurah sebagai
perutusan (yang terhormat), dan kami menggiring orangorang
yang durhaka ke neraka Jahannam dalam
keadaan dahaga” (QS. Maryam: 85-86).
Yang mengadili pada hari yang menakutkan:
“Pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu,
lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari
anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala
wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak
mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” ( QS;
Al Hajj :2).
Ukhti Al Muslimah !
Tidakkah engkau baca firman Allah:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman,
hendaklah mereka menahan pandangannya dan
menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan
perhiasannya kecuali (yang biasa) nampak darinya.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke
dada mereka” (QS. An Nur: 31).
Yaitu tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya
kepada orang-orang asing (bukan muhrim) kecuali
sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan berupa
pakaian yang tidak menyolok, dan hendaklah
menjulurkan penutup kepalanya (jilbab) sampai ke
dadanya sehingga tertutup. Imam Bukhari
meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, ia
berkata:
“Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama
yang berhijrah (muhaajiraat), yaitu ketika Allah
menurunkan firman-Nya:
“Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke
dada mereka” (QS. An Nur: 31).
(Mereka langsung merobek gordeng mereka untuk di
jadikan jilbab).
Ukhti Al Muslimah !
Janganlah berkata: “Kita bukan mereka” bagaimana
mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai?
jangan engkau heran! seorang penyair berkata:
Berusahalah meniru orang-orang yang mulia walau
tidak sama persis seperti mereka.
Sebab meniru orang yang mulia itu merupakan
keberuntungan.
Ukhti Al Muslimah!
Tidakkah engkau baca firman Allah Y tentang isteriisteri
Nabi :
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (isteri-isteri Nabi ) maka mintalah dari
belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi
hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).
Lebih suci dari hati siapa, wahai ukhti ? lebih suci
dari hati isteri-isteri Nabi , (ummahatul mu’minin).
Lebih suci bagi hati para sahabat Nabi, umat yang
terbaik setelah Nabi ?
Bagaimana dengan hati kita pada masa sekarang?
Apakah Dzat Yang Menciptakanmu, Yang mengetahui
cara yang terbaik untuk mensucikan hati, sama
dengan orang yang tidak mengetahui hal itu?
Ukhti Al Muslimah …!
Allah berfirman:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanak
perempuan dan istri-istri orang beriman: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).
Ibnu Abbas t berkata: “Allah memerintahkan
isteri-isteri orang beriman, apabila keluar dari rumah
untuk suatu keperluan, hendaklah menutup wajahnya
dari atas kepala dengan jilbabnya”.
Allah memerintahkan isteri-isteri orang yang
beriman melakukan hal tersebut di atas, agar mereka
dikenal dengan tertutup rapi, bersih, dan suci. Dengan
demikian ia tidak akan di ganggu orang- orang yang
jahat.
Coba engkau perhatikan: siapa yang lebih sering
digoda dan diganggu lelaki di jalan? tentu mereka yang
suka bersolek ala jahiliyah.
Perhatikan firman Allah di bawah ini:
“Dan perempuan-perempuan yang telah berhenti (dari
haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin lagi,
tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian
mereka tanpa (bermaksud) menampakkan perhiasan.
Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An
Nur: 60 ).
Allah memberitahukan bahwa berjilbabnya
perempuan tua yang tidak ingin menikah lagi serta
tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama,
walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk buka
wajah dan tangan dengan syarat berlaku sopan
(Islami).
Al Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk
memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek
ala jahiliyah (tabarruj).
Ukhti Al Muslimah!
Dengarlah kata ibundamu, Ummul Mu’minin ketika
bertanya kepada Nabi :
“Apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung baju
mereka? Nabi r bersabda: Hendaklah ia turunkan satu
jengkal (dari mata kaki) Ummul Mu’minin berkata:
“kalau begitu akan tersingkap telapak kaki kami, wahai
Rasulullah” Nabi bersabda: “turunkan satu hasta dan
jangan dilebihkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Subhanallah! Ummahatul Mu’minin meminta agar
diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita
malah banyak memendekkan (menaikkan ke lutut
bahkan ada yang ada di atasnya) dan mereka tak
peduli.
“Nabi dan kitab suci kita melarang telanjang, tidak
menutup aurat, maka tanyakan kepada hadits dan
ayat suci Al Qur’an”
Adapun hijab artinya adalah menutup badan, dan
sebagai ciri dari sekumpulan peraturan sosial yang
berhubungan dengan keadaan wanita dalam undangundang
Islam, yang telah ditetapkan Allah untuk
menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan,
kemuliaan, dan keluhuran wanita. Pakaian yang
memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang
lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk
membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat,
yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan
Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini.
(read more ...)Jun
25
Ukhti Al Muslimah
Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya berusaha
untuk menjauhkan wanita muslimah dari Agama Islam
yang haq dan lurus ini. Di setiap tempat dan
kesempatan mereka selalu melontarkan tuduhantuduhan
keji yang ditujukan kepada wanita-wanita
mu’minah yang suci, mereka mengatakan bahwa:
“Islam adalah penjara bagi wanita” karena wanita
dalam Islam wajib di rumah, tidak di izinkan keluar
kecuali ada hajat".
“Menetapnya wanita di rumah, melemahkan
ekonomi suatu negara”.
“Poligami adalah perbuatan hewan”.
“Perceraian adalah suatu kedzaliman”.
“Wanita-wanita muslimah itu sakit, penuh dengan
kadas dan panu, oleh karena itu mereka memakai
hijab untuk menutupi aibnya”.
Ukhti Al Muslimah …!
“Jangan kau ikuti langkah-langkah syetan” (QS. An
Nur: 21).
Ukhti Al Muslimah …!
Jangan engkau dengar kata-kata mereka, sebab
mereka adalah penganjur yang berdiri di tepi neraka
Jahannam dan mengajak serta menyeret ke dalam api
neraka Jahannam.
“Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”
(QS. Al Kahfi: 5)
Ukhti Al Muslimah …!
Tahukah engkau apa yang mereka inginkan? mereka
hanya menginginkan satu perkara. Menghancurkan
agama Islam dan merusak generasi Islam dan
menyebarkan kekejian di tengah masyarakat beriman.
Mereka menghendaki agar wanita-wanita muslimah
yang suci keluar dari rumahnya, dari bentengnya.
Mereka menghendaki agar engkau menjadi barang
murahan, sebagai pemuas syahwat.
Mereka menipumu agar engkau keluar dari surga
sebagaimana iblis mengeluarkan bapak kita Adam
darinya. Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari
surga dalam keadaan telanjang, tanpa pakaian, yang
menutup aurat mereka.
Para pengumbar kejahatan pun meniru
cara yang sama, jangan kamu hiraukan mereka!
Penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, pasti di situ
ada kebahagiaan sejati.
Allah hanya menghendaki darimu kesucian,
kemuliaan dan keluhuran.
Firman Allah :
“Akan tetapi Allah hendak mensucikan dan
menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu”. (QS. Al
Maidah: 6).
Firman Allah :
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
taubat dan mencintai orang-orang yang melakukan
kesucian” (QS. Al Baqarah: 222).
Semoga Allah selalu menunjuki kita ke jalan yang
lurus. Amiin.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb
sekalian alam, shalawat serta salam semoga tetap
tercurah kepada Nabi yang mulia Muhammad saw,
keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang
mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.
(read more ...)Jun
24
Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima
Jun
20
Gembiralah dengan hidup ini
karena hidup ini indah dan jadikanlah ia
sebagai hamparan untuk setiap kebaikan
Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya. Bahkan lebih senang dengan tobat yang dilakukan oleh seorang hamba kepada-Nya. Mahasuci Allah, Mahabesar lagi Maha Penyayang. Dia gembira dengan tobat hamba-Nya yang pada akhirnya hamba yang bersangkutan beroleh surga-Nya dan meraih ridha-Nya. Allah SWT menyerukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertobat melalui firman-Nya:
“Bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nuur: 31)
Tobat adalah mencuci kalbu dengan airmata dan membakarnya dengan penyesalan. Tobat menimbulkan rasa terbakar dalam kalbu, rasa panas dalam jiwa, rasa hancur dalam perasaan, dan rasa basah dalam airmata. Sesungguhnya tobat adalah permulaan jalan yang harus ditempuh oleh para salihin, modal orang-orang yang beruntung, titik tolak keberangkatan kaum muridin, dan kunci istiqomah kaum yang mencintai Allah. Orang yang bertobat mengemis dan merendahkan diri kepada Allah, berseru dan menangis. Apabila para hamba tenang, kalbunya tidak pernah tenang. Jika semua makhuk merasa tentram, rasa takutnya tidak pernah hilang. Apabila semua makhluk merasa senang, rintihan kalbunya tidak pernah berhenti. Dia berdiri dihadapan Tuhannya dengan hati yang bersedih dan pikiran yang susah seraya menundukkan kepalanya dengan tubuh yang menggigil. Apabila ia teringat dosa-dosa besarnya dan kesalahan-kesalahannya yang banyak, bergejolaklah kesedihannya, menyala kembalilah kebakaran hatinya, dan bertambah deraslah cucuran airmatanya. Nafasnya tersengal-sengal dan suara rintihannya begitu membakar kalbunya. Ia menguruskan dirinya sendiri untuk perlombaan di hari esok dan meringankan dirinya dari beban keduniawian agar dapat berlalu dengan cepat di atas jembatan neraka jahannam nanti.


