Profile

  • Abdullah syauqi
    Abdullah syauqi
    "berjuanglah untuk kejayaan islam" “Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya”

Tag





Risalah Untuk Saudariku Terkasih, Urgensi Menuntut Ilmu

Wahai ukhti muslimah…..
Saya akan kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din, akan tetapi pada kenyataannya banyak wanita yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, bahkan meninggalkannya (berpaling darinya). Telah menjadi keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalil Al-Qur’an, disertai ta’liq sederhana.

Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan.

"Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali-Imran :18]

Berkata Imam Al Qurtubi rahimahullah dalam tafsirnya :
"Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemuliaan ilmu." 

"Artinya : Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." [Thaha :114]

Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan sesuatu itu, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan ilmu. [Tafsir Al-Qurthubi hal. 1283]

"Artinya : Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" [Az-Zumar : 9]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata :
"Menurut Az-Zujaj Radhiyallahu ‘anhu, maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui" [Tafsir Al-Qurthubi hal. 5684]

"Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [Al-Mujaadilah : 11]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata, 
"Maksud ayat di atas yaitu, dalam hal pahala di akhirat dan kemuliaan di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan orang beriman dan berilmu di atas orang yang tidak berilmu. Kata Ibnu Mas`ud, dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para ulama. Dan makna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, adalah derajat dalam hal agama, apabila mereka melakukan perintah- perintah Allah" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]

"Artinya : Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." [Al- Fathirv: 28]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"Maksud ayat di atas adalah, orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar hanyalah ulama yang mengenal-Nya, karena semakin mengenal Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui,Yang memiliki sifat kesempurnaan dan kebaikan, maka pengenalan, pengetahuan, dan ketakutan terhadap-Nya akan semakin sempurna" [Tafsir Ibnu Katsir 3/163]

"Artinya : Sesungguhnya al-Quran adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi. Dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dholim." [Al-Ankabut : 49]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang ayat di atas.
"Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung ahli ilmu, memuji dan memuliakan mereka dengan menjadikan kitab-Nya sebagai ayat-ayat yang nyata/jelas dalam dada mereka. Ini merupakan kekhususan dan kebaikan bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya." [Miftah Daari As-Sa’adah hal. 1/50]

Dan kata Imam Al Qurtubi rahimahullah.
"Maksud ayat tersebut adalah, Al Qur`an bukanlah sihir atau syair, seperti yang dikatakan oleh orang-orang batil. Akan tetapi Al Qur`an adalah tanda dan dalil Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al Qur`an agama dan segala hukum-Nya dapat diketahui. Seperti itulah al-Qur`an di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu. Mereka adalah para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan orang-orang yang beriman kepadanya. Mereka berilmu, mampu memahami dan membedakan antara kalamullah, perkataan manusia dan ucapan-ucapan setan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 5070]

"Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [At-Taubah : 122]

Imam Al-Qurtubi rahimahullah berkata.
"Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan perang semua, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak, sehingga mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka, setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka. Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah. Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib `ain" [Tafsir Al-Qurtubi hal.3132]

“Artinya : Dan katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". [Thaha :114]

Berkata Ibnu `Uyainah rahimahullah.
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa bertambah ilmunya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau" [Tafsir Ibnu Katsir 3/167]

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah.
"Dengan hal ini cukuplah merupakan kemuliaan bagi ilmu, yaitu bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan berupa ilmu" [Miftah Daari As-Sa’adah]

"Artinya : Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." [Al-An`am : 83]

Imam Al Qurtubi rahimahullah berkata.
"Firman Allah, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat yaitu dengan ilmu, kepahaman dan imamah (kepemimpinan) serta kekuasaan" [Tafsir Al-Qurtubi hal. 2466]

"Artinya : Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." [An Nisaa` : 113]

Berkata Ibnul Qoyyimrahimahullah tentang ayat di atas,
"Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kenikmatan-kenikmatan dan karunia-Nya kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kenikmatan dan karunia-Nya yang paling agung adalah memberinya Al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang belum diketahuinya."[Miftah Daari As-Sa’adah 1/52]

Demikianlah Ukhti Muslimah
Semoga pemaparan saya kali ini bermanfaat bagi ukhti semuanya. Harapan saya semoga kita masih mendapat kesempatan untuk meniti ilmu-Nya yang maha luas. Amin

[Diterjemahkan oleh Salamah Ummu Ismail, dari Kitab Al-Kalimatun Nafi’at Lil Akhwatil Muslimah hal. 23-28]

(read more ...)



 Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?

Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.

Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.

Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya  dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.

Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.

Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hati para pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.

Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”

Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.

Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.

Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”

Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.

Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.

Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.

Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.

Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.

Dikutip dari kitab Tafsir Surah Mu’awadzatain, Surat Al-Falaq dan An-Naas Melindungi dari Kejahatan Jin dan Manusia, Imam Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah, Akbar,2002

(read more ...)



 Saudariku yang berbahagia, perlu keberanian diri untuk mencoba mengatakan sesuatu yang selama ini menjadi ganjalan hati ini. Dan saya bukanlah orang yang pandai berbicara atau merangkai tulisan dengan kata-kata, namun di kesempatan yang berharga ini saya paksakan lisan saya tuk bicara, saya jalankan jari-jemari saya untuk menuliskan kata-kata yang hanya khusus untukmu…..bukan untuk yang lain….
Saudariku..Ada baiknya bila engkau menengok sejenak ke belakang, Saat engkau masih dalam pangkuan ibu tersayang, saat itu engkau hanyalah seorang bayi yang tak punya kelapangan. Saat itu engkau belum mampu melakukan apa-apa, sehingga hanya untuk menarik perhatian saja , yang dapat engkau lakukan hanyalah menangis ditengah malam hingga membangunkan semua orang.
Kemudian, engkau tumbuh melangkah ke depan menjadi sosok gadis kecil yang selalu bermanja di pangkuan Bunda. Dan waktu terus berjalan…..sehingga kini engkau telah menginjak remaja. Engkau menjadi semakin besar, pintar, dan makin banyak pengalaman hidup yang telah engkau miliki.
Saudariku yang berbahagia.., sekarang semakin hari kita tumbuh semakin tinggi, bukan hanya tinggi badan kita, namun juga ketinggian pola berpikir kita. Kita bukan kanak-kanak lagi yang harus disuruh begini begitu. Kini kita sudah besar, sehingga banyak yang harus kita siapkan agar makin dewasa untuk menentukan sendiri jalan hidup kita nanti.
Wahai saudariku muslimah….. Hari demi hari telah kita lalui.Telah banyak perubahan yang terjadi. Satu hal yang menjadi pertanyaan untukmu…bila saja kau pandangi dirimu pada cermin indah dalam kamarmu, apa yang engkau lihat disana? Apakah sesosok gadis remaja yang sudah cukup matang yang sedang mengarungi hidup ataukah sosok gadis yang masih menjalani proses perubahan membentuk diri? Mungkin, engkau akan menjawab kedua-duanya…atau mungkin hanya salah satu jawaban…
Itulah dirimu yang dulu terlahir dari rahim Bunda, setelah malaikat meniup ruh dan menulis catatan tentangmu ketika engkau masih menjadi janin usia 4 bulan. Dan sekarang, engkau semakin beranjak dewasa, dan banyak waktu telah yang engkau lalui.. lalu ada satu hal lain yang ingin perlu ditanyakan, “Apakah saat ini engkau telah mengenal dirimu sendiri, wahai saudariku tercinta? Ingat jawaban ini, Bukan sekedar mengiyakan bahwa sosok bayangan yang ada di depan cermin itu adalah dirimu? ” Jawablah saudariku, tak usah engkau malu-malu…..karena ini penting. Ini penting sekali sebagai bekal hidupmu kelak, karena seperti yang kita sama-sama mengerti, sekarang ini kita sedang dalam proses mendewasakan diri…dan itu butuh bekal agar kita tidak salah arah.
Saudariku….. Ketahuilah oleh dirimu, bahwa sosok yang ada dalam cermin itu adalah seorang manusia, seorang hamba yang telah banyak diberi karunia oleh Allah….karena memang Allah yang menciptakan dirimu… Allah yang memenuhi kebutuhanmu, dan Allah pula yang telah mengatur semuanya sehingga engkau tumbuh menjadi dewasa. Hanya Dia, Saudariku muslimah….Ditangan-Nyalah diatur segala urusan, termasuk urusan langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan kita manusia…. Allah di atas langit pula yang telah menentukan bahwa engkau tercipta sebagai wanita, sebagai muslimah…Dan lihatlah, betapa tingginya Allah memberi kedudukan kepada kita, sampai-sampai dalam kita suci kita, Al-Quran, Allah membuat surat khusus bernama “An-Nisa” yang artinya perempuan.
Wahai Saudariku muslimah, engkau masih ingat nama surat itu bukan ? Ini adalah satu diantara sekian tanda bahwa Allah memuliakan kedudukan wanita. Kelak Insya Allah, dari rahim kita lah akan lahir ummat Islam yang banyak, sehingga di hari Akhir nanti, Nabi kita, Nabi Muhammad Shollallaahu’alayhi wa sallam akan mengatakah dengan bangga atas jumlah ummat yang banyak. Bahkan, tentang kodrat wanita, Rasulullah pun bersabda,
“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.
Hadits ini disampaikan oleh Imam Muslim, dan memang benar dan shahih bahwa ini perkataan Rasul. Engkau kini yakin bukan bahwa Allah dan Rasul-Nya amat menjunjung martabat kita?
Saudariku muslimah yang berbahagia… aku mengajakmu…Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah memilihmu untuk hadir kedunia ini dengan hikmah penciptaan yang agung ; bukan sembarangan, karena Allah Maha Kuasa mencipta apapun yang dikehendaki-Nya, sehingga mustahil bagi Allah untuk sembarangan dalam berbuat, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya.
Dan sekarang, cobalah pikirkan lebih dalam… Sampai detik ini, telah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah kepada kita sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu memang karena kebaikan Allah semata, bukan dari yang lain. Allah yang berkuasa berbuat kebaikan, Allah memberi nikmat sehat, ketenangan hati, teman sepergaulan yang baik, ini….itu…., tentu amat sangat banyak, sehingga aku tidak mampu menuliskan semuanya untukmu, karena aku yakin Allah selalu berbuat kebaikan kepada kita semua. Engkau ingat bukan……tempo hari kakimu tidak tergores meski berjalan di atas batu-batu. Itu adalah nikmat Allah yang mungkin terasa kecil bagi kita. Sedangkan nimat yang besar, dan yang paling besar yang mungkin kurang terpikirkan oleh kita…..adalah nikmat iman. Dengan nikmat dari Allah yang satu ini, kita bisa dengan bangga menyandang predikat muslimah.
Sungguh Saudariku muslimah……..tidak banyak wanita-wanita di dunia ini yang bisa dipanggil muslimah. Tengoklah ke negara-negara yang penduduknya tidak mengenal Allah sama sekali, atau mengenal Allah dengan hanya menyebut nama-Nya ketika sedang susah tertimpa bencana, atau bahkan mereka yang malah menyekutukan Allah dengan memohon bantuan kepada selain Dia. Dan tentunya engkau mengetahui keadaan mereka, bukan?
Semoga Allah melindungi kita supaya tidak termasuk golongan mereka. Amin.
Wahai Saudariku muslimah….. kenapa lisan kita selalu terasa berat untuk berucap syukur, memuji Alloh atas nikmat ini…bukankah semakin kita mempelajari nikmat Allah dan meyakini betapa Allah Maha Mengetahui atas jiwa-jiwa ini, kita akan bisa semakin memahami hikmah mengapa aku dan kau diciptakan, dan mengapa pula kita semua harus beribadah hanya kepada-Nya…..
Ya, benar….hanya kepada-Nya, karena memang Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah. Lain tidak, karena selain Dia hanyalah ciptaan-Nya. Sehingga kita tidak boleh menduakan-Nya dengan apapun atau siapapun. Bagaimana, Saudariku muslimah ? Engkau memahami hal ini, ‘kan? Aku berharap demikian, karena bagiku, tidak ada yang lebih kuinginkan darimu, kecuali kebaikan untukmu di dunia dan akhiratmu kelak.
Saudariku muslimah, semoga apa yang kuungkapkan ini adalah sebuah nasehat yang tulus, sebuah nasehat bagiku dan bagimu, bagi kita semua agar kita bisa menemukan sosok dewasa cermin indah itu…. karena suatu hari nanti, kita pasti dan harus lebih dewasa daripada hari ini. Dan sebaiknya memang begitu, seiring usia yang bertambah, kita mejadi lebih mengenal akan diri kita yang sebenarnya dan lebih mengerti hak-hak Allah atas diri kita.
Semoga Allah mengasihi diriku, dirimu, keluarga kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga kita selalu mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita….Amin.

(read more ...)



 Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.

“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.

Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah mukhlishiina lahudiini hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.

Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.

Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.

Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.

Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.

Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.

Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.

Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan.

(read more ...)



 Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.

Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…

Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak anugerah Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang back street tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.

Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa diikhtiarkan maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:

Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.

Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.

Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.

Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.

Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.

Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan. Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada Sang Pemilik Cinta. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.

Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.

Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.

Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.

Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:

Kasih…

cinta yang terindah adalah mencintaimu,

sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.

Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu

burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, Di mana engkau berada?

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan

dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir

berada dalam syurga abadi yang dijaga

oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa

yang akan menunggu kedatanganmu,

wahai kekasih…

Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu! Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya

Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku  jawab si gadis kekasihnya itu.

Bilakah aku dapat melihatmu kembali? Tanya si pemuda menegaskan

Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari, Jawab kekasihnya.

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS. Ar-Ruum : 21).

 

(read more ...)



KU NASEHATKAN UNTUKMU PARA WANITA

 

Akhirnya, saya persembahkan 11 nasehat yang

berharga ini kepadamu, wahai Ukhti Al Muslimah.

Kerjakanlah, Insya Allah engkau akan berbahagia di

dunia dan akhirat, minta tolonglah kepada Allah

dalam mengamalkannya, kemudian dengan membaca

dan memahami isi tulisan ini.

 

1-Beribadahlah kepada Allah semata, sesuai dengan

apa yang telah diisyaratkan, di dalam Al Qur’an dan Al

hadits.

 

2-Hati-hatilah terhadap syirik dalam aqidah dan

ibadah, sebab syirik menggugurkan amal dan

menyebabkan kerugian.

 

3-Hati-hatilah terhadap bid’ah, baik dalam aqidah

maupun dalam ibadah, sebab setiap bid’ah adalah

sesat dan orang-orang yang sesat adalah (tempatnya)

di dalam neraka.

 

4-Jagalah shalatmu dengan sempurna, sebab orang

yang selalu menjaga shalatnya, ia akan lebih menjaga

dalam hal lainnya, dan orang yang meremehkan

shalat, ia akan meremehkan hal lainnya juga.

Jagalah kesucian, thuma’ninah, I’tidal, serta khusyu

dalam shalat, janganlah sampai engkau mengakhirkan

waktunya, sebab seorang hamba bila shalatnya baik,

maka seluruh amal perbuatannya baik, sebaliknya bila

shalatnya rusak (tidak baik) maka amal perbuatannya

juga rusak (tidak baik).

 

5-Taatilah suamimu, jika engkau sudah berumah

tangga, jangan sekali-kali engkau menolak

keinginannya, dan melanggar perintahnya, selama

tidak menyuruh berbuat maksiat dan dosa.

 

6-Jagalah suamimu jika dia tidak ada bersamamu

dan ketika ia berada disisimu. Jagalah dirimu dan

hartanya.

 

7-Berbuat baiklah kepada tetanggamu dengan

perkataan dan perbuatan sebagai balas budi dan

menolak keburukan.

 

8-Menetaplah di rumahmu, jangan keluar kecuali

dalam keadaan darurat, dan menutup aurat (berjilbab).

 

9-Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu

dengan perkataan dan perbuatan selama mereka

menyuruhmu dalam kebaikan, jika mereka

menyuruhmu berbuat maksiat, maka tidak boleh taat

kepadanya, sebab tidak ada ketaatan dalam maksiat

kepada Allah.

 

10-Curahkan perhatianmu terhadap pendidikan

anakmu, jika engkau sudah mempunyai anak, dengan

membiasakan mereka jujur, bersih, benar dalam

perkataan dan perbuatan, serta dengan mengajarkan

kepada mereka adab yang tinggi /mulia dan akhlak

yang terpuji. Suruhlah mereka shalat lima waktu bila sudah

berusia 7 tahun, dan bila mereka meninggalkannya

pada usia 10 tahun, maka pukullah mereka serta

pisahkan tempat tidurnya (antara laki-laki dan

perempuan).

 

11-Perbanyaklah dzikir dan sedekah/infak.

Semoga Allah menjagamu dari setiap kejahatan

dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.

Segala puji bagi Allah pada awal dan akhir serta

shalawat dan berkah kepada Nabi Muhammad,

keluarga, para shahabat dan pengikutnya sampai hari

kiamat tiba.

 

(read more ...)



 SYARAT-SYARAT HIJAB SYAR’I

 

Adapun syarat-syarat hijab syar’i adalah:

 

1-Hendaklah hijab/jilbab menutup seluruh badan. Allah berfirman:

 

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh badan mereka” (QS. Al Ahzab: 59).

 

Jilbab adalah pakaian panjang yang menutup seluruh badan (dari kepala hingga mata kaki), artinya dengan mengulurkan keseluruh badan yang merupakan aurat wanita. jadi jilbab yang syar’i adalah yang menutup seluruh badan wanita.

 

2-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tebal, tidak tipis dan tidak transparan, karena maksud dari hijab adalah menutup, jika tidak menutup, tidak dinamakan hijab, karena hal tersebut tidak menghalangi

penglihatan, sehingga seperti yang di katakan dalam hadits Nabi  “Berpakaian tetapi pada hakikatnya telanjang".

 

3-Hendaklah hijab/jilbab tidak berupa perhiasan atau pakaian yang menyolok, yang memiliki warnawarni yang menarik, sehingga menimbulkan perhatian. Allah berfirman:

 

“Dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak darinya” (QS; An Nur : 31).

 

Makna ( إلا ما ظهر منها ) apa yang nampak darinya, yaitu dengan tanpa disengaja. Apabila hijab itu sendiri perhiasan, maka tidak boleh dipakai, dan tidak dinamakan hijab, sebab hijab adalah sesuatu yang menghalangi timbulnya perhiasan terhadap bukan muhrim.

 

4-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak sempit, ketat. Tidak membentuk lekuk tubuh dan aurat, maka jilbab harus luas dan lebar, sehingga tidak menimbulkan fitnah.

 

5-Hendaklah tidak memakai minyak wangi, yang menyebabkan timbulnya fitnah, yaitu rangsangan bagi laki-laki. Rasulullah bersabda:

 

 “Sesungguhnya wanita apabila memakai minyak wangi lalu lewat pada suatu majlis, maka ia adalah ini dan ini yaitu: ia wanita pezina” (HR. Ashabus sunan, Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih).

 

Dalam riwayat lain:

 “Sesungguhnya wanita bila memakai minyak wangi kemudian lewat pada suatu majlis/ perkumpulan kaum agar mereka mencium baunya, maka ia telah berzina”.

 

6-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki. Dalam hadits yang di riwayatkan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

 

 “Nabi r melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Dalam hadits yang lain:

 

 “Allah melaknat laki-laki yang bergaya perempuan dan perempuan yang bergaya laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

 

Maksudnya: perempuan yang menyerupai laki-laki dalam pakaiannya, modelnya, seperti perempuan zaman sekarang ini, begitu pula laki-laki yang menyerupai perempuan dalam pakaian, gaya bicara dan lain sebagainya. Kita mohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

 

(read more ...)



 

Menutup Aurat Yuk…!

Bismillah…

Saudariku seiman....

Bagi kita kaum Muslimin, tentu tahu kewajiban kita masing-masing. Mulai dari Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dll. Dan salah satu dari itu ya… “MENUTUP AURAT”

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” (Annur:31)

Keterangan :

Ayat ini menegaskan empat hal:

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT.

b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.

c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.

Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.

d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada.

Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.

2. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Keterangan :
Hadis ini menunjukkan dua hal:

a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

1.      Dari Al-Qur’an

a. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Al-Ahzab: 33).

Keterangan:
Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

b. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).

Keterangan:
Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

2.      Hadis Rasululloh SAW, bahwasanya beliau bersabda:

Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Keterangan:
Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

 

(read more ...)



Jul

08

 

1.                 Ya, dengan senyum cantik anda yang membangkitkan rasa cinta dan menebar kasih sayang kepada orang lain.

2.                 Ya, dengan tutur kata baik anda yang dapat menjalin persahabatan yang dianjurkan syariat dan menghapus semua rasa dengki.

3.                 Ya, dengan ketulusan derma anda yang dapat membahagiakan orang miskin, menggembirakan orang fakir, dan mengenyangkan orang yang lapar.

4.                 Ya, dengan duduk manis bersama Al-Qur’an seraya membaca, merenungi makna, mengamalkan kandungannya, bertobat, dan memohon ampun kepada-Nya

5.                 Ya, dengan banyak dzikir, memohon ampun, rajin berdoa dan suka memperbaharui tobat.

6.                 Ya, dengan mendidik anak-anak anda untuk mendalami agama, mengajari mereka sunnah dan membimbing mereka kepada hal-hal yang berguna bagi mereka.

7.                 Ya, dengan rasa malu dan jilbab seperti yang diperintahkan Allah kepada anda sebagai sarana memelihara diri dan kehormatan anda.

8.                 Ya, dengan berteman bersama wanita-wanita yang baik dari kalangan mereka yang mempunyai rasa takut kepada Allah, menyukai pengamalan agama, dan menghormati norma-norma etika.

9.                 Ya, dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, menghormati tetangga dan menjamin anak-anak yatim.

10.             Ya, dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, menelaah bacaan yang berguna, maka hal itu benar-benar merupakan hal yang amat menyenangkan lagi memberikan informasi yang benar

 

(read more ...)



DUA GOLONGAN YANG BELUM PERNAH

DILIHAT RASULULLAH  DAN TELAH

KITA LIHAT

Rasulullah  bersabda:

 

 “Dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah

aku lihat, yaitu: “suatu kaum yang memiliki cambuk,

seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para

wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggaklenggok

(jalannya), mengajarkan wanita berlenggaklenggok,

kepala mereka seperti punuk unta yang miring,

wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak

akan mencium wanginya, walaupun wanginya tercium

selama perjalanan ini dan ini ( jauhnya)” ( HR. Muslim ).

Berita Rasulullah r telah terbukti. Sungguh beliau

telah memberikan ciri-ciri yang tepat seperti orang

yang menyaksikannya.

 

Berpakaian tapi telanjang

Mereka memakai pakaian yang tipis, sehingga

kelihatan lekuk tubuhnya atau pakaian mini (bikini)

dan semisalnya. Wanita seperti ini berpakaian tapi

pada hakikatnya telanjang.

 

Maailat

Berpaling dari ta�at kepada Allah, dan dari

kewajiban-kewajiban berupa malu, enggan memakai

hijab dan jilbab. Mereka berlenggak-lenggok saat

berjalan dengan pakaian mini yang memperlihatkan

auratnya.

 

Mumilaat

Memalingkan wanita lain, dengan mengajarkan

kepada mereka bersolek, berdandan secara seronok

dan tidak menutup aurat, dengan berbagai macam

cara. Memalingkan hati laki-laki dengan rayuan manis

beracun iblis.

 

Kepala mereka seperti punuk unta

Menyanggul rambutnya keatas (kebanyakan rambut

sambungan dan pasangan, padahal Allah dan Rasul-

Nya melaknat wanita yang menyambung rambutnya

dan minta di sambungkan) seperti punuk unta yang

miring.

 

KEPADA SETIAP ORANG TUA

Allah  berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu

dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya

adalah manusia dan batu, penjaganya malaikatmalaikat

yang kasar, yang keras, yang tidak

mendurhakai Allah Y terhadap apa yang

diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu

mengerjakan apa yang diperintahkan(QS. At Tahrim: 6).

 

Ali bin Abi Thalib berkata: “Didiklah mereka dan

ajarilah terutama masalah dien Islam yang mulia ini”.

Imam Qatadah berkata: “Engkau perintahkan

mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan

kamu larang mereka dari maksiat dan berbuat dosa,

melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya dan

meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan”.

Wahai orang tua? bila ada orang yang berkata

kepadamu: “Bahwa gedungmu yang megah itu, jika

tidak engkau rawat dengan seksama, dan engkau jaga

dengan baik, dengan selalu mengontrol dan

memperbaiki setiap kerusakan sebelum kerusakan itu

parah, jika ini tidak engkau lakukan, niscaya

gedungmu yang megah itu akan roboh”.

Apa yang akan engkau kerjakan? tentu engkau akan

berusaha semaksimal mungkin agar gedungmu tidak

roboh, maka bagaimana sikapmu terhadap anak

perempuanmu, sedang Allah r telah memerintahmu

menjaganya dari api neraka.

 

Wahai para orang tua! Sesungguhnya para pemudi

yang telah hilang sifat malunya, yang sombong untuk

mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya mereka itu kita

lihat dan kita dengar, mereka tidak turun dari langit

dan tidak keluar dari perut bumi. Tapi mereka

sesungguhnya keluar dari rumahmu (pengawasanmu)

keluar dari rumah saudara dan famili muslimmu.

 

Akhi Muslim! bertaqwalah pada Allah!

Perhatikan anak puterimu melebihi perhatianmu

terhadap duniamu. Janganlah engkau termasuk orang

yang Rasulullah r maksudkan dalam sabdanya:

 

 “Tidak masuk surga Dayyus, para sahabat bertanya:

"Siapakah yang dimaksud dengan Dayyus itu wahai

Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Seorang yang tidak

ada (cemburu) terhadap muhrimnya”. Dalam riwayat

yang lain beliau  bersabda: “Seorang yang rela

kenistaan menimpa keluarganya” (HR. Muslim).

 

SALAM DAN KABAR GEMBIRA

Kepada Ukhti Muslimah !

Yang tegar dalam menghadapi serangan musuh yang

buas. Kepada Ukhti Muslimah yang menampar muka

setiap penyeru kebebasan dengan sikap konsisten,

komitmen, dan konsekwen terhadap ajaran Islam.

Kepada Ukhti yang selalu memegang teguh sifat

malu dan kesucian dirinya, kepada benteng yang

kokoh dalam menghadapi topan kebatilan.

Kepada Ukhti yang berpegang teguh kepada kitab

Allah dan selalu mengangkat panji Rasul-Nya seraya

berkata:

 

 “Dengan tangan kesucianku, akan aku jaga

kemuliaan hijab dan jilbabku

dan dengan kesucianku pula aku diatas temanteman

sebayaku.

 

Kepadanya khabar gembira dari Nabi :

 

“Sesungguhnya di belakang kamu ada hari-hari

kesabaran. Orang-orang yang berpegang teguh pada

hari itu mendapat pahala 50 orang dari kamu. Para

sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah sebesar pahala

50 orang dari mereka? Nabi r bersabda: “Bahkan dari

kamu”. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, dishahihkan

Albani). Juga kepadanya sabda Rasulullah yang lain:

 

 “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing

dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka

beruntunglah orang-orang yang asing, Rasulullah r

ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah ? Rasulullah r

menjawab: Mereka yang mengadakan perbaikan ketika

manusia rusak” (HR.Tirmidzi dan dishahihkan Albani).

Kepada mereka salam dari Allah, para muslimin dan

muslimat yang sabar dalam menjalankan perintah

Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya:

 

“Salam sejahtera untukmu, karena kesabaranmu,

dan sebaik-baik kesudahan surgalah balasannya” (QS;

 

(read more ...)



 RAMBU-RAMBU JALAN

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Untukmu yang masih dibalut keraguan untuk

memakai jilbab. Untukmu untaian ayat ilahi ini:

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan

tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila

Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu

ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)

tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai

Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat,

sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).

 

Untukmu yang belum sadar, yang berjalan tanpa

petunjuk, untukmu untaian sabda Rasulullah saw:

 

 “Janganlah seorang dari kalian menjadi orang yang

tak berpendirian, yang berkata: aku bersama orang

banyak, bila mereka baik, aku baik, bila mereka

berbuat jahat, akupun berbuat jahat, akan tetapi

mantapkan dirimu, bila mereka baik, maka berbuat

baiklah anda, dan jika mereka jahat, maka jauhilah

kejahatannya”.

 

Buatmu yang selalu berkata:

Bilamana aku

memakai jilbab di negeri kafir, manusia akan melihat

dan memperhatikanku, namun bila aku melepaskan

jilbabku, aku seperti mereka, tak ada yang

memperhatikanku.

 

Wahai puteriku yang cerdik dan pandai:

sesungguhnya melawan arus kejahatan, konsisten,

komitmen, dan konsekwen dalam kebenaran terutama

di negeri kafir adalah iman yang diserukan Allah,

tidak boleh seorangpun melakukan ijtihad menentukan

hukum padahal telah ada nash Al Qur’an dan Al

Hadits.

 

 

SEJENAK

Ukhti Al Muslimah…

 

Wahai wanita yang tunduk kepada kekafiran,

mereka berkata:

"engkau adalah wanita terpelajar. Diantara kami ada dokter wanita, ada sastrawati, ada

wartawati, ada dosen wanita yang mengajar di negeri

kalian. Islam tidak pernah melarang sedikitpun hal itu.

Tidak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan

perempuan. Sukakah engkau kepada kami? jawaban

kami hanya menyitir firman Allah:

 

“Orang-orang yahudi dan nashrani tak akan pernah

rela padamu sampai engkau mengikuti agama mereka.

Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah adalah

petunjuk yang sebenarnya, dan sesungguhnya jika

kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan

datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi

Pelindung dan Penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120).

 

Mereka berkata:

 “Cukup bagi saya ke-Islamanmu sebatas pada ibadah ritual semata. Adapun ilmu, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan duniamu, wajiblah engkau mengikuti cara kami”.

Sungguh benar sabda Rasulullah saw:

 

"Kamu akan mengikuti tradisi orang-orang

sebelummu, sejengkal demi jengkal, sehasta demi

hasta, hingga andaikan mereka memasuki lubang

biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya, kami

berkata: apakah mereka kaum Yahudi dan Nashrani?

jawab Rasulullah r siapa lagi kalau bukan mereka”

( HR. Muslim ).

 

Ukhti Al Muslimah!

Engkau seharusnya memperhatikan pakaianmu dan

perbuatanmu serta wajib mengikuti kepribadian Islam

sebagaimana apa yang engkau dengar, lihat dan baca.

Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak

kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang

penyair:

 

 “Wahai dikau yang selalu mengurusi badanmu.

Betapa banyak usaha yang telah engkau lakukan.

kepada Ukhti Muslimah 20

Apakah engkau mencari keuntungan dari sesuatu

yang jelas merugikan.

Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya.

Sebab dikau disebut manusia dengan jiwa, bukan

karena tubuh jasadmu.

 

Ukhti Al Muslimah!

Jadikan Khadijah radhiyallahu anha suri tauladan

dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan

jiwa. Jadikan Aisyah radhiyallahu anha tauladanmu

dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir

suri tauladanmu dalam kesabaran dan berpegang

teguh kepada agama Allah. Wahai ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair:

 

 “Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan

Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.

Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram.

ia akan berdaun rindang.

Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat

besar sepanjang masa.

 

Ukhti Al Muslimah !

Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak

menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta,

apakah mereka masih memajang fotomu, di sampulsampul

majalah, buku dan semisalnya, walaupun

kamu orang yang terpelajar? Masihkah mereka

memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu

pesawat, dengan dalih penghargaan terhadap wanita?

Masihkah engkau temui orang yang memperjuangkan

sempitnya ruang lingkup belajarmu?

Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati

kecantikan wajah dan kemolekan tubuh serta

merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu maka

merekapun pasti meninggalkanmu, seakan-akan

engkau adalah sebuah barang yang sudah habis masa

berlakunya.

 

PERINGATAN

Rasulullah saw bersabda:

 

 “Aku tidak meninggalkan fitnah sepeninggalku yang

lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita” (HR.

Bukhari Muslim).

 

Musuh-musuh Islam telah mengetahui, bahwa

kerusakan dan kerendahan moral wanita berarti

pengrusakan terhadap masyarakat secara universal

dan integral. Seorang tokoh aliran (free masonry) berkata:

“secangkir minuman keras, seorang biduanita dapat

menghancurkan ummat Muhammad melebihi

kekuatan seribu tank baja, peluru kendali, dan senjata

kimia yang canggih. Oleh karena itu buatlah mereka

tenggelam dalam cinta materi dan syahwat”.

Temannya yang lain berkata:

“Kita harus mempergunakan wanita sebab setiap

kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah

mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita telah

berhasil memporak-porandakan serdadu penolong

agama Islam”.

 

ANCAMAN

Kepada setiap orang yang berusaha menjadikan para

artis dan biduanita sebagai tauladan idola wanitawanita

muslimah, kepada mereka kami persembahkan

ancaman Allah ini:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang senang, agar

tersiar perbuatan keji dikalangan orang-orang yang

beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di

akhirat, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak

mengetahui” (QS. An Nur: 19).

 

Ancaman ini terhadap orang yang senang, lalu bagaimana terhadap orang yang melakukan ! tentu lebih dahsyat.

 

(read more ...)



 UKHTI AL MUSLIMAH

[SIAPA YANG MENYURUHMU MEMAKAI JILBAB]

 

Jangan terkejut sebelum engkau baca risalah ini.

 

· Seorang mahasiswi meminta kepada salah

seorang teman puterinya agar menemaninya

menghadap dosen laki-laki dalam mempertahankan

disertasinya untuk meraih gelar magister (MA).

temannya berkata: "tak tahukah engkau bahwa kita ini

hidup di abad 20?

 

· Seorang dokter wanita di salah satu rumah sakit,

ketika ia memakai pakaian dokter hilanglah malunya.

Wajah dan rambutnya serta pakaiannya terbuka.

Seakan-akan menanggalkan agama dan malu adalah

hal yang wajib bagi tugas kedokteran.

 

· Saya pernah berkunjung ke salah satu kerabat

yang saya kenal selalu menjaga kehormatan dan

hijab/jilbab. Tiba –tiba saya di kejutkan oleh

masuknya sopir pribadinya ke tempat pertemuan.

Seakan-akan ia salah satu anggota keluarga yang tidak

perlu menutup aurat darinya.

 

Ukhti..!! pernahkah engkau menduga, bahwa mereka

wanita muslimah sadar, mengapa mereka berjilbab??

Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka

pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adatistiadat

yang mereka warisi dari orang tua mereka dan

sebagai bakti kepadanya yang telah menyuruhnya.

Oleh sebab itu sebagai warisan suci,

maka wajib di jaga dan di lestarikan.

Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab?

Dan siapa yang menyuruhnya? Bukankah itu perintah

Allah ..!!

 

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanakmu,

dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka

mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang

demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,

karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

 

Tidakkah ia megetahui bahwa ia mentaati perintah

penciptanya yang memberi rizki yang menciptakan

langit dan bumi dan mengetahui mana yang tidak

pantas untuk makhluk-Nya.

Firman Allah:

 

 “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di

bumi”. (QS. Al Baqarah: 284).

Allah yang menciptakanmu:

 

“Demikianlah, itulah Allah tuhanmu, tidak ada tuhan

yang patut di sembah selain Dia. Pencipta segala

sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah

Pemelihara segala sesuatu” (QS. Al Anam: 102).

 

Yang memberimu nikmat:

 

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari

Allah jualah”. (QS. An Nahl: 53).

 

Yang mematikanmu:

 

“Dan datanglah sakaratul maut (kematian) sebanarbenarnya.

Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.”

( QS. Qaaf: 19).

 

Yang berfirman:

 

“Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka

Jahannam: apakah kamu sudah penuh ? dia

menjawab: masih adakah tambahan? Dan

didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang

bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari

mereka). (QS. Qaaf: 30-31).

 

Yang berfirman:

 

“Hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang yang

takwa kepada Dzat yang Maha Pemurah sebagai

perutusan (yang terhormat), dan kami menggiring orangorang

yang durhaka ke neraka Jahannam dalam

keadaan dahaga” (QS. Maryam: 85-86).

 

Yang mengadili pada hari yang menakutkan:

 

“Pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu,

lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari

anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala

wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam

keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak

mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” ( QS;

Al Hajj :2).

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Tidakkah engkau baca firman Allah:

 

 “Katakanlah kepada wanita yang beriman,

hendaklah mereka menahan pandangannya dan

menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan

perhiasannya kecuali (yang biasa) nampak darinya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke

dada mereka” (QS. An Nur: 31).

 

Yaitu tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya

kepada orang-orang asing (bukan muhrim) kecuali

sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan berupa

pakaian yang tidak menyolok, dan hendaklah

menjulurkan penutup kepalanya (jilbab) sampai ke

dadanya sehingga tertutup. Imam Bukhari

meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, ia

berkata:

 

 “Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama

yang berhijrah (muhaajiraat), yaitu ketika Allah

menurunkan firman-Nya:

 

“Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke

dada mereka” (QS. An Nur: 31).

 (Mereka langsung merobek gordeng mereka untuk di

jadikan jilbab).

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Janganlah berkata: “Kita bukan mereka” bagaimana

mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai?

jangan engkau heran! seorang penyair berkata:

 

Berusahalah meniru orang-orang yang mulia walau

tidak sama persis seperti mereka.

Sebab meniru orang yang mulia itu merupakan

keberuntungan.

 

Ukhti Al Muslimah!

 

Tidakkah engkau baca firman Allah Y tentang isteriisteri

Nabi :

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada

mereka (isteri-isteri Nabi ) maka mintalah dari

belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi

hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).

 

Lebih suci dari hati siapa, wahai ukhti ? lebih suci

dari hati isteri-isteri Nabi , (ummahatul mu’minin).

Lebih suci bagi hati para sahabat Nabi, umat yang

terbaik setelah Nabi ?

 

Bagaimana dengan hati kita pada masa sekarang?

Apakah Dzat Yang Menciptakanmu, Yang mengetahui

cara yang terbaik untuk mensucikan hati, sama

dengan orang yang tidak mengetahui hal itu?

 

Ukhti Al Muslimah …!

 

Allah berfirman:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanak

perempuan dan istri-istri orang beriman: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).

 

Ibnu Abbas t berkata: “Allah memerintahkan

isteri-isteri orang beriman, apabila keluar dari rumah

untuk suatu keperluan, hendaklah menutup wajahnya

dari atas kepala dengan jilbabnya”.

 

Allah memerintahkan isteri-isteri orang yang

beriman melakukan hal tersebut di atas, agar mereka

dikenal dengan tertutup rapi, bersih, dan suci. Dengan

demikian ia tidak akan di ganggu orang- orang yang

jahat.

Coba engkau perhatikan: siapa yang lebih sering

digoda dan diganggu lelaki di jalan? tentu mereka yang

suka bersolek ala jahiliyah.

Perhatikan firman Allah di bawah ini:

 “Dan perempuan-perempuan yang telah berhenti (dari

haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin lagi,

tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian

mereka tanpa (bermaksud) menampakkan perhiasan.

Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An

Nur: 60 ).

 

Allah memberitahukan bahwa berjilbabnya

perempuan tua yang tidak ingin menikah lagi serta

tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama,

walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk buka

wajah dan tangan dengan syarat berlaku sopan

(Islami).

Al Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk

memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek

ala jahiliyah (tabarruj).

 

Ukhti Al Muslimah!

 

Dengarlah kata ibundamu, Ummul Mu’minin ketika

bertanya kepada Nabi :

 “Apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung baju

mereka? Nabi r bersabda: Hendaklah ia turunkan satu

jengkal (dari mata kaki) Ummul Mu’minin berkata:

“kalau begitu akan tersingkap telapak kaki kami, wahai

Rasulullah” Nabi bersabda: “turunkan satu hasta dan

jangan dilebihkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Subhanallah! Ummahatul Mu’minin meminta agar

diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita

malah banyak memendekkan (menaikkan ke lutut

bahkan ada yang ada di atasnya) dan mereka tak

peduli.

 “Nabi dan kitab suci kita melarang telanjang, tidak

menutup aurat, maka tanyakan kepada hadits dan

ayat suci Al Qur’an”

 

Adapun hijab artinya adalah menutup badan, dan

sebagai ciri dari sekumpulan peraturan sosial yang

berhubungan dengan keadaan wanita dalam undangundang

Islam, yang telah ditetapkan Allah untuk

menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan,

kemuliaan, dan keluhuran wanita. Pakaian yang

memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang

lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk

membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat,

yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan

Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini.

(read more ...)



Ukhti Al Muslimah

Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya berusaha

untuk menjauhkan wanita muslimah dari Agama Islam

yang haq dan lurus ini. Di setiap tempat dan

kesempatan mereka selalu melontarkan tuduhantuduhan

keji yang ditujukan kepada wanita-wanita

mu’minah yang suci, mereka mengatakan bahwa:

“Islam adalah penjara bagi wanita” karena wanita

dalam Islam wajib di rumah, tidak di izinkan keluar

kecuali ada hajat".

“Menetapnya wanita di rumah, melemahkan

ekonomi suatu negara”.

“Poligami adalah perbuatan hewan”.

“Perceraian adalah suatu kedzaliman”.

“Wanita-wanita muslimah itu sakit, penuh dengan

kadas dan panu, oleh karena itu mereka memakai

hijab untuk menutupi aibnya”.

Ukhti Al Muslimah …!

 “Jangan kau ikuti langkah-langkah syetan” (QS. An

Nur: 21).

 

Ukhti Al Muslimah …!

Jangan engkau dengar kata-kata mereka, sebab

mereka adalah penganjur yang berdiri di tepi neraka

Jahannam dan mengajak serta menyeret ke dalam api

neraka Jahannam.

“Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”

(QS. Al Kahfi: 5)

 

Ukhti Al Muslimah …!

Tahukah engkau apa yang mereka inginkan? mereka

hanya menginginkan satu perkara. Menghancurkan

agama Islam dan merusak generasi Islam dan

menyebarkan kekejian di tengah masyarakat beriman.

Mereka menghendaki agar wanita-wanita muslimah

yang suci keluar dari rumahnya, dari bentengnya.

Mereka menghendaki agar engkau menjadi barang

murahan, sebagai pemuas syahwat.

Mereka menipumu agar engkau keluar dari surga

sebagaimana iblis mengeluarkan bapak kita Adam

darinya. Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari

surga dalam keadaan telanjang, tanpa pakaian, yang

menutup aurat mereka.

Para pengumbar kejahatan pun meniru gaya dan

cara yang sama, jangan kamu hiraukan mereka!

Penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, pasti di situ

ada kebahagiaan sejati.

 

Allah  hanya menghendaki darimu kesucian,

kemuliaan dan keluhuran.

Firman Allah :

“Akan tetapi Allah hendak mensucikan dan

menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu”. (QS. Al

Maidah: 6).

Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang

taubat dan mencintai orang-orang yang melakukan

kesucian” (QS. Al Baqarah: 222).

Semoga Allah  selalu menunjuki kita ke jalan yang

lurus. Amiin.

 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah  Rabb

sekalian alam, shalawat serta salam semoga tetap

tercurah kepada Nabi yang mulia Muhammad saw,

keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang

mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.

(read more ...)



 Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima

puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku
telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak
orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu
dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan
pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari
orang lain sebelumnya.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral,
menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena
tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa.
Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin
bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan
pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum
tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu,
putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam
lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan
berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki
tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau
katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah
mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya
kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis
kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang
dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak
dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang
sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan
pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu
tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa
yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian
engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan
penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari
mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang
menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis,
keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang
dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu
selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan
menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat
perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu
 
lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan,
maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak
nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki
itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu
untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita,
bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan
prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah
menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia
lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih
wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik
karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya
adalah seorang wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian
kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanitawanita
asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri,
akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak
mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga
sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini?
Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki
untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa
wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi
korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada
Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan
akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu
penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan
kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadisgadis
remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda
mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah
keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia
ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah
menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat
itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh
simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati
dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya,
saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya.
Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi
bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?
Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah
akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian
tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk
menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila
kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga
wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka
tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis
mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah
yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi
setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu
sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan
yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan
walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang
yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya
ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas
pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak
berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri
tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami
dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di
jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah,
berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia
lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya
sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita,
pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah
ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan
seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan
bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan
pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat
angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang
mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang,
oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan
yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi,
kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong
tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada
Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat
memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari
Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa,
pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan
telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka
adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah
Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,,
kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat
mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido
Wahai Putriku
seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah
mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak
beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta.
Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat
bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin
mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan
mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk
memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara
kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan
beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa
yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis,
jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan
yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan
kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri
dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan
kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya
adalah seorang ayah dari empat orang gadis. Bila saya membela
kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian
bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain
memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan
bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat
ditemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau
menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah
kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan
kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun
lalu pergi menelantarkannya, persis seperti anjing meninggalkan
bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini
janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan
di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau
perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.
(wallahul musta’an)
(read more ...)



 

 

 

Gembiralah dengan hidup ini

                              karena hidup ini indah dan jadikanlah ia

               sebagai hamparan untuk setiap kebaikan

Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya. Bahkan lebih senang dengan tobat yang dilakukan oleh seorang hamba kepada-Nya. Mahasuci Allah, Mahabesar lagi Maha Penyayang. Dia gembira dengan tobat hamba-Nya yang pada akhirnya hamba yang bersangkutan beroleh surga-Nya dan meraih ridha-Nya. Allah SWT menyerukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertobat melalui firman-Nya:

“Bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nuur: 31)

Tobat adalah mencuci kalbu dengan airmata dan membakarnya dengan penyesalan. Tobat menimbulkan rasa terbakar dalam kalbu, rasa panas dalam jiwa, rasa hancur dalam perasaan, dan rasa basah dalam airmata. Sesungguhnya tobat adalah permulaan jalan yang harus ditempuh oleh para salihin, modal orang-orang yang beruntung, titik tolak keberangkatan kaum muridin, dan kunci istiqomah kaum yang mencintai Allah. Orang yang bertobat mengemis dan merendahkan diri kepada Allah, berseru dan menangis. Apabila para hamba tenang, kalbunya tidak pernah tenang. Jika semua makhuk merasa tentram, rasa takutnya tidak pernah hilang. Apabila semua makhluk merasa senang, rintihan kalbunya tidak pernah berhenti. Dia berdiri dihadapan Tuhannya dengan hati yang bersedih dan pikiran yang susah seraya menundukkan kepalanya dengan tubuh yang menggigil. Apabila ia teringat dosa-dosa besarnya dan kesalahan-kesalahannya yang banyak, bergejolaklah kesedihannya, menyala kembalilah kebakaran hatinya, dan bertambah deraslah cucuran airmatanya. Nafasnya tersengal-sengal dan suara rintihannya begitu membakar kalbunya. Ia menguruskan dirinya sendiri untuk perlombaan di hari esok dan meringankan dirinya dari beban keduniawian agar dapat berlalu dengan cepat di atas jembatan neraka jahannam nanti.

(read more ...)