Profile

  • Abdullah syauqi
    Abdullah syauqi
    "berjuanglah untuk kejayaan islam" “Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya”

Tag





 ibnu ‘Umar  Radhiallahu Anhu berkata :

 

( كُناَّ نُخَيِّرُ بَيْنَ الناَّسِ فِيْ زَمَانِ رَسُوْلِ اللهِ

 

 

صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ )


“Kami memilih siapa orang yang terbaik pada zaman

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, lalu kami memilih Abu Bakar, kemudian

‘Umar dan kemudian ‘Utsman” (HR. al-Bukhāriy

a. Seorang Khalifah Yang Mendapat Petunjuk.

Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

Sesungguhnya pada ummat-ummat sebelum kalian ada orang-orang yang diberi ilham, dan seandainya pada umatku ada seorang yang seperti itu maka ia adalah ‘Umar” (HR. al-Bukhāriy)

Abu Dzar Radhiallahu Anhu berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

Sesungguhnya Allah telah meletak-kan kebenaran pada lidah ‘Umar, dan dia berbicara dengan kebenaran tersebut(HR. Ibnu Mājah, dishahihkan oleh al-Albāniy)

‘Uqbah bin ‘Amir rda berkata bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Seandainya setelahku ada Nabi, tentulah ia adalah ‘Umar bin al-Khaththab” (HR. at-Tirmidziy, dihasankan oleh al-Albāniy)

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu Anhu berkata, “Tidaklah ada satu perkara yang timbul di antara manusia, lalu orang-orang berkata begini-begitu, sementara ‘Umar berkata begini, kecuali al-Qur’an turun seperti apa yang dikatakan ‘Umar tersebut” (HR. at-Tirmidziy dan Ibnu Mājah, dishahihkan oleh al-Albāniy).

Mujahid rhm berkata, “Adalah ‘Umar berpendapat tentang sesuatu, kemudian al-Qur’an turun sesuai dengan pendapatnya tersebut”

‘Umar Radhiallahu Anhu berkata, “Aku sesuai dengan Rabb-ku dalam tiga hal; aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita jadikan maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim waktu membangun Ka’bah) sebagai tempat shalat?’, maka turunlah ayat, “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat” [QS. al-Baqarah (2): 125], dan aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ikut masuk kepada istri-istrimu orang-orang yang baik dan yang fasik, maka perintahkanlah istri-istrimu untuk berhijab”, maka turunlah ayat hijab [QS. al-Ahzāb (33): 59]. Pernah istri-istri Nabi bersepakat dalam ghīrah (kecemburuan) maka aku berkata, “Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti untuknya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian”, maka kemudian turunlah ayat seperti itu [QS. at-Tahrīm (66): 5](HR. al-Bukhāriy dan Muslim. Dalam riwayat Muslim ada tambahan, “Dan dalam masalah tawanan perang Badar”]

Sebelum diharamkannya khamr (minuman keras), ‘Umar pernah berdoa, “Ya Allah, terangkanlah untuk kami tentang khamr dengan penjelasan yang tuntas”, kemudian Allah menurunkan ayat yang mengharamkannya [QS. al-Mā’idah (5): 90-91]

b. Kesederhanaannya.

Tatkala ghanīmah (harta rampasa perang) dari tentara Kisra (Raja Persia) didatangkan kepada Khalifah ‘Umar Radhiallahu Anhu, maka ia melihat perhiasan dunia yang sangat menarik lagi memukau, jutaan dinar telah dibelanjakan untuk mewujudkannya, akan tetapi ternyata itu semua tak mampu menolong para pemiliknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceraiberaikan mereka di dunia, sementara di akhirat nanti telah disiapkan untuk mereka adzab yang pedih. Kemudian ghanimahghanimah tersebut dikirim kepada ‘Umar untuk dibagikan kepadanya dia dan kaum muslimin. Tiba-tiba beliau membandingkan dengan pan-dangan mata dan bashīrah (pandangan hati)nya antara kehidupannya dengan kehidupan kedua shahabatnya, yaitu Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam dan Abu Bakar Radhiallahu Anhu. Maka ia mendapati bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelamatkan keduanya dari melihat harta yang menggoda tersebut.

Maka iapun takut jika diuji dengan harta tersebut sebagai istidrāj (kenik-matan yang menyeret seseorang ke-pada kebinasaan). Iapun menangis seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mencegah harta ini dari rasul-Mu, padahal dia lebih Engkau cintai dan lebih mulia di sisi-Mu dari pada aku. Dan Engkau telah mencegahnya dari Abu Bakar, padahal dia lebih Engkau cintai dan lebih mulia daripada aku.  Kemudian Engkau memberikannya kepadaku, maka aku berlindung kepada-Mu dari Engkau be-rikan harta ini kepadaku untuk mencelakakanku”. Kemudian beliaupun menangis hingga orang-orang yang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Lalu ia berkata kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallahu Anhu, “Aku ber-sumpah kepadamu agar engkau men-jualnya lalu membagikannya kepada manusia sebelum datangnya sore hari”

Ahnaf bin Qays Radhiallahu Anhu berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di pintu rumah ‘Umar tiba-tiba lewatlah seorang budak wanita. Orang-orang berkata, ‘Ini budak wanita milik Amirul Mukminin”, mendengar itu ‘Umar membantah, ‘Bukan, ia bukan milik Amirul Mukminin, tapi termasuk dari harta Allah (baitul mal)’ Lalu kami bertanya, ‘Lalu apa yang boleh baginya dari harta Allah?’, beliau menjawab, ‘Sesungguhnya tidak halal bagi ‘Umar dari harta Allah kecuali dua pakaian, satu pakaian untuk musim panas serta apa yang saya pakai untuk haji dan ‘umrah. Makananku dan keluargaku tidak berbeda dengan apa yang dimakan oleh salah seorang dari Quraisy”

Ketika pada masanya terjadi musim paceklik, maka selama setahun beliau tidak pernah makan daging atau minyak samin.

Qatadah rhm berkata, “’Umar mengenakan jubah dari wol yang bertambal padahal beliau adalah khalifah. Ia berkeliling di pasar-pasar dengan membawa tongkat kecil di pundaknya untuk mendidik orang-orang”

Anas Radhiallahu Anhu berkata, “Aku melihat em-pat tambalan di baju ‘Umar di antara dua pundaknya”

Suatu hari beliau menjenguk ‘Ashim, putranya. Beliau dapati anaknya sedang makan daging. ‘Umar berkata, “Apa ini?” ‘Ashim menjawab, “Kami sedang berselera untuk makan daging”, ‘Umar berkata, “Apakah setiap kali engkau berselera sesuatu engkau akan mema-kannya? Cukuplah sebagai pemborosan jika seseorang memakan semua yang diinginkannya”

C. Rasa Takutnya Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Anas bin Malik rda berkata, “Aku pernah masuk satu kebun lalu aku men-dengar ‘Umar berkata –antara aku dan dia terhalang sebuah tembok–, ’Umar bin al-Khaththab Amirul Mukminin, ah!! ah!! Sungguh engkau harus takut kepada Allah wahai anak al-Khaththab, atau kalau tidak maka Allah akan me-nyiksamu”

al-Hasan Radhiallahu Anhu berkata, “Kadang-kadang ketika ‘Umar membaca satu ayat dari bacaan rutinnya, maka ia terjatuh sakit hingga dijenguk berhari-hari”

Muhammad bin Sirin Rahimahullah berkata, “Suatu hari mertua ‘Umar datang me-nemuinya, lalu ia minta supaya ‘Umar memberinya sejumlah uang dari Baitul Mal. ‘Umar membentaknya seraya ber-kata, “Engkau ingin agar aku menghadap Allah sebagai raja yang berkhianat?” kemudian ‘Umar memberinya dari hartanya sendiri sebanyak sepuluh ribu dirham.

Demikianlah sikap wara’ ‘Umar Radhiallahu Anhu, hingga an-Nakha’i berkata, “Sesung-guhnya ‘Umar biasa berdagang pada-hal beliau adalah seorang khalifah”

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu Anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat ‘Umar marah lalu disebut nama Allah di sisinya atau seseorang membaca ayat al-Qur’an, melainkan marahnya akan berhenti dan segera mengurungkan niatnya”

D. Keutamaannya 

Ibnu ‘Umar rda dan Abu Hurai-rah rda berkata bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi berada di samping sumur yang ada embernya. Lalu aku menimba dari sumur itu sampai apa yang dikehendaki Allah. Kemudian ember itu diambil oleh Abu Bakar lalu ia menimba satu atau dua ember dan pada timbaannya ada kelemahan tetapi Allah mengampuninya. Kemudian datanglah ‘Umar lalu ia pun mengambil air dari sumur itu maka di tangannya ember tersebut berubah menjadi besar. Aku tidak pernah melihat orang kuat dari kalangan manusia yang berbuat menakjubkan seperti yang dilakukan olehnya sehingga orang-orang pun minum dengan puasnya” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

an-Nawawi rhm berkata bahwa hal ini adalah isyarat tentang kekhilafahan Abu Bakar dan ‘Umar, serta banyaknya futūhāt (pembukaan negeri) serta ber-jayanya Islam pada masa ‘Umar.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu berkata, “Sesungguhnya masuk Islamnya ‘Umar sebuah kemenangan besar, hijrahnya merupakan tanda pertolongan Allah, dan khilafahnya merupakan rahmat dari-Nya bagi kaum muslimin. Kami tidak ada yang berani shalat di Ka’bah secara terang-terangan hingga ‘Umar masuk Islam”

Perkataan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu tersebut menggambarkan  kepada kita begitu pentingnya ‘Umar bin al-Khath-thab bagi perjalanan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Wahai Ibnu al-Khaththab (‘Umar), demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu berjalan di satu jalan melainkan ia mengambil jalan lain yang bukan jalanmu” (HR. al-Bu-khāriy dan Muslim)

‘Aisyah Radhiallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Sesunggguhnya aku melihat setan, jin dan manusia lari dari Umar” (HR. at-Tirmidziy)

Ibnu ‘Umar Radhiallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Ketika aku sedang tidur aku meminum susu hingga aku lihat rasa puas me-ngalir sampai di kuku-kukuku kemudian aku berikan susu tersebut kepada ‘Umar. Para sahabat berkata, “Apa yang engkau ta’wilkan tentang mimpi itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: Ilmu” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim

E. Pujian Para Sahabat dan as-Salaf Terhadapnya.

Abu Bakar ash Shiddiq Radhiallahu Anhu berkata, “Tidak ada seorang laki-laki yang lebih aku cintai di muka bumi ini selain dari ‘Umar”

Abu Bakar Radhiallahu Anhu tidak melihat orang yang lebih tepat untuk memegang ja-batan khilafah sepeninggal beliau selain ‘Umar Radhiallahu Anhu, maka beliau pun berwasiat agar penggantinya sebagai khalifah adalah ‘Umar Radhiallahu Anhu. Ketika orang-orang bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang akan engkau katakan kepada Rabb-mu sementara engkau te-lah menunjuk ‘Umar sebagai khalifah?” Beliau menjawab, “Akan aku katakan kepada-Nya, aku tunjuk untuk memimpin mereka orang yang terbaik di antara mereka”

Ibnu ‘Umar Radhiallahu Anhu berkata, “Aku tidak melihat seorang laki-laki pun setelah Nabi Salallahu Alaihi Wasalam semenjak beliau wafat, orang yang lebih tegas dan pemurah selain dari ‘Umar”

Hudzaifah bin al-Yaman Radhiallahu Anhu berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang laki-laki yang tidak takut di jalan Allah kepada celaan orang-orang yang suka mencela selain ‘Umar”

F. Wafatnya.

Anas bin Malik Radhiallahu Anhu berkata bahwa Nabi Salallahu Alaihi Wasalam pernah naik ke bukit Uhud dan bersama beliau ada Abu Bakar Radhiallahu Anhu, ‘Umar Radhiallahu Anhu dan ‘Utsman Radhiallahu Anhu. Tiba-tiba bukit Uhud bergetar, maka beliau meng-hentakkan kakinya seraya berkata, “Tenanglah wahai Uhud, tidak ada yang di atasmu selain Nabi atau shiddiq atau dua orang syahid” (HR. al-Bukhāriy)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa ‘Umar akan dibunuh sebagai syahid. Dan memang terbukti.

Ketika beliau sedang bersiap-siap untuk mengimami shalat Shubuh, tiba-tiba muncul seorang Majusi yang bernama Abu Lu’lu’ah yang telah lama memendam kebencian kepada ‘Umar, sebilah belati dia tikamkan ke pundak dan pinggang ‘Umar. Beliaupun terjatuh dan segera diboyong ke rumahnya 

Para shahabat yang menengoknya menghibur ‘Umar dengan menyebut-kan jasa-jasa kebaikannya. Tetapi beliau berkata, “Sungguh demi Allah, aku berharap seandainya aku keluar dari dunia ini dengan impas, tidak ada dosa dan tidak ada pahala bagiku, sedangkan persahabatanku dengan Rasulullah tetap kumiliki”. Kemudian beliau berkata pula, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang Muslim” 

G. Kabar Gembira Baginya.

Abu Hurairah Radhiallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi berada di surga. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita sedang berwudhu’ di samping sebuah istana lalu aku bertanya, ‘Mi-lik siapakah istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik ‘Umar’ Kemudian aku teringat akan sifat cemburumu (wahai ‘Umar) lalu aku pun berpaling ke belakang”. Mendengar itu ‘Umar pun menangis  seraya berkata, ‘Apakah terhadapmu aku akan cemburu wahai Rasulullah?” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

‘Ali bin Abi Thalib rda berkata bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam pernah bersabda:

“Abu Bakar dan ‘Umar adalah penghulu para penghuni syurga dari kalangan orang tua mulai dari orang-orang yang pertama (al-awwalin) sampai orang-orang yang terakhir (al-akhirin), selain para nabi dan rasul. Janganlah engkau beri tahu mereka berdua –wahai Ali– ketika mereka berdua masih hidup” (HR. Ibnu Mājah dan at-Tirmidziy, dishahihkan oleh al-Albāniy) 

Abdullah bin Abbas Radhiallahu Anhu berkata, “Ketika ‘Umar telah diletakkan di atas pembaringannya (sehabis ditikam), maka orang-orang mengelilingi dan mendoakannya sebelum beliau diang-kat, ketika itu aku berada di antara mereka, tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari belakangku sambil memegang pundakku, ternyata ia adalah ‘Ali. Ia mendoakan rahmat bagi ‘Umar seraya berkata, “Tidaklah aku tinggalkan seorang laki-laki yang aku ingin menghadap kepada Allah dengan membawa amal seperti amalnya selain engkau wahai ‘Umar. Demi Allah, aku menduga bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama kedua shahabatmu, sering sekali aku mendengar Nabi berkata, ‘Aku pergi  bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ‘Umar” (HR. al-Bukhāriy).

Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atasmu wahai shahabat mulia.

Semerbak harum syurga menung-gumu dengan penuh kerinduan.

Dan kami haturkan berjuta terima kasih atas perjuanganmu!

Semoga perjuangan dan keteladananmu dapat kami contoh!

(teamhasmi.org)

(read more ...)



Saudara group pengobatan islami yang di mulyakan Alloh Swt...Obat pada umumnya adalah sesuatu yang tidak disukai, pada saat yang lampau anak yang sulit makan sering dibawa kepada mbah bidan bayi untuk di “cekok” agar nafsu makannya menjadi normal. Dengan susah payah sianak meronta dan menangis tidak menyenangi apa yang dicekokkan kedalam dirinya. Namun dari sekian pengalaman panjang Alhamdulillah, banyak anak-anak yang nafsu makannya bangkit normal setelah mendapatkan perawatan darinya.

Obat selamanya dirasakan pahit oleh orang yang sedang sakit. Demikian pula kebenaran Al-Islam selamanya dirasakan pahit oleh orang-orang yang masih suka memperturutkan hawa nafsu. Selama manusia masih menuhankan hawa nafsu maka akan merasa susah dan merasa terkungkung dan terbebani dengan Al-Islam.

Untuk merasakan islam secara lezat dan istiqomah dengannya, biasa dilakukan dengan pengajaran dan pendidikan di pondok-pondok pesantren. Para ustadz-ustadz sepuh yang telah banyak makan garam mendidik diri dan menggeluti serta mendakwahkan islam, dengan sabar dan teliti mendidik anak-anak asuhnya untuk sabar menelusuri jalan-jalan ittiba’ Rasulullah SAW dalam memahami dan mengamalkan kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kesabaran para ustadz-ustadz sepuh yang sudah merasakan lezatnya islam, demikian sabar mendidik anak-anak muda yang jiwanya masih muda, yang hawanafsunya masih ganas untuk dipuaskan. Namun kesabaranlah yang harus dikedepankan. Rasulullah pernah bersabda yang artinya;

Saudaraku pengobatan islami. Dari Nawas bin Sam’an r.a. berkata; Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Allah telah menjadikan perumpamaan akan jalan yang lurus. Di kanan kiri sepanjang jalan itu ada dua pagar, yang pada kedua-duanya ada pintu-pintu yang terbuka, dan pada tiap-tiap pintu ada tabir yang dibelah, dan diawal jalan lurus itu ada seorang penyeru yang berkata:” Hai manusia , masuklah kamu sekalian ke jalan lurus itu dengan bersama-sama dan janganlah menyimpang” Dan ada seorang penyeru lagi yang berseru diatas jalan. Maka jikalau ada seorang manusia hendak membuka sesuatu dari pintu-pintu (di kanan kiri) tadi, penyeru diatas jalan berkata, “Kasihanilah engkau, janganlah engkau membuka pintu, karena jika engkau membukanya niscaya engkau memasukinya.” Adapun jalan lurus itu adalah Al-Islam, dan kedua pagar itu ialah batas-batas Allah Ta’ala, dan penyeru yang ada diatas permulaan jalan itu ialah kitab Allah (Al-Qur’an), dan yang berseru dari sebelah atas itu adalah juru pemberi ingat(dari) Allah yang ada dalam hati tiap-tiap orang Islam” (HR Ahmad dan Al-Hakim)

Demikian jelasnya gambaran tentang jalan lurus dan jalan-jalan yang menyimpang. Para Ustadz-ustadz sepuh sudah banyak makan asam garam tentang jalan lurus Al-Islam, serta mengetahui jalan-jalan menyimpang yang bila kita mencoba membukanya, maka pasti manusia akan terjerumus didalamnya.

Jaman modern seperti sekarang ini, ketika pergaulan budaya telah mengglobal nampak disana-sini pintu-pintu penyimpangan semakin banyak dan semakin lebar. Sehingga bila seseorang tidak benar-benar perpegang teguh dan memahami jalan lurus(Al-Qur’an) kemungkinan besar akan terjerumus kedalam jalan-jalan yang menyimpang. Sahabat Ali r.a pernah menyampaikan hadist yang artinya:

Dari ‘Ali ra berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya (dikalangan umat) akan ada fitnah. ” Maka aku berkata: ” Bagaimanakah jalan keluar daripadanya, ya Rasulullah?” Beliau SAW bersabda: “Kitab Allah, didalamnya berita dari apa-apa yang sebelum kamu, khabar segala apa yang(terjadi) di antara kamu. Dan ia membentangkan yang benar dan yang salah, dia bukannya permainan. Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongan(merasa tidak butuh) niscaya Allah membinasakannya. Barangsiapa yang mencari petunjuk selain daripanya, tentu Allah menyesatkannya. Dan itulah tali Allah yang kokoh kuat. Peringatan yang bijaksana, dan itulah jalan lurus. Dia tidak dapat digelincirkan oleh hawa nafsu, dan tidak pula dapat dicampuri oleh perbuatan manusia, dan tidak akan merasa kenyang para ahli ‘ ilmu pengetahuan dari padanya, dan dia tidak akan hancur karena banyaknya sanggahan(penolakan), dan tidak akan habis-habisnya keajaiban-keajaibannya, dan pula bagi bangsa jin tidak ada berhentinya tatkala mendengar bacaan yang mengherankan, yang menunjukkan(memimpin) kepada jalan kecerdikan. “Barangsiapa yang berkata dengan dia, tentu benar, dan barangsiapa berusaha (bekerja) dengan pimpinannya, tentu diberi pahala dan barang siap yang menghukum dengan dia, tentu adil, dan barang siapa yang berseru dengannya, tentu ia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.” (HR At-Turmudzi)

Begitulah Al-Qur’anul Karim, memiliki kedudukan yang amat mulia dan amat tinggi. Dan sesuatu yang harus dipelajari, dicintai dan dipegang teguh sepanjang kehidupan dari generasi kegenerasi. Agar dapat hidup di dunia dengan kwalitas tinggi, sehingga pulang kepada Allah dengan penuh kebahagiaan dan puas, hidup didunia dengan hidup yang berkwalitas tinggi, pulang ke akherat penuh dengan amal-amal yang membahagiakan.Terimakasih atas partisipasinya

(read more ...)



 Syirik besar adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah. Ia memohon kepada sesuatu itu sebagaimana ia memohon kepada Allah. Atau melakukan padanya suatu bentuk ibadah, seperti istighatsah (mohon pertolongan), menyembelih hewan, bernadzar dan sebagainya.

Dalam Shahihain disebutkan, Ibnu Mas’ud meriwayatkan, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, "Dosa apakah yang paling besar?" Beliau menjawab:


"Yaitu engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dialah yang menciptakanmu." (HR. Al-Bukhari dan Mus-lim)

MACAM-MACAM SYIRIK AKBAR / BESAR

Syirik dalam do’a:

Yaitu berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, baik kepada para nabi atau wali, untuk meminta rizki atau memohon kesembuhan dari penyakit. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zha-lim."(Yunus: 106)

Zhalim yang dimaksud oleh ayat ini adalah syirik. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:

"Barangsiapa meninggal dunia sedang dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya dia masuk Neraka." (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa berdo’a kepada selain Allah, baik kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir merupakan perbuatan syirik adalah firman Allah:

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui," (Faathir: 13-14)

Syirik dalam sifat Allah:

Seperti kepercayaan bahwa para nabi dan wali mengetahui hal-hal yang ghaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
"Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-An’aam: 59)

Syirik dalam mahabbah (kecintaan):

Yang dimaksud syirik dalam mahabbah yaitu ia mencintai seseorang baik wali atau lainnya sebagaimana kecintaannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Ta’ala berfirman:

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Syirik dalam keta’atan:

Yaitu keta’atan kepada ulama atau syaikh dalam hal kemaksiatan, dengan mempercayai bahwa hal tersebut dibolehkan. Allah berfirman:
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (At-Taubah: 31)

Ta’at kepada para ulama dalam hal kemaksiatan yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Atau sebaliknya, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Ta’at kepada para ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menegaskan:

"Tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khalik (Allah)." (HR. Ahmad, hadits shahih)

Syirik hulul:

Yaitu mempercayai bahwa Allah menitis kepada para makhlukNya. Ini adalah aqidah Ibnu Arabi, seorang shufi yang meninggal dunia di Damaskus. Sampai-sampai Ibnu Arabi mengatakan:

"Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah Tuhan.
Duhai sekiranya, siapakah yang mukallaf?"

Seorang penyair shufi lainnya, yang mempercayai aqidah hulul bersenandung:

"Tiada anjing dan babi itu, melainkan tuhan kita (juga).
Dan tiadalah Allah itu, melainkan seorang rahib yang ada di gereja."

Syirik tasharruf (tindakan):

Yaitu keyakinan bahwa sebagian para wali memiliki keleluasaan untuk bertindak dalam urusan makhluk. Percaya bahwa mereka bisa mengatur persoalan-persoalan makhluk. Mereka namakan para wali itu dengan "wali Quthub". Padahal Allah Ta’ala telah menanyakan orang-orang musyrik terdahulu dengan firmanNya:
"Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab, ’Allah’." (Yunus: 31)

Syirik khauf (takut):

Yaitu keyakinan bahwa sebagian dari para wali yang telah meninggal dunia atau orang-orang yang ghaib bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudharat (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada para wali atau orang-orang tersebut.

Karena itu, kita menjumpai sebagian manusia berani bersumpah bohong atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama wali, karena takut kepada wali tersebut. Hal ini adalah kepercayaan orang-orang musyrik, yang diperingatkan Al-Qur’an dalam firmanNya:
"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah." (Az-Zumar: 26)

Adapun takut kepada hewan liar atau kepada orang hidup yang zhalim maka hal itu tidak termasuk dalam syirik ini. Itu adalah ketakutan yang merupakan fitrah dan tabiat manusia, dan tidak termasuk syirik.

Syirik hakimiyah:

Termasuk dalam syirik hakimiyah (kekuasaan) yaitu mereka yang membuat dan mengeluarkan undang-undang yang bertentangan dengan syari’at Islam serta membolehkan diberlakukannya undang-undang tersebut. Atau dia memandang bahwa hukum Islam tidak lagi sesuai dengan zaman.

Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para hakim (penguasa, yang membuat serta memberlakukan undang-undang), serta orang-orang yang mematuhi dan menjalankan undang-undang tersebut, jika dia meyakini kebenaran undang-undang itu serta rela dengan-nya.

Syirik besar bisa menghapuskan amal:

Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu terma-suk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

Syirik besar tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat dan meninggalkan perbuatan syirik secara keseluruhan:

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisaa’: 116)

Syirik banyak macamnya:

Di antaranya adalah syirik besar dan syirik kecil. Semua itu wajib dijauhi. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita agar berdo’a:

"Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepadaMu dari (menyekutukanMu dengan sesuatu) yang kami tidak ketahui." (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

(read more ...)



 Ya Ikhwah ! Tidak semua alasan rasional yang kita ungkapkan diterima oleh Allah swt sebagai suatu alasan yang benar, karena boleh jadi alasan itu membuat kita celaka, bahkan mungkin hanyalah sebuah pelarian dari jiwa kita yang lemah.
Sebagian orang-orang munafiq yang dalam satu riwayat dinyatakan bernama Jad bin Al Qois meminta izin untuk meninggalkan jihad dengan alasan takut terfitnah wanita-wanita Rum. "Hai Jad mengapa kamu tidak ikut serta dalam penggalangan kekuatan menyerang Banil Ashfar (Rum) ?" Tanya Rasulullah. Jadpun menjawab memberikan alasan : "Ya Rasulullah Cobalah engkau izinkan aku dan jangan engkau jatuhkan aku dalam fitnah. Demi Allah, kaumku tahu sekali bahwa tidak ada laki-laki yang lebih semangat kepada wanita selain aku. Aku khawatir tidak sabar melihat wanita-wanita Banil Ashfar". Rasulullah Saw pun mengabulkannya : "aku izinkan engkau".
Kasus ini diabadikan oleh Allah Swt dengan sebuah teguran yang amat keras dengan firmanNya :
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ إئذَنْ لِيْ و لاَ تَفْتِنِّي ألا فِي الفِتْنَةِ سَقَطُوا وَ إِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيْطَةٌ بِالكاَفِرِيْنَ
"Di antara mereka (orang-orang munafiq) ada orang yang berkata : izinkanlah aku dan jangan jerumuskan aku dalam fitnah. Ketahuilah (dengan itu) mereka sudah terjatuh dalam fitnah dan sesungguhnya Jahannam melingkupi orang-orang yang kafir". (Qs. 9 : 49)
Alasan Jadpun tertolak dan tidak diperkenankan oleh Allah Swt, bahkan dengan alasan seperti itulah justeru Jad sendiri telah terjatuh dalam fitnah. Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan : "Jika memang benar dia takut terfitnah wanita-wanita Banil Ashfar – walaupun sebenarnya tidak – tentu fitnah ketidakikutsertaannya dengan Rasul dan keterjebakannya dengan keinginannya sendiri jauh lebih besar kesalahannya dari keterfitnahannya dengan wanita-wanita Rum itu".
Ya Ikhwah ! Dalam rangkaian ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini setidaknya menggambarkan 2 kondisi di mana alasan – alasan yang kita buat untuk tidak ikut serta melakukan satu sikap atau amal justeru digambarkan sebagai sikap buruk, yaitu nifaq atau kelemahan dan kebingungan jiwa :
1. Allah Swt berfirman :
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَلَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Berangkatlah kalian baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : "Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu". Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (QS. 9:41-42)
Dalam ayat ini digambarkan tentang Infiru yang dilarang membuat-buat alasan untuk meninggalkannya. An Nafar atau infiru menurut ulama tafsir menggambarkan tiga makna :
1. النفير العام mobilisasi masa.
2. الجماعة berkelompok-kelompok.
3. السرعة Bersegera dengan cepat.
Dengan demikian arti dari Infiru berarti : "Bergerak cepat memobilisasi masa untuk bergabung dalam satu kelompok Fii Sabilillah".
Bergeraklah dengan cepat, mobilisasi masa dan bersatulah dalam satu panji fii sabilillah khifafan wa tsiqolan : yang muda maupun yang tua (seperti tafsir Abu Thalhah), Kaya ataupun miskin (seperti tafsir Mujahid), sibuk ataupun tidak sibuk (seperti tafsir Al Hakam bin Utaibah), dengan semangat ataupun kurang (seperti tafsir Qatadah dan Ibnu Abbas), dalam keadaan sulit maupun mudah (Seperti tafsir Hasan Al Bashri) seluruhnya tanpa kecuali harus ikut serta bergabung dalam fi sabilillah. Jangan berhenti dan jangan minta izin untuk tidak ikut serta bersama mempersembahkan andil maksimal yang dapat disumbangkan, walaupun kita tahu terlalu panjang perjalanan yang harus kita tempuh dan terlalu minim perbekalan yang kita miliki, kuatkan hati, teguhkan jiwa, jangan lari ataupun mundur meminta udzur. Hanya orang-orang munafiq atau jiwa yang bingung yang meminta izin untuk tidak ikut serta dengan berbagai alasan yang diungkapkan, dari takut terjerat wanita sampai dengan alasan ketuaan terlalu lemah untuk melangkahkan kaki dan memompa pikiran.
Jangan mau dirayu syaithan membuat alasan takut riya melakukannya, takut terjerumus kesalahan di dalam bekerja, takut tidak konsisten diri bersama-sama, saya punya dakwah sendiri dan lain-lain. Bisikan itu hanyalah fatamorgana tanpa wujud yang bisa terbukti. Syaithan hanya ingin kita tidak termasuk golongan yang mulia yang hanya dicapai dengan seluruh upaya kejihadan yang utuh. Lawan, bantai dan singkirkan semua rayuan itu, bergeraklah Allah pasti akan mengokohkan kita, pendirian kita dan jiwa kita di jalan yang diridhaiNya.
2. Allah Swt berfirman ;
وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. 9:122)
Di dalam ayat yang menggambarkan jihad ilmu ini, Allah Swt menggambarkannya pula dengan Nafar yang maknanyapun sudah jelas bagi kita. Memobilisasi umat untuk bergabung tafaqquh fddin, segera, cepat jangan tunda-tunda waktu, kokohkan diri, kuatkan jiwa, jangan lari dan jangan mundur mencari alasan untuk meninggalkannya, karena semuanya bagian yang utuh dari jihad fii sabilillah. Yakinkanlah jiwa kita bahwa kita yang menuntut ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mereka yang ikut serta tempur di medan perang. Hukum pahalanya sama dengan mereka dan dosa alasan mengundurkan diripun sama dengan mereka, kalau tidak karena kemunafiqan mungkin karena kelemahan dan kebingungan jiwa kita. Allah Swt mengingatkan :
لاَيَسْتَئْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَاللهُ عَلِيمُُ بِالْمُتَّقِينَ {44} إِنَّماَ يَسْتَئْذِنُكَ الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta ijin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang meminta ijin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. (QS. 9:44-45)
Jangan mau dibisikkan syaithan untuk mencari-cari alasan, kalian sudah tua, sulit untuk menghafal, orang tua kalian butuh kalian, materi membosankan, ustadz kurang mumpuni dan berbagai alasan lain yang ditazyin syaithan agar kita mundur dari medan jihad besar ini. Karena, kita tahu syaithan hanya tidak senang kita mendapat kemuliaan yang amat tinggi di sisi Allah, dia hanya mau kita menjadi pengikutnya yang dilaknat yang akan menyesal karena terjerumus ke dalam Jahannam bersamanya. Hati-hati dan waspadalah, jangan mundur, maju terus, kuatkan tekad dan leburkan diri dalam kehidupan jihad ini, walaupun panjang waktu yang kita butuhkan dan minim modal yang kita bawa dan yang kita dapatkan. Janji Allah pasti tiba.

(read more ...)



 Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allah lalu dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada hisab ini.[1]


PENGERTIAN HISAB
Pengertian hisab disini adalah, peristiwa Allah menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya[2]. Atau Allah mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan.[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allah akan menghisab seluruh makhluk dan berkhalwat kepada seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya[4]. Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah (proses hisab)[5]. Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan, muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat[6]. 

Hisab Menurut Istilah Aqidah Memiliki Dua Pengertian : 

Pertama : Al ‘Aradh (pemaparan). Juga demiliki mempunyai dua pengertian juga.
1). Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab. 
2). Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir) [7]. 

Kedua : Munaqasyah, dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan [8]. 
Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya [9].

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ [10]” Maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al ‘aradh. Namun barangsiapa yang dimunaqasyah hisabnya, maka ia akan binasa”. [Muttafaqun ‘alaihi]

HISAB PASTI ADA
Kepastian adanya hisab ini telah dijelaskan di dalam al Qur`an dan Sunnah. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah", [al Insyiqaq / 84 : 7-8].

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)". [al Insyiqaq / 84:10-12]

"Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka". [al Ghasyiyah / 88 : 25-26]

"Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya". [al Mu’min / 40 : 17]

Sedangkan dalil dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, di antaranya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau berkata:

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ إِلَّا هَلَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَ ذَاكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكَ 

“Tidak ada seorangpun yang dihisab kecuali binasa,” Aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman ‘pemeriksaan yang mudah’?” Beliau menjawab,”Itu adalah al aradh, namun barangsiapa yang diperiksa hisabnya, maka binasa”.

Imam Ibnu Abil Izz (wafat tahun 792 H) menjelaskan, makna hadits ini adalah, seandainya Allah memeriksa dengan menghitung amal kebajikan dan keburukan dalam hisab hambaNya, tentulah akan mengadzab mereka dalam keadaan tidak menzhalimi mereka sedikitpun, namun Allah memaafkan dan mengampuninya.[11]

Demikian juga umat Islam, sepakat atas hal ini [12]. Sehingga apabila seseorang mengingkari hisab, maka ia telah berbuat kufur, dan pelakunya sama dengan pengingkar hari kebangkitan.[13]

HISAB MANUSIA DAN HEWAN
Syaikhul Islam menyatakan: “Allah akan menghisab seluruh makhlukNya” [14]

Dari pernyataan ini, Syaikhul Islam menjelaskan, bahwa Allah akan menghisab seluruh makhlukNya. Namun ini termasuk menggunakan lafahz bermakna umum tapi yang dimaksudkan adalah tertentu saja. Yaitu khusus yang Allah bebani syariat. Karena pemberlakuan proses hisab itu pada amalan baik dan buruk hamba yang mukallaf, mencakup manusia dan jin [15]. Begitu pula Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan, bahwa hisab ini juga mencakup jin, karena mereka mukallaf. Oleh karena itu, jin kafir masuk ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan menurut nash syariat dan Ijma’. Firman Allah Subhanahuw a Ta’ala menyebutkan : 

"Allah berfirman:"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu… " [al A’raf/. 7:38]

Yang mukmin masuk syurga, menurut mayoritas ulama dan ini yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah:

"Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabb-nya ada dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin". [ar Rahman / 55 : 46 – 56]

Dikecualikan dalam hal ini, yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab maupun adzab. Begitu pula dengan hewan yang tidak memiliki pahala dan dosa. 

Adapun orang kafir, apakah dihisab ataukah tidak? Dalam permasalahan ini, para ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa orang kafir tidak dihisab. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan mereka dihisab. 

Syaikhul Islam mendudukkan permasalahan ini dengan pernyataan beliau rahimahullah : “Pemutus perbedaan (dalam masalah ini), yaitu hisab dapat dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan mereka, serta celaan terhadap mereka. Dapat (juga) dimaksudkan dengan pengertian perhitungan antara amal kebajikan dengan amal keburukan. Apabila yang diinginkan dengan kata "hisab" adalah pengertian pertama, maka jelas mereka dihisab. Namun bila dengan pengertian kedua, maka bila dimaksudkan bahwa orang kafir tetap memiliki kebajikan yang menjadikannya pantas masuk surga, maka (pendapat demikian) ini jelas keliru. Tetapi bila yang dimaksudkan mereka memiliki tingkatan-tingkatan dalam (menerima) adzab, maka orang yang banyak dosa kesalahannya, adzabnya lebih besar dari orang yang sedikit dosa kesalahannya, dan orang yang memiliki kebajikan, maka diringankan adzabnya, sebagaimana Abu Thalib lebih ringan adzabnya dari Abu Lahab. Allah berfirman:

"Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan". [an Nahl / 16:88]

"Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambah kekafiran". [at Taubah / 9:37]

Apabila adzab sebagian orang kafir lebih keras dari sebagian lainnya -karena banyaknya dosa dan sedikitnya amal kebaikan- maka hisab dilakukan untuk menjelaskan tingkatan adzab, bukan untuk masuk syurga [16]

Dengan penjelasan Syaikhul Islam tersebut, maka hisab di atas, maksudnya adalah dalam pengertian menghitung, menulis dan memaparkan amalan-amalan kepada mereka, bukan dalam pengertian penetapan kebaikan yang bermanfaat bagi mereka pada hari Kiamat untuk ditimbang melawan amalan keburukan mereka[17]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

"Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat".[al Kahfi / 18 : 105]

AMALAN ORANG KAFIR DI DUNIA
Amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia terbagi menjadi dua. Pertama, yang disyaratkan padanya Islam dan niat. Amalan-amalan ini tidak diterima dan tidak bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Kedua, amalan yang tidak disyaratkan Islam padanya, seperti keluhuran budi pekerti, menunda penagihan hutang bagi yang tidak mampu membayar dan lain-lainnya. Amalan-amalan ini akan diberi balasannya di dunia[18]

Syaikh Kholil Haras menyatakan: “Yang benar adalah, semua amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir hanya dibalas di dunia saja. Hingga bila datang hari Kiamat, ia akan mendapati lembaran kebaikannya kosong”[19]. Demikian ini, karena Allah berfirman:

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan" [al Furqaan / 25 : 23]

"Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh".[Ibrahim / 14 : 18]. 

Ada pendapat lain yang menyatakan amalan kebaikan mereka di dunia dapat meringankan adzab mereka. Menurut pendapat ini, amalan kebaikan yang tidak disyaratkan Islam padanya, pada hari Kiamat akan mendapat balasan untuk menutupi kezhalimannya terhadap orang lain. Apabila antara kezhalimannya seimbang dengan amalan tersebut, maka ia hanya diadzab disebabkan oleh kekufurannya saja. Namun, bila orang kafir ini tidak memiliki amal kebaikan di dunia, maka ditambahkan adzabnya yang disebabkan kekufurannya[20]

CARA HISAB
Hisab ini dilakukan dalam satu waktu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang akan melakukannya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ 

"Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya; dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya".

Kemudian diberikan kitab yang telah ditulis malaikat agar dibaca dan diketahui oleh setiap orang. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan : 

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?” Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang juapun". [al Kahfi / 18 : 49]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menulis semua amalan hambaNya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" [al Zalzalah / 99:7-8]. 

"Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu". [al Mujaadilah / 58 : 6].

Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini),” pada hari itu bumi menceritakan beritanya". [al Zalzalah / 99 : 1-4].

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." [Yaasin / 36:65]

CARA HISAB SEORANG MUKMIN DAN KAFIR
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah, namun mencukupkan dengan al aradh. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua amalan tersebut di hadapan mereka, dan Dia merahasiakannya, tidak ada orang lain yang melihatnya, lalu Allah berseru : “Telah Aku rahasiakan hal itu di dunia, dan sekarang Aku ampuni semuanya”.

Demikian dijelaskan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

"Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mendekati seorang mukmin, lalu meletakkan padanya sitar dan menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berseru : ‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’ Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan munafik, maka Allah berfirman : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”. [HR al Bukhari]

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allah, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّانِيَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي ثُمَّ يَلْقَى الثَّالِثَ فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ آمَنْتُ بِكَ وَبِكِتَابِكَ وَبِرُسُلِكَ وَصَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ وَيُثْنِي بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ فَيَقُولُ هَاهُنَا إِذًا قَالَ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ الْآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ وَيَتَفَكَّرُ فِي نَفْسِهِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْهَدُ عَلَيَّ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ انْطِقِي فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِي يَسْخَطُ اللَّهُ عَلَيْهِ

"Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata : “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?" Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”. 
Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab: "Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah," dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: "Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya)," kemudian dikatakan kepadanya: "Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu," dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: "Bicaralah!" Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafik dan orang yang Allah murkai". [HR Muslim].

Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. Yang pertama seorang mukmin, ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allah. Yang kedua seorang yang kafir dan ketiga orang munafik. Keduanya mendapat laknat dan kemurkaan Allah.

Oleh karena itu, bersiaplah menghadapinya dengan mempersiapkan bekal ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang cukup, memperbanyak mengingat hari perhitungan ini dan melihat kepada amalan yang telah kita perbuat. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita untuk memperbanyak bekal, yang nantinya dengan bekal tersebut kita menghadap sang pencipta dan mendapat keridhaanNya. 

Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih Alu Syaikh, kaset ke –19 yang telah ditulis ulang di website beliau.
[2]. Muqarrar at Tauhid Lishaf ats Tsani al ‘Ali fil Ma’ahid al Islamiyah, tanpa tahun, hlm. 84.
[3]. Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, Tahqiq Alwi Abdilqadir as Sagaf, Cetakan Kedua, Tahun 1415H, Dar al Hijrah, hlm. 209.
[4]. Ibid., hlm. 208.
[5]. Lihat kaset Syarh al Aqidah al Wasithiyah ke-19.
[6]. Syarh al ‘Aqidah al Washithiyah, Ibnu ’Utsaimin, Cetakan ke-2, Tahun 1415 H, Dar Ibnul Jauzi, 2/152
[7]. Lihat Mukhtashar Ma’arij al Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413H, hlm. 246.
[8]. Ibid.
[9]. Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5/229.
[10]. Al Qur’an surat al Insyiqaq ayat : 8
[11]. Syarh al Qaidah ath Thahawiyah, Ibnu Abil Izz al Hanafi, Tahqiq Syuaib al Arnauth, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Muassasah ar Risalah, hlm. 602.
[12]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Ibnu ’Utsaimin. Op.cit. 2/152
[13]. Llihat kaset Syarh al Aqidah al Wasithiyah ke-19
[14]. Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, hlm. 208.
[15]. Penjelasan Syaikh Shalih Ali Syaikh pada kaset ke-19, Syarh al Aqidah al Wasithiyah. 
[16]. Majmu’ Fatawa 4/305-306
[17]. Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Op.cit 5/229.
[18]. Penjelasan Syaikh Shalih Ali Syaikh pada kaset ke-19, Syarh al Aqidah al Wasithiyah. 
[19]. Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Khalil Haras, hlm. 208.
[20] Lihat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/462.
[21]. Dar’u Ta’arudh al Aqli wan Naqli, Op.cit. 4/129.

(read more ...)



 Isbal artinya melabuhkan pakaian hingga menutupi mata kaki, dan hal ini
terlarang secara tegas baik karena sombong ataupun tidak. Larangan isbal bagi
laki-laki telah dijelaskan dalm hadist-hadist Rasulullah SAW yang sangat banyak,
maka selayaknya bagi seorang muslim yang telah ridho Islam sebagai agamanya
untuk menjauhi hal ini. Naun ada sebagian kalangan yang dianggap berilmu menolak
isbal dengan alasan yang rapuh seperti klaim kalau tidak sombong maka dibolehkan
?!. Untuk lebih jelasnya, berikut kami paparkan perkara yang sebenarnya tentang
isbal aga menjadi pelita bagi orang yang mencari kebenaran. Amiin. Wallohu
Musta’an


A. DEFINISI ISBAL

Isbal secara bahasa adalah masdar dari asbala, yusbilu, isbalan, yang bermakna
irqaa’an yang artinya menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedang menurut
istilah sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul A’roby RA dan selainnya adalah;
memanjangkan, melabuhkan dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.
(Lihat Lisanul ’Arob Ibnul Manzhur II/321, Nihayah Fi Ghoribil Hadist Ibnul
Atsir 2/339).


B. BATAS PAKAIAN MUSLIM

Salah satu kewajiban seorang muslim adlah meneladani Rasuullah SAW dalam segala
perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas
syar’I terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadist-hadist berikut:

Rasulullah SAW bersabda:

"Keadaan sarung seorang muslim hingga setengan betis, tidaklah berdosa bila
memanjangkannya antara setengah betis hingga diatas mata kaki, dan apa yang
turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik
pakainnya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya." (HR. Abu Dawud 4093,
Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12, dishohikan oleh Al-Albany dalam Al-Misykah
4331).

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi R.A.: "Hadist ini menunjukkan bahwa yang sunnah
hendaklah sarung seorang muslim hingga setengan betis, dan dibolehkan turun dari
itu hingga di atas mata kaki, apa saja yang di bawah mata kaki maka hal itu
terlarang dan haram". (’Aunul Ma’bud 11/103).

Dari Hudzaifah R. A. beliau berkata:

Rasulullah memegang otot betisku lalu bersabda: "Ini merupakan batas bawah kain
sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan
juga maka tidk ada hak bagi sarung pada mata kaki. (HR. Tirmidzi 1783, Ibnu
Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam
As-Shohihah 1765).

Hadist-hadist di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim
tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis,
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam hadistnya yang banyak.

Dari Abi Juhaifah R. A. berkata:

"Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro[1] seakan-akan saya melihat
kedua betisnya yang sangan putih." (Tirmidzi dalam sunannya 197, dalam Syamail
Muhammadiyah 52, Ahmad 4/308).

’Ubaid bin Kholid R. A. berkata: "Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah
tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata: "Tinggikan sarungmu!
Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketaqwaan", ternyata dia adalah
Rasulullah, aku pun bertanya kepadanya: "Wahai Rasulullah ini Burdah Malhaa
(pakaian yang mahal), Rasulullah menjawab: "Tidakkah ada pada diriku terdapat
teladan?" Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis". (HR. Tirmidzi dalam
Syamail 97, Ahmad 5/364, Dishohikan oleh Al-Albani dalam Mukhtasor Syamail
Muhammadiyyah hal. 69).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah R. A. pernah ditanya tentang seseorang yang
memanjangkan celananya hingga di atas melebihi mata kaki, beliau menjawab:
"Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua
mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadist-hadist Nabi SAW’. (Majmu Fatawa
22/144).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Walhasil ada dua keadaan bagi laki-laki;
dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengan betis, boleh yaitu hingga di
atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan
yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan higga
sehasta". (Fathul Bari 10/320).


C. DALIL-DALIL HARAMNYA ISBAL

Pertama :

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak akan
diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih;
Rasululloh menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak 3 kali,
Abu Dzar brkata: "Merugilah mereka, siapakah mereka wahai Rasulloh?" Rasululloh
menjawab: "Orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit
pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu". (HR.
Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa’I 4455, Dharimy 2608, Lihat Al-Irwa’ : 900).

Kedua :

Ari Abdullah bin Umar R. A. bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:

"Barngsiapa melabuhkan pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan
melihatnya pada hari kiamat". (HR. Bukhori 5783, Muslim 2085).

Syaikh Salim bin I’ed Al-Hilali berkata: "Isbal karena sombong adalah dosa
besar, oleh karena itu pelakunya berhak tidak dilihat oleh Alloh pada hari
kamat, tidak disucikanNya, dan baginya adzab yang pedih". (Manahi Syari’ah
3/206).

Ketiga :

Dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi bersabda: "Apa saja yang di bawah kedua mata
kaki di dalam neraka".(HR. Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96).

Keempat :

Dari Mughiroh bin Su’bah R. A., adalah Rasulloh SAW bersabda: "wahai Sufyan bi
Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Alloh tidak menyenangi orang-orang yang
isbal." (HR. Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/246, Thobroni dalam Al-Kabir 7909,
dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 2862).

Kelima :

"Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan
Alloh tidak menykai kesombongan". (HR. Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65, dishohihkan
oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 770).

Keenam :

Dari Ibnu Umar R. A. berkata: "saya lewat di hadapan Rasulloh sedangkan sarungku
terjurai, kemudian Rasululloh SAW menegurku seraya berkata: "Wahai Abdullah
tinggikan sarungmu!" Aku pun meninggikannya, beliau bersada lagi: "Tinggikan
lagi !" Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga
sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya: "Seberapa tingginya?"
"Sampai setengan betis". (HR. Muslim 2086, Ahmad 2/33).

Berkata Syaikh Al-Albani Rahimmallohu: "Hadist ini sangat jelas sekali bahwa
kewajiban seorang muslim hendaklah ia meninggikannya hingga di atas mata kaki,
walaupun dia tidak bertujuan sombong, dan didalam hadist ini terdapat bantahan
kepada orang-orang yang isbal dengan sagkaan bahwa mereka tidak melakukannya
karena sombong! Tidakkah mereka meninggalkan hal ini demi mencontoh perintah
Rasululloh SAW terhadap Ibnu Umar??, ataukah mereka merasa hatinya lebih suci
dari Ibnu Umar?". (As-Shohihah: 4/95).

Brkata Syaikh Bakr Abu Zaid: "Dan Hadist-hadist tentang pelarangan isbal
mencapai derajat Mutawatir Makna, tercatum dalam kitab-kitab shohih, Sunan-sunan
ataupun Musnad-musnad, diriwayatkan banyak sekali oleh sekelompok sahabat.
Beliau lantas menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga 21 (dua puluh satu)
orang. Lanjutya, "Seluruh hadist tersebut menunjukkan larangan yang sangat
tegas, larangan pengharaman, karena didalamnya terdapat ancaman yang sangat
keras. Dan telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang terdapat ancaman atau
kemurkaan maka diharamkan, termasuk dosa besar, tidak bisa dihapus dan diangkat
hukumnya termasuk hokum-hukum syar’I yang kekal pengharamanya". (Hadd Tsaub Wal
Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh hal. 19).


D. DAMPAK NEGATIF ISBAL

Isbal keharamannya telah jelas, bahkan di dalam isbal terdapat beberapa
kemungkinan yang tidak bisa dianggap remeh, berikut sebagiannya:

1. Menyelisihi sunnah

Menyelisihi sunnah termasuk perkara yang tidak bisa dianggap enteng dan ringan,
karena kewajiban setiap muslim untuk mengamalkan setiap sendi dien dalam segala
perkara baik datangnya dari Al-Qur’an atau Sunnah.

Alloh SAW berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul, takut akan ditimpa
cobaan (fitnah) atau di timpa adzab yang pedih. (QS. An-Nur 63)

2. Mendapat ancaman neraka

Berdasarkan hadist yang sangat banyak berisi ancaman neraka[2], bagi yang
melabuhkan pakaiannya, baik karena sombong ataupun tidak.

3. Termasuk kesombongan

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimmallohu : "Kesimpulannya isbal melazimkan
menarik pakaian, dan menarik pakaian melazimkan kesombongan, walaupun pelakunya
tidak bermaksud sombong". (Fathul Bari 10/325). Rasululloh SAW bersabda:
"Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan".
(HR. Abu Dawd 4048, Ahmad 4/65, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah
770).

Berkata Ibnul ’Aroby Rahimallahu : "Tidak boleh bagi laki-laki untuk
memanjangkan pakaiannya melebihi kedua mata kaki, meski dia mengatakan "Aku
tidak menariknya karena sombong", karena larangan hadist secara lafazh mencakup
pula bagi yang tidak sombong, maka tidak boleh bagi yang telah tercakup dalam
larangan kemudian berkata: "Aku tidak mau melaksanakannya karena ebab larangan
tersebut itu tidak ada pada diriku", ucapan semacam ini merupakan klaim yang
tidak bisa diterima, bahkan memanjangkan pakaian itu sendiri termasuk
kesombongan". (Fathul Bari 10/325).

4. Menyerupai wanita

Isbal bagi wanita disyari’atkan bahkan wajib, dan mereka tidak diperkenankan
untk menampakkan anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Orang yang
isbal berarti mereka telah menyerupai wanita dalam berpakaian, dan hal itu
terlarang secara tegas, berdasarkan hadist:

Dari Ibnu ’Abbas ia berkata: "Rasululloh melaknat laki-laki yang menyerupai
wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki". (HR. Bukhori 5885, Abu Dawud 4097,
Tirmidzi 2785, Ibnu Majah 1904).

Imam a-Thobari berkata: "Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita
di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula
sebaliknya". (Fathul Bari 11/521).

Dari Khorsyah bin Hirr berkata: "Aku melihat Umar bin Khotob, kemudian ada
seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar
menegurnya seraya berkata: "Apakah kamu orang yang haidh?" pemuda tersebut
menjawab: "Wahai Amirul Mukmini apakah laki-laki itu mengalamai haidh?" Umar
menjawab: "Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?"
kemudian Umar minta diambilkan gunting lalu memotong bagian sarung yang melebihi
kedua mata kakinya". Khorsyah berkata: "Seakan-akan aku melihat benang-benang
diujung sarung itu". (HR. Ibnu Abi Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat
Al-Isbal Lighoiril Khuyala’ hal. 18).

Akan tetapi laa haula wala quwwata illa billah, zaman sekarang yang katanya
modern, patokan berpakaian terbalik, yang laki-lai melabuhkan pakaiannya
menyerupai wanita dan tidak terlihat kecuali wajah dan telapak tangan! Yang
wanita membuka pakaiannya hingga terlihat dua betisnya bahkan lebih dari itu.
Yang lebih tragis lagi cemoohan dan ejekan kepada laki-laki yang memendekkan
pakaiannya karena mencontoh Nabi dan mengejek para wanita yang memajangkan
jilbabnya karena taat kepada Alloh SWT dan Rasulnya, akhirnya kepada alloh kita
mengadu. (Al-Isbal Lighoiril Khuyala’ 18)

5. Berlebih-lebihan

Tidak ragu lagi syari’at yang mulia ini telah memberkan batas-batas berpakaian,
maka barangsiapa yang melebihi batasnya sungguh ia telah berlebih-lebihan. Alloh
berfirman :

Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’rof 31)

Al-Hafzh Ibnu Hajar berkata: "Apabila pakaian melebihi batas semestinya, maka
larangannya dari segi isrof (berlebih-lebihan) yang berakhir pada keharaman".
(Fathul Bari 11/436).

6. Terkena najis

Orang yang isbal tidak aman dari najis, bahkan kemungkinan besar najis menempel
dan mengenai sarungnya tanpa ia sadari. Rasululloh SAW bersabda:

"Naikkan sarungmu karena hal itu lebih menunjukkan ketaqwaan-dalam lafazh yang
lain lebih suci dan bersih-." (HR. Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364,
dishohihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah hal. 69).


F. SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Orang-orang yang membolehkan isbal mereka melontarkan syubhat yang cukup banyak,
diantara yang sering muncul ke permukaan adalah klaim mereka bahwa isbal jika
tidak sombong dibolehkan. Oeh karena itu penulis perlu menjawab dalil-dalil yang
biasa mereka gunakan untuk membolehkan isbal jika tidak bermaksud sombong:

Pertama hadist Ibnu Umar R. A.:

Dari Abdullah bin Umar R. A. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda: "Barangsiapa
yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Alloh tidak akan melihatnya pada
hari kiamat !". Abu Bakar bertanya: "Ya Rosululloh sarungku sering melorot
kecuali bila aku menjaganya!" Rosululloh menjawab: "Engkau bukan termasuk orang
yang sombong". (HR. Bukhori 5784).

Mereka berdalil dengan sabda Rosululloh: "Engkau bukan termasuk orang yang
melakukannya karena sombong" bahwasanya isbal bila tidak sombong dibolehkan !?

Jawaban :

Berkata Syaikh Al-Albani: "Dan termasuk perkara yang aneh, ada sebagian orang
yang mempunyai pengetahuan tentang Islam mereka berdalil bolehnya memajangkan
pakaian atas dasar perkataan Abu Bakar ini. Maka aku katakan bahwa hadist di
atas sangat gamblang bahwa Abu Bakar sebelumnya tidak memanjangkan pakaiannya,
sarungnya selalu melorot tanpa kehendak dirinya dengan tetap berusaha untuk
selalu menjaganya. Maka apakah boleh berdalil dengan perkataan ini sementara
perbedaannya sangat jelas bagaikan matahari di siang bolong dengan apa yang
terjadi pada diri Abu Bakar dan orang yang selalu memanjangkan pakaiannya? Kita
mohon kepada Alloh SWT keselamatan dari hawa nafsu". (As-Shohihah 6/401).
Kemudian Syaikh berkata dalam tempat yang lain: "Dalam hadist riwayat Muslim,
Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Rosululloh SAW sedangkan sarungnya melorot,
Rosululloh menegur Ibnu Umar dan berkata: "Wahai Abdulloh naikkan sarungmu!"
Apabila Ibnu Umar saja yang termasuk sahabat yang mulia dan utama, Nabi tidak
tinggal diam terhadap sarungnya yang melorot bahkan memerintahkannya untuk
mengangkat sarung tersebut bukankah hal ini menunjukkan bahwa isbal itu tidak
berkaitan dengan sombong atau tidak sombong?" (Muktashor Syamail Muhammadiyyah
hal. 11). Aloh SWT berfirman:

Sesungguhnya pada yang demikian ini benar-benar terdapat peringatan bagi orang
yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksiakannya. (QS. Qoof : 37).

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimallahu berkata : "Dan adapun orang yang berhujjah
dengan hadist Abu Bakar maka kita jawab dari dua sisi; Pertama: Bahwa salah satu
sisi sarung Abu Bakar kadang melorot tanpa disengaja, maka beliau tidak
menurunkan sarungnya atas kehendak dirinya dan ia selalu berusaha untuk
menjaganya. Sedangkan orang yang mengklaim bahwa dirinya isbal karena tidak
sombong mereka menurunkan pakaiannya karena kehendak mereka sendiri. Oleh karena
itu kita katakan kepada mereka: "Jika kalian menurunkan pakaian kalian di bawah
mata kaki tanpa niat sombong maka kalian akan diadzab dengan apa yang turun di
bawah mata kaki dengan neraka. Jika kalian menurunkan pakaian karena sombong
maka kalian akan diadzab dengan siksa yang pedih yaitu Alloh SWT tidak akan
berbicara kepada kalian, tidak dilihat olehNya, tidak disucikan oleh Nya dan
bagi kalian adzab yang pedih."

Kedua: Mereka yang membolehkan isbal jika tidak sombong menyangka bahwa
hadist-hadist larangan isbal yang bersifat mutlak (umum), harus di taqyid
(kaitkan) ke dalil-dalil yang menyebutkan lafadz khuyala’ (sombong) sesuai
kaidah ushul fiqh Halul Mutlak a’lal Muqoyyad wajib (membawa nash yang mutlak ke
muqoyyad adalah wajib).

Jawaban: Kita katakan kepada mereka:

Itulah sejauh-jauhnya pengetahuan mereka. (QS. An-Najm: 30).

Kemudian kaidah ushul Hamlul Muthlaq alal Muqoyyad adalah kaidah yang telah
disepakati dengan syarat-syarat tertentu, untuk lebih jelasnya mari kita simak
perkataan ahlu ’ilmi dalam masalah ini.

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimmallahu: "Isbal pakaian apabila karena sombong
maka hukumannya Alloh SWT tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak mengajak
bicara dan tidak mensucikannya, serta baginya adzab yang pedih. Adapun disiksa
dengan neraka apa yang turun melebihi mata kaki, berdasarkan hadist:

Dari Abu Dzar R. A. bahwasanya Rasululloh SAW bersabda : "Ada tiga golongan yang
tidak akan diajak bicara oleh Alloh pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang
pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian
dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu". Juga sabdanya :
"Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan
melihatnya pada hari kiamat". Adapun yang isbal karena tidak sombong maka
hukumannya sebagaimana dalam hadist: Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di
dalam neraka". Dan Rasululloh SAW tidak mentaqyidnya dengan sombong atau tidak,
maka tidak boleh mentaqyid hadist ini berdasarkan hadist yang lalu, juga Abu
Sa’id Al-Khudri R. A. telah berkata bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:
"Keadaaan sarung serang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila
memanjanggkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki, dan apa yang
turun di bawah mata kaki maka bagiannya di neraka, barang siapa menarik
pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya".

Didalam hadist ini Nabi SAW menyebutkan dua permisalan dalam satu hadist, dan ia
menjelaskan perbedaan hukum keduanya karena perbedaan balasannya. Keduanya
berbeda dalam perbuatan dan berbeda dalam hokum balasan. Maka selama hukum dan
sebabnya berbeda tidaklah boleh membawa yang mutlak ke muqoyyad, karena kaidah
membawa mutlak (umum) ke muqoyyad (khusus) di antara syaratnya adalah bersatunya
dua nash dalam satu hukum, apabila hukumnya berbeda maka tidaklah ditaqyid salah
satu keduanya dengan yang lain.

Kesimpulannya; Kaidah : "Membawa nash yang mutlak ke muqoyyad wajib" adalah
kaidah yang telah muttafaq alaihi (disepakati) pada keadaan bersatunya hukum dan
sebab, maka tidaklah boleh membawa nash yang umum ke yang khusus apabila hokum
dan sebabnya sama! (Lihat Ushul Fiqh Al-Islamy karya Dr. Wahhab Az-Zuhaili).3


G. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

1. Isbal adalah memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki baik karena
sombong maupun tidak, dan hal ini haram dilakukan bagi laki-laki.
2. Batas pakaian seorang laki-laki ialah setengah betis, dan dibolehkan hingga
di atas mata kaki, tidak lebih.
3. Hukum isbal tidak berlaku bagi wanita, bahkan mereka disyari’atkan menurunkan
pakaiannya hingga sejengkal dibawah mata kaki.
4. Isbal pakaian tidak hanya pada sarung, berlaku bagi setiap jenis pakaian
berupa celana, gamis, jubah, sorban dan segala sesuatu yang menjulur ke bawah.
5. Isbal karena sombong adalah dosa besar, oleh karena itu pelakunya berhak
tidak dilihat oleh Alloh SWT pada hari kiamat, tidak disucikannya, dan baginya
adzab yang pedih.
6. Isbal jika tidak sombong maka baginya adzab neraka apa yang turun di bawah
mata kaki.
7. Isbal memiliki beberapa kemungkaran, sebagaimana yang telah berlalu
penjelasannya.
8. Klaim sebagian orang yang melakukan isbal dengan alasan tidak sombong
merupakan klaim yang tidak bisa diterima. Maka bagi mereka kami sarankan untuk
memperdalam ilmu dan merujuk kalam ’Ulama dalam masalah ini. (Peng-bukan dengan
akalnya semata, lalu apa yang menjadi halangan para laki-laki untuk mengikuti
sunnah Rosululloh SAW yang mulia ini, tidak tahu (nah sekarang sudah tahu khan)
lalu apalagi halangannya, malu ??!)

Demikian yang bisa kami sajikan tentang masalah isbal semoga tulisan ini ikhlas
karena mengharap wajahNya dan bermanfaat bagi diri penulis serta kaum muslimin
di manapun berada. Amiin. Wallohu ’Alam


--------------
Catatan kaki:

[1] Hullah Hamro adalah kain bergaris yang berwarna merah dari Yaman

[2] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: Nash-nash yang berisi ancaman neraka
bersifat umum, maka tidaklah boleh kita memastikan seseorang secara mu’ayyan
(tunjuk hidung) bahwa ia termasuk penghuni neraka, karena bisa jadi ada beberapa
penghalang yang memalingkannya untuk tidak mendapatkan tuntunan tersebut
(neraka) seperti bertaubat atau ia mengerjakan kebaikan yang menghapus dosa atau
mendapat syafa’at dan lainnya". (Majmu’ Fatawa 4/484)

(read more ...)



Muqoddimah 

Segala Puji Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Aku bersaksi tiada yang berhak diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan shalawat kepada beliau, keluarganya, sahabatnya dan orang yang mengikuti sunnah-sunnah beliau serta orang yang mendapatkan hidayah dengan bimbingan beliau hingga hari akhir. 


Setelah itu, merupakan suatu kewajiban bagi muslimin untuk mencintai Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam, menta’ati beliau dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta membenarkan berita yang dibawa beliau. Itu semua bisa menunjukkan realisasi Syahadat Laa ilaha ila Allah dan Muhammad Rasulullah. Dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dan selamat dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanda dan bukti hal itu adalah dengan terus komitmen melaksanakan simbol-simbol Islam, dalam bentuk perintah, larangan, penerangan, ucapan, keyakinan maupun amalan. Dan hendaklah dia mengatakan : “sami’na wa atha’na (kami mendengar dan taat)”. 

Diantara hal itu adalah membiarkan jenggot (tidak mencukurnya) dan memendekkan pakaian sebatas kedua mata kaki yang dilakukan karena ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut pada hukumanNya.

Kalau kita mau memeperhatikan kebanyakan orang ? semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada mereka dan membimbing mereka kepada kebenaran ? akan didapati mereka melakukan perbuatan Isbal (menurunkan pekaian di bawah mata kaki) pada pakaian dan bahkan sampai terseret di atas tanah. Itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya besar, karena menentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan itu adalah sikap menantang, pelakunya akan mendapat ancaman keras.

Isbal dianggap salah satu dosa besar yang diancam dengan ancaman yang keras. Beranjak dari kewajiban untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, saling nasehat menasehati dengan kebenaran, menginginkan agar saudara-saudaraku kaum muslimin mendapat kebaikan dan karena takut kalau mereka tertimpa hukuman yang buruk akibat mayoritas orang melakukan maksiat. 

Saya kumpulkan risalah ini berkaitan dengan tema Isbal dan berisi anjuran untuk memendekkan pakaian hingga diatas kedua mata kaki bagi pria serta berisi ancaman bagi yang melakukan Isbal dan memanjangkan melewati mata kaki.

Larangan untuk melakukan Isbal adalah larangan yang bersifat umum,apakah karena sombong atau tidak. Itu sama saja dengan keumuman nash. Tapi, bila dilakukan karena sombong maka hal itu lebih keras lagi kadar keharamannya dan lebih besar dosanya .

Isbal adalah suatu lambang kesombongan dan orang yang memiiki rasa sombong dalam hatinya walaupun seberat biji dzarrah tidak akan masuk surga, sebagaimana yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menyerah dan tunduk dan mendengar dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah sebelum kematian datang menunjunginya, bila samapai demikian ia akan menemukan ancaman yang dulu telah disampaikan kepadanya. Ketika itu dia menyesal dan tidak ada manfaat penyesalan di waktu itu.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari maksiat isbal (memanjangkan celana) dan maksiat lainnya. Hendaklah ia memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki dan menyesali apa yang telah dia lakukan selama hidupnya. 

Dan hendaklah ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat-maksiat di sisa umurnya yang singkat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa. 

Risalah ini diambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah serta ucapan para peneliti dari kalangan Ulama. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memberi manfaat risalah ini kepada penulisnya, atau pencetaknya, atau pembacanya, atau pendengarnya. Dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menjadikan amalan ini ikhlas untuk mengharap waahnya yang mulia dan menjadi sebab untuk mencari kebahagian sorga yang nikmat. 

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada Muslim yang masih melakukan Isbal pada pakaian mereka unuk melaksanakan sunnah Nabi mereka, Muhammad Ibn Abdullah, yaitu dengan memendekkannya. Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang orang yang membimbing lagi mendapatkan hidayah. Semoga salawat dan salam tercurah pada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb Semesta alam. 

LARANGAN MELAKUKAN ISBAL PADA PAKAIAN 

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat kepada para hambanya berupa pakaian yang menutup aurat-aurat mereka dan memperindah bentuk mereka. 

Dan ia telah menganjurkan untuk memakai pakaian takwa dan mengabarkan bahwa itu adalah sebaik-baiknya pakaian. 

Saya bersaksi tidak ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha Esa. Tiada sekutu baginya miliknya segenap kekuasan di langit dan di bumi dan kepadanya kembali segenap makhluk di hari Akhir. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu ialah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak ada satupun kebaikan kecuali telah diajarkan beliau kepada ummatnya. Dan tidak ada suatu kejahatan kecuali telah diperingatkan beliau kepada ummatnya agar jangan mlakukannya. Semuga Shalawat serta Salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya dan orang yang berjalan di atas manhaj Beliau dan berpegang kepda sunnah beliau. 

"Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : " Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah itu perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah mudahan mereka selalu ingat." (QS Al A’raf -26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepada para hambaNya berupa pakaian dan keindahan. Dan pakaian yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah pakaian yang menutupi aurat. Dan ar riisy yang dimaksud ayat ini adalah memperindah secara dlohir. maka pakaian adalah suatu kebutukan yang penting, sedangkan ar riisy adalah kebutuhan pelengkap.

Imam Ahmad meriwatkan dalam musnadnya, beliau berkata :

Abu Umamah pernah memakai pakaian baru, ketika pakaian itu lusuh ia berkata : “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakai ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku”, kemudian ia berkata : aku mendengar Umar Ibn Khattab berkata : Rasulullah bersabda : "Siapa yang mendapatkan pakaian baru kemudian memakainya. Dan kemudian telah lusuh ia berkata segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku dan mengambil pakaian yang lusuh dan menyedekahkannya, dia berada dalam pengawasan dan lindungan dan hijab Allah Subhanahu wa Ta’ala, hidup dan matinya.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dan Turmudzi berkata hadis ini gharib )

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pakaian tubuh yang digunakan untuk menutup aurat, membalut tubuh dan memperindah bentuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa ada pakaian yang lebih bagus dan lebih banyak faedahnya yaitu pakaian taqwa. Yang pakaian taqwa itu ialah menghiasi diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan. 

Dan membersihkan dari berbagai kotoran. Dan pakaian taqwa adalah tujuan yang dimaukan. Dan siapa yang tidak memakai pakaian taqwa, tidak manfaat pakaian yang melekat di tubuhnya. 

Bila seseorang tidak memakai pakaian taqwa, berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian

Maksudnya :

Pakaian yang disebut tadi adalah agar kalian agar mengingat nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyukurinya. Dan hendaknya kalian ingat bagaimana kalian butuh kepada pakaian dhahir dan bagaimana kalian butuh kepada pakaian batin. Dan kalian tahu faedah pakaian batin yang tidak lain adalah pakaian taqwa.

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya pakaian adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hambanya yang wajib disyukuri dan dipuji. Dan pakaian itu memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan. Para pria memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. 

Wanita juga memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Tidak boleh salah satunya memakai pakaian yang lain. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki laki.(HR Bukhari, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i). 

Dan Nabi juga bersabda : "Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita."( HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dan beliau mensahihkannya, serta Al Hakim, beliau berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim).

Haram bagi pria untuk melakukan Isbal pada sarung, pakian, dan celana. Dan ini termasuk dari dosa besar.

Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : "Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh."( Luqman: 18 )

Dari Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullulah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM bersabda : 

"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat." ( HR Bukhari dan yang lainnya ).

Dan dari Ibnu umar juga, Nabi bersabda : 
"Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat." ( Hr Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini adalah hadits yang sahih ).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda :

"Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong". (Muttafaq ’alaihi)

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Bukhari dengan bunyi :

“Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka."

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda : 
"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (Hr Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam keadaan kita mengetahi ancaman keras bagi pelaku Isbal, kita lihat sebagian kaum muslimin tidak mengacuhkan masalah ini. Dia membiarkan pakaiannya atau celananya turun melewati kedua mata kaki. Bahkan kadang-kadang sampai menyapu tanah. Ini adalah merupakan kemungkaran yang jelas. Dan ini merupakan keharaman yang menjijikan. Dan merupakan salah satu dosa yang besar. Maka wajib bagi orang yang melakukan hal itu untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga segera menaikkan pakaiannya kepada sifat yang disyari’atkan.

Rasullullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

"Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka. (HR Malik dalam Muwaththa’ ,dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)



Ada juga pihak yang selain pelaku Isbal, yaitu orang-orang yang menaikan pakaian mereka di atas kedua lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan klub-klub olahraga, di lapangan-lapangan ?. Dan ini juga dilakukan oleh sebagian karyawan.

Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari ’Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : 

"Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati." (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami’il Ushul 5/451 : "sanadnya hasan")

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala berfirman :

"Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

HUKUM MENURUNKAN PAKAIAN ( ISBAL ) BAGI PRIA

Rasulullah bersabda :

"Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka" (HR.Bukhori)

Dan beliau berkata lagi ;

"Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong".

dan dalam sebuah riwayat yang berbunyi :

"Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang-orang yang menyeret pakaiannya karena sombong." (HR. Malik, Bukhari, dan Muslim)

dan beliau juga bersabda :

" Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan ( dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Musbil (pelaku Isbal) adalah seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya. Dan Al mannan yang tersebut pada hadist di atas adalah orang yang mengungkit apa yang telah ia berikan. Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu adalah seseorang yang dengan sumpah palsu ia mempromosikan dagangannya. Dia bersumpah bahwa barang yang ia beli itu dengan harga sekian atau dinamai dengan ini atau dia menjual dengan harga sekian padahal sebenarnya ia berdusta. Dia bertujuan untuk melariskan dagangannya.

Dalam sebuah hadist yang berbunyi :

"Ketika seseorang berjalan dengan memakai prhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat. (HR. Mutafaqqun ’Alaihi)

Rasulullah bersabda :

" Isbal berlaku pada sarung, gamis, sorban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat." (HR Abu Dawud dengan sanad Shohih).

Hadist ini bersifat umum. Mencakup pakaian celana dan yang lainnya yang yang masih tergolong pakaian. Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan dengan sabdanya ;

" Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal." (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Sholihin dengan tahqiq Al Anauth hal: 358)

Melalui hadist-hadist Nabi yang mulia tadi menyatakan bahwa menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki dianggap sebagai suatu perkara yang haram dan salah satu dosa besar yang mendapatkan ancaman keras berupa neraka. Memendekkan pakaian hingga setengah betis lebih bersih dan lebih suci dari kotoran kotoran . Dan itu juga merupakan sifat yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . 
Oleh karena itu, wajib bagimu… wahai saudaraku muslimin…, untuk memendekkan pakaianmu diatas kedua mata kaki karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya dengan mentaati Rasullullah . 

Dan juga kamu melakukannya karena takut akan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya. Agar engkau menjadi panutan yang baik bagi orang lain. Maka segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakkukan taubat nasuha (bersungguh-sungguh) dengan terus melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Dan hendaknya engkau telah menyesal atas apa yang kau perbuat. 

Hendaknya engkau sungguh-sungguh tidak untuk tidak megulangi perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimasa mendatang, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya, karena ia maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.

"Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, terimalah taubat kami, sungguhnya engkau maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang."

"Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala berilah kami dan semua saudara saudara kami kaum muslimin bimbingan untuk menuju apa yang engkau ridloi, karena sesungguh-Nya engkau maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Dan semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Muhammad, keluarganya dan sahabatnya."

BEBERAPA FATWA TENTANG HUKUMNYA MEMANJANGKAN PAKAIAN KARENA SOMBONG DAN TIDAK SOMBONG

Pertanyaan :
Apakah hukumnya memanjangkan pakaian jika dilakukan karena sombong atau karena tidak sombong. Dan apa hukum jika seseorang terpaksa melakukakannya, apakah karena paksaan keluarga atau karena dia kecil atau karena udah menjadi kebiasaan ?

Jawab :

Hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi :

"Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka " (HR.Bukhari dalam sahihnya )

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih Abu Dzar ia berkata: Rasulullah bersabda: " Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." ( HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

Kedua hadist ini semakna dengan mencakup musbil yang sombong atau karena sebab lain. Karena Rasulullah mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan . Kalau ia melakukan karena sombong maka dosa yang ia lakukan akan lebih besar lagi dan ancamannya lebih keras, Rasulullah bersabda :"Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong". (Muttafaq ’alaihi)

Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena rasullullah tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain, Rasul bersabda : "Jauhilah olehmu Isbal, karena ia termasuk perbuaan yang sombong" (HR Abu Daud, Turmudzi dengan sanad yang shahih).

Beliau menjadikan semua perbuatan Isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju kesana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan . dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

Oleh karena itu Umar Ibn Khatab melihat seorang pemuda berjalan dalam keadaan pakaiannya menyeret di tanah, ia berkata kepadanya : "Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Rabbmu dan lebih suci bagi pakaianmu ( Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqo min Akhbaril Musthafa 2/451 )

Adapun Ucapan Nabi kepada Abu Bakar As Shiddiq ketika ia berkata :

"Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda :"Engkau tidak termasuk golongan yang melakukan itu karena sombong." (Muttafaq ‘alaih).

Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullah bahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga ) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.

Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiaannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq. (Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 218).

TIDAK BOLEH MELAKUKAN ISBAL SAMA SEKALI

Pertanyaan:

Bila seeorang melakukan Isbal pada pakaiannya tanpa diiringi rasa sombong dan angkuh, apakah itu juga diharamkan baginya? Dan apaakah hukum Isbal itu juga berlaku pada lengan pakaian?
Jawab: 

Isbal tidak boleh dilakukan secara mutlak berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam : "Apa yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka itu tempatnya di neraka." (HR Bukhari dalam shahihnya)

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibn Sulaim: "Jauhilah Isbal olehmu, karena itu tergolong kesombongan." (HR Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih)

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam yang tsabit dari beliau:

"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat aazab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim dalam shahihnya) 

Tidak ada beda apakah dia melakukan karena sombang atau tidak. Itu berdasarkan keumuman banyak hadits. Dan juga karena secara keumuman itu dilakukan karena sombong dan angkuh, walau dia tidak bermaksud demikian. Perbuataannya adaalah perantara menuju kesombongan dan keangkuhan. 
Dan dalam perbuatan itu juga ada mengandung unsur meniru wanita dan mempermudah pakaian dikenai kotoran dan najis. Serta perbuatan itu juga menunjukkan sikap berlebih-lebihan. Siapa yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam : "Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim) 

Adapun sabda Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam kepada Abu Bakar Ash Shiddiq Radliyallah’anhu ketika dia mengatakan kepada beliau bahwaa sarungnya sering melorot kecuali kalau dia benar-benar menjaganya:

"Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong."(HR Bukhari dan Muslim) 

Ini adalah bantahan bagi orang yang melakukannya, tapi berdalil dengan apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shiddiq. Bila dia memang benar-benar menjaganya dan tidak sengaja membiarkannya, itu tidak mengapa.



Adapun lengan baju, maka sunnahnya tidak melewati pergelangan?Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq.(dari sumber yang sama hal.220)

HUKUM MEMANJANGKAN CELANA

Pertanyaan:
Sebagian orang ada yang memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki, tapi celananya tetap panjang. Apa hukum hal itu? 
Jawab:

Isbal adalah perbuatan haram dan mungkar, sama saja apakah hal itu terjadi pada gamis atau sarung. Dan Isbal adalah yang melewati kedua mata kaki berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam

"Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di neraka." (HR Bukhari) 

Dan beliau Shalallahu ’alaihi wasallam juga bersabda: "Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat aazab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim dalam shahihnya)

Beliau juga bersabda kepaada sebagian para sahabatnya: "Jauhilah Isbal olehmu, karena itu termasuk kesombongan." (HR Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih) 

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Isbal termasuk salah satu dosa besar, walau pelakunya mengira bahwa dia tidak bermaksud sombong ketika melakukannya, berdasarkan keumumannya. Adapun orang yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam :

"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim)

Karena perbuatan itu menggabung antara Isbal dan kesombongan. Kita mengharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberi keampunan. Adapun ucapan Nabi Shalallaahu ’alaihi wa sallam kepada Abu Bakr ketika dia berkata kepada Beliau:

" Wahai Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam, sarungku sering turun kecuali kalau aku benar-benar menjaganya." Maka Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam berkata kepadanya:" Engkau tidak termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Isbal boleh dilakukan bagi orang yang tidak karena sombong. Tapi hadits ini menujukkan bahwa orang yang sarungnya atau celananya melorot tanpa maksud sombong kemudian dia benar-benar menjaganya dan membetulkannya tidak berdosa. Adapun menurunkan celana di bawah kedua mata kaki yang dilakukan sebagian orang adalah perbuatan yang dilarang. Dan yang sesusai dengan sunnah adalah hendaknya gamis atau yang sejenisnya, ujungnya berada antara setengah betis sampai mata kaki dengan mengamalkan semua hadits-hadits tadi. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq (Dari sumber yang sama hal. 221).

Pertanyaan :
Apakah menurunkan pakaian melewati kedua matakaki (Isbal) bila dilakukan tanpa sombong didanggap suatu yang haram atau tidak ?

Jawab :

Menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi pria adalah perkara yang haram. Apakah itu karena sombong atau tidak. Akan tetapi jika dia melakukannya karena sombong maka dosanya lebih besar dan keras, berdasarkan hadist yang tsabi dari Abu Dzar dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah bersabda :

"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapatkan azab yang pedih."

Abu Dzarr berkata : "Alangkah rugi dan bangkrutnya mereka ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ! Beliau berkata: "(Mereka adalah pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu" ( HR Muslim dan Ashabus Sunan)

Hadis ini adalah hadist yang mutlak akan tetapi dirinci dengan hadist Ibnu umar, dari Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam, beliau bersada :

"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat."(HR Bukhari)

Kemutlakan pada hadist Abu Dzar dirinci oleh hadist Ibnu Umar, jika dia melakukan karena sombong Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya, membersihkannya dan dia akan mendapatkan azab sangat pedih. Hukuman ini lebih berat dari pada hukuman bagi orang yang tidak menurunkan pakaian tanpa sombong. Karena Nabi berkata tentang kelompok ini dengan:

"Apa yang berada dibawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka" (HR Bukhari dan Ahmad)

Ketika kedua hukuman ini berbeda, tidak bisa membawa makna yang mutlak kepada pengecualian, karena kaidah yang membolehkan untuk megecualikan yang mutlak adalah dengan syarat bila kedua nash sama dari segi hukum.

Adapun bila hukum berbeda maka tidak bisa salah satunya dikecualaikan dengan yang lain. Oleh karena ini ayat tayammum yang berbunyi :

"Maka sapulah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengan tanah itu." (Al Maidah :6).

Tidak bisa kita kecualikan dengan ayat wudlu yang berbunyi :

"Maka basuhlah wajah wajah kalian dan tangan tangan kalian sampai siku. ( Al Maidah : 6).

Maka kita tidak boleh melakukan tayammum sampai kesiku. Itu diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya dari dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi bersabda :

"Sarung seseorang mukmin sampai setengah betisnya. Dan apa yang berada dibawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Dan siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya."

Disini Nabi menyebutkan dua contoh dalam hukum kedua hal itu , karena memang hukum keduanya berbeda. Keduanya berbeda dalam perbuatan, maka juga berbeda dalam hukum. Dengan ini jelas kekeliruan dan yang mengecualikan sabda Rasulullah ;

"Apa yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka."

Dengan sabda beliau :

"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala."

Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakuakan hal ini karena sombong . 

Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya ; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih. berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya. (diambil dari As’ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin)

(Dinukil dari kitab Tadzkiirusy Syabaab bimaa Jaa’a Fii Isbalits Tsiyab, Edisi Indonesia “Hukum Isbal” diterjemahkan oleh Al Ustadz Ali Ishmah al Maidani - Penerbit Adz Dzahabi Medan)

(read more ...)



 Seorang manusia apabila tidur, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewafatkannya, yang dikenal dengan kematian shugra (kecil) Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اللهُ يَـتَوَفَّى اْلأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَــيْــهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ َلآيــــَاتٍ لِقَوْمٍ يَــتَفَكَّرُونَ . الزمر:42 

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya ; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikan itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (QS. Az Zumar:42) 

Tidur dikatakan dengan kematian kecil dikarenakan saat itu ruh pergi kemana saja sekehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu diantara do’a tidur yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam adalah :

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ . رواه البخاري و مسلم

"Dengan namaMu Tuhan saya berbaring dan denganMulah saya terjaga, apabila Engkau menahan jiwaku, (mewafatkanku) ampunilah dia, dan jika Engkau melepaskannya (menghidupkannya), jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga (ruh) hamba-hamba-Mu yang shalih" (HR. Bukhari dan Muslim)

Macam-macam mimpi
Mimpi terbagi atas tiga macam : mimpi yang disukai (baik), mimpi yang tak bermakna dan mimpi yang dibenci (buruk). Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

الرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ فَبُشْرَى مِنَ اللهِ وَحَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ 
رواه أحمد

"Mimpi itu ada tiga macam : Berita gembira dari Allah (mimpi baik), mimpi dari diri sendiri/ ungkapan jiwa (mimpi tak bermakna) dan gangguan syaithan (mimpi buruk)" (HR. Ahmad)

1. Mimpi yang disukai (Baik)
Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia sukai. Sesungguhnya mimpi ini datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hal ini merupakan suatu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada manusia, karena apabila seorang manusia melihat hal-hal yang ia sukai maka hal tersebut dapat menambah semangat dan kegembiraannya dan menjadikan sebagai berita gembira baginya karena diantara berita gembira yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seorang muslim di dunia adalah mimpi yang baik yang ia mimpikan sendiri atau yang dimimpikan orang lain tentangnya. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا: وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ : الرُّؤْيـــَـا الصَّالِحَةُ
رواه البخاري 

"Tidaklah tinggal dari tanda-tanda kenabian kecuali berita-berita gembira", para shahabat bertanya :"Apa itu berita-berita gembira?", Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda: "Mimpi yang baik" (HR. Bukhari) Dan dianjurkan baginya untuk menceritakan mimpi yang baik itu kepada orang lain sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam :

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ اللهِ فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا
رواه البخاري و مسلم

"Apabila salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia sukai maka sesungguhnya ia datangnya dari Allah Ta’ala maka bertahmidlah (ucapkan "Al hamdulillah") dan kabarkanlah mimpi baik tersebut (kepada orang lain)" (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mimpi yang tidak mempunyai makna dan tujuan
Mimpi jenis ini terkadang muncul dari diri sendiri mungkin karena memikirkan sesuatu atau terlalu sibuk akan suatu urusan sehingga hal tersebut muncul dalam mimpinya. Atau bisa jadi mimpi ini merupakan permainan syaithan sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam :

إِنِّي حَلَمْتُ أَنَّ رَأْسِي قُطِعَ فَأَنَا أَتَّبِعُهُ فَزَجَرَهُ النَّبِيُّ وَقَالَ: لاَ تُخْبِرْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِي الْمَنَامِ
رواه مسلم

"Sesungguhnya saya telah bermimpi (melihat) kepalaku telah terputus (dari badanku) lalu saya mengikutinya dari belakang, maka Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam mencelanya dan bersabda : "Janganlah kamu ceritakan (kepada orang lain) permainan syaithan terhadapmu di dalam mimpi(mu)" (HR. Muslim)

3. Mimpi Buruk
Yaitu apabila seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia benci. Mimpi ini datangnya dari syaithan yakni dengan menampakkan hal-hal yang jelek, yang dengannya seorang manusia dapat terkejut, sedih dan bisa jadi hingga membuatnya sakit, karena syaithan adalah musuh manusia, mereka menyukai apa yang dibenci oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الــنَّجْوَى مِنْ الشَّــيْطَانِ لِــيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَـــيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَعَلَى اللهِ فَلْـــيَــتَوَكَّلْ الْمُؤْمِنُونَ . المجادلة :10

"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaithan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal" (QS. Al Mujaadalah : 10)

Untuk itu apabila seseorang melihat mimpi yang buruk hendaknya ia meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan-kejahatan syaithan dan keburukan-keburukan yang ia lihat di dalam mimpinya, dan mimpi buruk ini jangan disampaikan kepada orang lain karena bagaimana pun buruknya mimpi tersebut, hal tersebut tidak dapat membahayakannya. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلاَ يَذْكُرْهَا ِلأَحَدٍ فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ 
رواه البخاري ومسلم

"Apabila (kalian) melihat selain dari itu (mimpi baik) berupa hal-hal yang dibenci, maka sesungguhnya itu datangnya dari syaithan maka berlindunglah (kepada Allah) dari kejahatannya (syaithan) dan janganlah ia menceritakannya kepada seorangpun, karena mimpi tersebut tidak membahayakannya" (Muttafaqun ’Alaihi)

Namun disayangkan yang terjadi sekarang, sebagian orang apabila ia melihat hal-hal yang buruk dalam mimpinya justru berusaha untuk mencari tahu ta’wil dari mimpi tersebut baik dengan mencarinya di dalam buku-buku atau dengan menanyakan langsung kepada orang lain tanpa menyadari bahwa dengan mengungkapkan mimpi buruknya kepada orang lain bisa jadi hal tersebut bisa menjadi suatu kenyataan, jika Allah menghendaki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya, demikian pula dengan mimpi buruk. Dan diantara obat dari mimpi buruk tersebut adalah:

a. Meludah ke kiri sebanyak 3 kali dan berta’awwudz kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan syaithan dan keburukan yang ia mimpikan sebanyak 3 kali kemudian merubah posisi tidur ke sisi yang lain. Apabila ia berbaring pada sisi kiri maka ia merubahnya ke sisi kanan begitupula sebaliknya. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ 
رواه مسلم

"Apabila salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia benci, maka hendaknya ia meludah ke kiri sebanyak 3 kali dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan syaithan sebanyak 3 kali dan rubahlah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya ke posisi lainnya" (HR. Muslim)

b. Apabila hal-hal di atas telah dilakukan, namun mimpi buruk tersebut masih juga datang, maka hendaknya ia bangun, berwudhu kemudian shalat, dan jangan ia menceritakannya kepada orang lain dengan mengatakan : "Saya telah bermimpi begini dan begitu", akan tetapi hendaknya ia menyembunyikan mimpi buruk tersebut, seakan-akan ia tidak pernah memimpikannya. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

وَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلاَ يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ 
رواه أحمد

"Dan apabila ia melihat (dalam mimpinya) sesuatu yang ia benci, maka janganlah ia menceritakannya kepada seorangpun dan hendaknya ia bangun kemudian shalat" (HR. Ahmad) Mimpi bertemu Nabi

Apabila seseorang bermimpi bertemu Nabi maka sesungguhnya ia telah benar-benar melihat beliau, karena syaithan tidak bisa meniru wujud Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ لَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي 
رواه البخاري و مسلم

"Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, sesungguhnya ia akan melihatku dalam keadaan terjaga atau seakan-akan melihatku seperti dalam keadaaan terjaga (karena) syaithan tidak dapat meniru wujudku" (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata tabi’in Muhammad bin Sirin رحمه الله (beliau adalah imam dalam ta’bir mimpi) tentang makna hadits di atas : "Hal tersebut (ia benar-benar melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam) apabila sesuai dengan ciri-ciri yang ada pada Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam".

Diriwayatkan bahwa apabila seseorang datang kepada Muhammad bin Sirin رحمه الله, dan mengatakan bahwa ia telah melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam dalam mimpinya, maka beliau berkata kepadanya : "Sebutkan ciri-ciri orang yang engkau lihat dalam mimpimu itu?", apabila orang itu menyebutkan ciri-ciri yang tidak ada pada Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam, maka beliau berkata : "Sesungguhnya kamu tidak melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam" (Lihat Fathul Bari 12:383-384)

Karenanya seseorang yang merasa pernah melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam hendaknya mencocokkan ciri-ciri Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam dengan orang yang ia lihat dalam mimpinya, apa bila sama maka ia adalah Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam dan jika berbeda maka ia bukanlah Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam, akan tetapi ia hanyalah keragu-raguan yang dimunculkan oleh syaithan walaupun dalam mimpi tersebut ia mengaku sebagai Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam.

Adapun bagi yang mendapatinya sesuai dengan ciri-ciri yang ada pada Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam. maka hal yang wajib untuk diketahui adalah semua hadits-hadits dalam mimpi tersebut harus tidak bertentangan dengan syari’at, dalam artian bahwa apabila salah seorang datang dan mengatakan bahwa dia telah bertemu atau melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam dalam mimpinya dan dia memerintahkannya untuk melakukan sesuatu atau melarang akan sesuatu, namun perintah atau larangan tersebut bertentangan dengan syariat maka berita tersebut adalah berita bohong yang dia buat-buat atau berita yang dia dapatkan dari syaithan, karena tidak mungkin sabda beliau Shallallahu ’alaihi wa Sallam berbeda dengan syariat yang pernah beliau bawa. Dan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam telah melarang untuk berbohong tentang mimpi dan telah menjulukinya sebagai pembohong besar. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِرَى أَنْ....يُرِيَ عَيْنَهُ مَا لَمْ تَرَ
رواه البخاري

"Sesungguhnya diantara kebohongan yang paling besar adalah (diantaranya) ...mengaku-ngaku pernah melihat (sesuatu dalam mimpinya) yang sebenarnya ia tidak melihatnya.."(HR. Bukhari)

Kalau saja kita dilarang untuk mempercayai mimpi orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Sallam jika dia melarang atau memerintahkan yang tidak sesuai dengan syari’at, maka terlebih lagi jika hanya bermimpi bertemu syaikh fulan atau imam fulan yang mengajarkan ibadah-ibadah atau dzikir-dzikir bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah tentu jauh lebih kita tidak percayai. Kita memohon kepada Allah untuk senantiasa memberikan kita mimpi-mimpi yang indah dan di jauhkan dari mimpi-mimpi yang buruk..... Amin

Maraji’:Syarh Riyadhus Shalihin jilid 7 hal. 393-402, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin رحمه الله 

 

(read more ...)



 “Berdaya Guna” Untuk Islam...


Banyak orang shaleh di sekitar kita. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang ahli ibadah (gemar beribadah), faqih (keilmuan dan pemahaman agama yang memadai), cerdas, memiliki skill bagus, dan potensi-potensi lain yang cukup signifikan. Keberadaan mereka adalah modal utama bagi kebangkitan Umat Islam di zaman ini dan kelak.


Mereka adalah aset umat yang bila diberdaya-gunakan tentu akan sangat membantu proses kebangkitan Islam dan mengangkat derajat umat Islam di hadapan umat lainnya. Sebaliknya, mereka yang tidak berdaya guna - apalagi jika tidak berusaha memberdaya-gunakan dirinya – adalah salah satu sebab keterlambatan percepatan kebangkitan umat, bahkan pada kondisi tertentu bisa menjadi ancaman  runtuhnya bangunan perjuangan yang telah dibangun oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, sahabat  radhiallahu ’anhum dan para pendahulu kita yang shaleh (salaf).

“Daya Guna” di sini, adalah ‘amal. Atau dalam bahasa kita, makna pasangan kata ini mungkin dekat dengan istilah efektif, yakni sesuatu yang dapat membawa efek bagi selainnya. Tentu yang kita maksudkan di sini adalah efek yang bermanfaat, positif, dan membangun serta hal lainnya yang berafisliasi dengan makna – makna tersebut. 

Penegakan agama Allah di muka bumi merupakan perkara yang mulia dan besar. Agama Islam sebagai satu-satunya agama yang haq tidak dapat tegak kecuali dengan kerja dan ‘amal. Hal ini karena agama Islam menempatkan kerja dan ’amal sebagai sebuah bagian yang penting dalam keber-Islaman seseorang. Kita bahkan tahu bahwa keimanan yang benar adalah keimanan yang tidak hanya sebatas pada hati dan ucapan, namun harus dibuktikan dalam wujud ’amal. 

Mengapa Harus Ber’amal 
Berikut kami paparkan beberapa urgensi dan alasan mengapa kita harus (segera) melakukan ’amal dan kerja untuk agama kita, Islam yang mulia (tentu tidak hanya sebatas beberapa hal ini), yakni  :

a. Sedikitnya Jatah Waktu 
Rasulullah shallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda, artinya : “Usia umatku, enam puluh sampai tujuh puluh tahun” .(HR. Tirmidzi).  Ini adalah ketetapan Allah, meskipun sangat sedikit yang bisa melampaui batas waktu itu, hanya bagi mereka yang dikehendaki oleh Allah, tentunya. Katakanlah seseorang hidup di dunia selama enam puluh tahun, maka perputaran kehidupannya kurang lebih berjalan seperti berikut :

  • Pertama, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 8 jam sehari untuk tidur (meskipun ada manusia yang lebih dari itu -kami berlindung kepada Allah-), maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 175.200 jam atau 7.300 hari atau sekitar 20 tahun untuk tidur.
  • Kedua, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 10 jam sehari untuk bekerja maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 219.000 jam atau 9.125 hari atau sekitar 25 tahun untuk bekerja.
  • Ketiga, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 6 jam sehari untuk mengurusi masalah – masalah keduniaan seperti : rumah tangga, anak, isteri, makan, minum, mengunjungi kerabat, berlibur, berbelanja, dan lainnya ditambah dengan ibadah -khususnya ibadah - ibadah mahdhah seperti : shalat, shaum, dll- maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 131.400 jam atau 5.475 hari atau sekitar 15 tahun untuk mengurusi hal – hal tersebut. Wallahu A’lam.


Jika demikian keadaannya, berapa banyak waktu yang tersisa untuk ber’amal dan mempersembahkan sesuatu untuk agama Allah? Masih adakah waktu yang tersisa  untuk ikut berlomba menggapai nilai – nilai ukhrawi dalam setiap derap langkah dan desah nafas kehidupan kita? Jika saja, setiap detik, menit, jam , hari, bulan dan tahun kita jadikan dan niatkan untuk ibadah/taqarrub  kepada Allah, tentu akan sangat membahagiakan. Sebagaimana perintah Allah Ta’ala, artinya :"       Tetapi,  Jika tidak??? Kepada Allah jualah kita memohon perlindungan.
     
Karena itulah, riwayat hidup generasi salafusshaleh adalah cermin akan pemanfaatan waktu. Riwayat hidup Imam Nawawi rahimahullah merupakan riwayat hidup yang harum dan besar, yang layak merepresentasikan kondisi generasi salafusshaleh dalam mengelola waktu untuk ber’amal dan bekerja demi sebuah hal yang besar. Beliau adalah seorang ’alim yang mengurangi waktu tidur, makan, minum, dan hal lainnya yang bisa menyibukkannya dari taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika beliau pindah dari kampung kelahirannya, Nawa, ke Damaskus, ia semakin giat memanfaatkan waktu. Selama 20 tahun penuh beliau bahkan tidak pernah merebahkan tubuhnya ke bumi, melainkan hanya tidur bersandar pada buku – bukunya, sibuk belajar, dan memperbanyak ibadah. Salah seorang temannya pernah membawakan makanan yang masih ada kulitnya, namun beliau tidak bersedia memakannya. Beliau berkata,  “Saya khawatir tubuhku lembab sehingga aku tertidur”. Demikianlah beliau berkejaran dengan waktu.
    
Segeralah menyadari sedikitnya jatah waktu untuk kita! Imam Hasan Al Bashri pernah berkata, “Waktu hanya ada tiga, waktu kemarin yang sudah bukan milik kita lagi. Esok hari yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang yang ada di tangan kita”. Mengapa sang Imam mengatakan hal itu? Ya, tentu tidak lain karena beliau sangat memahami berharganya waktu yang sedikit ini. 
    
Maka, kebiasaan manusia – manusia besar seperti mereka adalah menggunakan jatah waktu yang sedikit untuk sebuah karya besar.

b. Perbedaan derajat 
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan surga kepada orang -orang yang ta’at. Namun Allah memasukkan mereka ke surga semata – mata karena rahmatNya, bukan atas dasar hak seorang hamba sebagaimana yang diketahui. Tetapi keadilan ilahi menetukan bahwa seseorang yang mencurahkan segala tenaga dan potensinya untuk taat kepada Rabbnya dan berupaya menegakkan agama-Nya itu tidak sama dengan orang yang melalaikan semua itu. Begitu pula, tidak sama antara orang yang banyak mencurahkan harta, pikiran dan tenaga semata – mata untuk kejayaan agama, dengan orang yang hanya sedikit dan pelit mencurahkan nikmat tersebut. Manakala Allah telah menakdirkan perbedaan ini, tentu kesudahan mereka di surgaNya adalah pada tingkatan – tingkatan yang berbeda pula.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai seratus tingkatan (derajat), yang semua itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan untuk orang -orang yang berjihad di jalanNya. Sedangkan jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kamu meminta surga kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena merupakan surga yang paling luas. Di atasnya terdapat ’arsy Rahman dan sungai – sungai tyerpancar darinya”. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya, dapat dilihat dari luar, Kemudian seoran A’rabi berdiri seraya bertanya : Wahai Rasulullah, untuk sipakah kamar – kamar itu? Kemudian rasulullah menjawab : “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap”. (HR. Tirmidzi).   

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang lainnya, “Sesungguhnya penduduk surga saling melihat penduduk surga yang ada di atasnya, seperti mereka memandang bintang yang berkilau, seperti mutiar yang melintas di ufuk langit dari arah timur atu barat, karena keutamaan yang ada pada mereka. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, bukankah tempat itu untuk para nabi? Sedangkan orang lain tidak dapat mencapainya? Lalu rasul menjawab : Ya, demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaanNya, tempat itu juga untuk orang – orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan utusanNya”. (HR. Bukhari).   

Dan Nabi pernah menceritakan perbedaan derajat bagi penghuni surga, “Dua surga yang bejana dan isinya terbuat dari perak. Dan ada surga yang bejana dan isi keduanya terbuat dari emas...” (HR. Bukahri).

Lihatlah, saudaraku. Lihatlah mimpi dan berita gembira dari Allah ini dengan mata hati nurani yang bersih sebelum melihatnya dengan kasat mata, agar engkau memperoleh bashirah, cahaya yang terang, betapa surga itu adalah harga yang mahal pun tingkatan – tingkatan yang ada di dalamnya. 

Betapa orang – orang shalih sebelum kita berusaha keras mendapatkan derajat – derajat yang tinggi itu. Pun mereka berkompetisi untuk mengungguli derajat orang – orang selain mereka. Dalam kitab Ar-Ruh karya Ibunl Qayyim Al Jauziyah rahimahullahu disebutkan beberapa kisah tentang mereka, di antaranya :

  • Ketika Muhammad bin Sirin meninggal dunia, seorang sahabatnya sangat berduka atas kepergiannya. Kemudian ia bermimpi melihatnya dalam keadaan yang baik. Ia bertanya , “Wahai saudaraku, aku lihat kamu dalam keadaan yang membahagiakan diriku, lalu apa yang Allah tetapkan pada Hasan (Hasan bin Yasar Al Bashri)? Ia menjawab : Ia diangkat di atasku tujuh puluh derajat”. Aku berkata : Mengapa bisa demikian sedangkan kami melihatmu lebih istimewa dibandingkan dia? Ia menjawab : Itu karena ’duka citanya’ yang panjang”.
  • Ketika Rabi’ah (Rabi’ah al-Adawiyah, ahli ibadah yang masyhur) meninggal dunia, seorang sahabatnya bermimpi melihatnya memakai pakaian dan cadar dari sutra. Sedangkan dulunya ia dikafani dengan memakai jubah dan cadar dari wol. Maka sahabatnya itu bertanya : Di mana kain jubah dan cadar dari kain wol yang menjadi kafanmu? Ia menjawab : Demi Allah, kain itu dilepas dariku dan diganti dengan pakaian yang kamu lihat padaku ini. Sedangkan kain yang menjadi kafanku itu dilipat, diberi stempel kemudian diangkat ke illiyyin agar sempurna pahalanya bagiku di hari kiamat.... (selanjutya ia - sahabatnya - bertanya lagi), Apa yang diperbuat oleh “Abdah binti Abi Kilab (ahli ibadah dan zahid)? Ia menjawab : Jauh, jauh, demi Allah dia telah mendahului kami mendapatkan derajat yang tinggi. Kemudian sahabatnya berkata : Apa sebabya, padahal kamu menurut manusia adalah orang yang paling banyak ibadahnya? Ia menjawab : Sesungguhnya Abdah tidak pernah mempedulikan bagaimana keadaan dirinya di dunia di waktu pagi atau sore. Lalu aku bertanya lagi : Apa yang diperbuat oleh Abu Malik (Abu Malik al- ’Abid, wiridnya setiap hari adalah shalat empat ratus raka’at, Shifatush-Shafwa : 3/357-360)? Ia menjawab : Dia mengunjungi Allah kapan pun ia inginkan. Sahabatnya bertanya lagi, Apa yang diperbuat oleh  Basyar bin Mansyur (orang yang jujur, ahli badah dan zahid)? Ia pun menjawab : Bukh, bukh (kalimat yang diucapkan ketika memuji). Demi Allah ia diberi melebihi apa yang ia inginkan. ...”.
  • Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat menginginkan satu tahun saja dari usiaku seperti Ibnu Mubarak (seorang ’alim, ’abid, mujahid, dermawan dan berbagai keutamaan lainnya). Tapi aku tidak mampu melakukannya . Bahkan dalam tiga hari sekalipun”. Mengapa Sufyan Ats-Tsauri mengatakan hal itu? Padahal beliau adalah ulama yang terkenal luar biasa dalam beribadah. Sampai – sampai ada salah seorang salaf di zamannya mengatakan, “Sufyan di zamannya, seperti Abu Bakar dan Umar di zamannya”.


Kisah - kisah ini tidaklah kemudian menjadi sandaran dan pijakan kita dalam ber’amal, sebagaimana dalil – dalil al-Qur’an dan sunnah yang shahih. Namun, setidaknya  kisah dalam mimpi – mimpi tersebut, sungguh menghembuskan aroma, semangat dan nafas keimanan.

c. Jalan Para Nabi dan Rasul serta Reformis (Muslihun).
Tidak syak lagi, bahwa ber’amal, melakukan kerja – kerja dalam rangka dakwah, amar ma’ruf nahi munkar,    merupakan jalan para nabi dan rasul serta para reformis (mushlih), dalam kafilah cahaya yang panjang sejak Nabi Adam hingga datangnya hari kebangkitan kelak. Mereka yang bergabung dalam kafilah ini, akan mendapatkan kemuliaan besar saat ini dan nanti. Mereka adalah orang – orang yang memberikan goresan sejarah perjuangan, sehingga lembaran – lembaran sejarah tak kuasa untuk luput mencatat riwayat hidup mereka. Sedangkan mereka yang tertinggal dari kafilah ini akan terperangkap dalam lingkaran kemalasan, kejemuan, was – was, tidak menentu arah, rapuh dan tekanan. Wallahu Musta’an.

d. “Mereka”Pun “Berkarya” 
Mereka adalah para pengusung kekafiran dan para penyerunya. Bukankah kita tahu, betapa umat Islam saat ini sedang mengalami ancaman dan rongrongan yang luar biasa dari para penyeru –misionaris- kekufuran. Tujuan mereka tidak lain adalah menggoncang keimanan umat sehingga akhirnya rela melepasakan keimanan dan keislaman mereka (murtad).

Dalam perjalanan sejarah, tercatat begitu banyak “dai – dai” mereka yang mampu bekerja “banting-tulang”, dengan pengorbanan yang tinggi yang ketika mendengar dan membaca cerita – cerita “’amal” mereka, kita tak sengaja “menelan ludah” dan “menggelengkan kepala” pertanda takjub akan heroisme mereka.

Seorang anggota tim dakwah daerah dari lembaga keagamaan di wilayah Makassar dan sekitarnya pernah menuturkan kisahnya. Saat itu, tim dakwah menjalankan misi dakwahnya ke sebuah daerah terpencil dan terisolir di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Desa Sicini, namanya. Perjalanan menuju ke sana sarat dengan perjuangan. Betapa tidak, akses jalan dan prasarana perhubungan menuju ke desa tersebut nyaris tidak ada dan sungguh bagi mereka yang bernyali pas-pasan akan ciut dibuatnya. Batu cadas yang tajam ditambah jalan yang amat landai, membuat  semangat dan ghirah para da’i – da’i “pilihan” itu semakin menyala. Mereka melaju kendaraannya dengan goncangan bak ombak di tengah lautan yang luas. Sehingga sempat terpikir oleh mereka, adakah desa itu memilki penduduk yang menetap. Kalau pun ada, bagaimana mereka mampu bertahan dengan kesulitan seperti ini. Akhirnya ketika mereka tiba, tampaklah sebuah fenomena yang tidak disangka. Ternyata, di desa, telah ada dan hidup seorang misionaris selama puluhan tahun. Ia telah mampu mewarnai desa tersebut dengan warna – warna kekafiran dan mengkafirkan sebagian dari penduduk desa yang sebelumnya memeluk agama Islam dari nenek moyang mereka. Kenyataan ini, membuat kita sadar, betapa “mereka” mampu “berdaya guna” bagi agamanya. Padahal, usaha mereka mengorbankan daya, harta benda dan keluarga, tidak akan mengangkat mereka dari jurang kenistaan dan siksaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka” (QS Al Imran : 10).

Sekali lagi, kita harus segera ber’amal dan mengakhiri ketidakberdayaan. Jika saja para pengusung kekafiran dan kesesatan (yang tidak memiliki konsep keimanan yang haq) bekerja keras siang dan malam  memperjuangkan kejayaan agama dan millah mereka serta berusaha untuk menambah pengikut yang diharapkan dapat membantu eksistensi mereka, mengapa kita sebagai seorang mu’min yang berupaya meraih kesempurnaan iman dengan ’amal, peniti jejak para salafussshaleh, pengusung manhaj yang haq, dan pengejar kenikmatan surga dan bidadari yang ada di dalamnya, tidak ber’amal lebih keras atau setidaknya dengan ’kekerasan’ (dengan kadar) yang sama dengan “kekerasan” mereka untuk meninggikan agama Allah? 

Penutup
Kita harus memahami betapa penting memberdayakan segala keshalihan, potensi dan bakat dalam bentuk ’amal untuk agama, sebagai sebuah konsekuensi akan keimanan kita. Dan yang pasti, hal ini adalah sebuah kompetisi mencapai puncak kemuliaan, rahmat dan keridhaan Allah Jalla Wa ’Ala . 

Maka, hendaknya kepada orang – orang yang telah berikrar dengan keimanannya, mereka yang telah mampu untuk mewujudkan keshalihan individunya, dan mereka yang Allah telah anugerahkan beragam nikmat dan potensi dalam dirinya, segeralah ber’amal! Saatnya mengakhiri ketidakberdayaan. Berdaya guna untuk Islam. Berdaya guna untuk sebuah karya menuju cita mulia. Kemuliaan agama Allah di dunia. Kenikmatan tak terhingga di surga. 
 Akhirnya,  "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. At Taubah : 105).
Wallahu A’lam.(Abu Mujahid)

Maraji’ :
Ajzu Ats Tsiqat, DR. Muhammad ibn Hasan ibn ’Aqil Musa Syarif (edisi Indonesia : Shalih Tapi Tak Berdayaguna), Rabbani Press, Jakarta, Oktober 2002.
Etos Kerja Seorang Muslim, Muh. Ihsan Zainuddin.

 

(read more ...)



Okt

06

  Kata yang indah di pendengaran

Kata yang selalu jadi impian dan tujuan

Tapi sadarkah mereka akan tuntutan

Ataukah hanya ambil hak, tanpa hiraukan kewajiban…?!

Sungguh suatu impian yang mempesona

 

Sungguh suatu tujuan yang mulia

 

Hanya jalan mana yang harus ditelusuri

 

Ternyata banyak persimpangan yang menggoda hati

Banyak yang mengaku aku di atas sunnah

Banyak yang mengaku akulah pahlawan ummah

Tapi tahukah mereka kandungan maknanya

Bahkan sadarkah mereka ketika mengucapknya

Pengakuan hanya sekedar pengakuan

 

Tuduhan hanya sekedar tuduhan

 

Seakan pujian khusus untuk mereka

 

Sedangkan tuduhan akulah sampahnya..!!

 

SABDA-SABDA tentang JALAN MENUJU SURGA

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjumpai Alloh, dalam keadaan tak melakukan kesyirikan, apa pun bentuknya, maka ia pasti masuk surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Rosulnya, mendirikan sholat, dan berpuasa Romadhon, maka Alloh mengharuskan untuk memasukkannya ke dalam surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendirikan masjid karena mengharap wajah Alloh, niscaya Alloh dirikan baginya padanannya di surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa sholat bardain (shubuh dan ashar), maka ia akan masuk surga” (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mau pergi ke masjid (untuk ibadah), niscaya Alloh siapkan baginya tempat persinggahannya di surga, setiap kali ia pergi dan kembali”. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mampu memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga lisan dan kehormatannya, maka ku jamin pula ia masuk surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dalam sehari semalam rutin melakukan sholat (sunat rowatib) 12 roka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga“. (HR. Muslim)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju surga“. (HR. Muslim)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjawab adzan (dengan ikhlas) dari hatinya, niscaya ia masuk surga“. (HR. Abu Dawud, dan di-shahih-kan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorangpun yang wudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian sholat 2 rokaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya di dalamnya, kecuali wajib baginya masuk surga“. (HR. Abu Dawud, dan di-shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا (aku ridho: Alloh sebagai tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rosulku), maka wajib baginya masuk surga“. (HR. Abu Dawud, dan di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhir ucapannya, laa ilaaha illallooh, maka ia pasti masuk surga“. (HR. Abu Dawud, dan di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ (maha suci Alloh yang maha agung, dan segala puji bagi-Nya), maka ditanamkan baginya pohon kurma di surga“. (HR. Tirmidziy, dan di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal, sedang ia terbebas dari tiga hal: takabur, ghulul (mengambil harta ghonimah dengan dholim), dan hutang, maka tentu ia masuk surga“. (HR. Tirmidziy, di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghidupi dua anak perempuan kecil, maka aku dan dia akan bersama masuk surga“. (HR. Tirmidzy, dan di shahihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengumandangkan adzan selama 12 tahun, maka wajib baginya surga, dicatat baginya 60 kebaikan setiap harinya dari adzannya, dan dicatat pula baginya 30 kebaikan setiap harinya dari qomatnya”. (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memohon surga kepada Alloh, sebanyak tiga kali, maka surga itu balas memohon: “Ya Alloh, masukkanlah dia ke surga!”. (HR. Tirmidzy, dan di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit, atau silaturrahim ke rumah saudaranya fillah, maka malaikat menyeru kepadanya: kamu telah melakukan kebaikan, dan baik pula perjalananmu, serta bagimu tempat di surga” (HR. Tirmidzy, dan di hasankan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran akan menuntun seseorang menuju kebaikan, dan kebaikan akan menuntun seseorang menuju surga” (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berjihad di jalannya, dan ia tidak keluar berjihad kecuali karenaNya dan karena membenarkan banyak firmanNya (tentang anjuran dan pahala berjihad), maka Alloh memberikan jaminan untuk memasukkannya ke surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan (kepada mereka yang membutuhkan), dan sholatlah di waktu malam (orang-orang tertidur pulas), niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Tirmidziy, dan di shohihkan oleh Albany)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Umroh yang satu dengan umroh yang lainnya adalah penebus dosa-dosa yang dilakukan antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tiada balasan lain baginya selain surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yang barangsiapa menjaganya, niscaya akan masuk surga“. (HR. Bukhori)

Rosul shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Aku benar-benar melihat seseorang yang merasakan nikmatnya surga, hanya karena perbuatannya menebang pohon yang tumbuh di tengah jalan, dan mengganggu mereka (yang berlalu lalang)”. (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَإِلَّا أَنْتَ

(Ya Alloh, Engkaulah tuhanku, tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau, Engkaulah yang menciptakanku, dan aku adalah hambamu, aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku, aku berlindung kepadamu dari kejelekan yang ku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, aku akui pula dosaku kepadaMu, oleh karena itu, ampunilah aku! Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau). Rosul -shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkannya dengan meyakini isinya, di waktu pagi, dan akhirnya meninggal pada hari itu sebelum waktu petang tiba, maka dia termasuk penghuni surga. Demikian pula, apabila ia mengucapkannya dengan meyakini isinya, di waktu petang, dan akhirnya meninggal pada malam itu sebelum masuk waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga“. (HR. Bukhori)

 

(read more ...)



Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma Ba’du.

Bagaimanakah engkau mendapatkan cinta Allah ? Bagaimanakah engkau meraih keridhaanNya? Dan bagaimanakah engkau menjadi hambaNya ? Sesungguhnya cita-cita yang paling luhur dalam Islam adalah, saat engkau menjadi orang yang dicintai oleh Allah, orang yang dekat denganNya dan menjadi kekasih dan WaliNya. Karena itulah Rasulullah mengelompokkan para wali (orang-orang beriman) menjadi dua kelompok; orang yang pertengahan dalam beramal dan orang yang terdepan dalam melakukan kebajikan.

 Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Allah berfirman, Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka dia telah menantang perang denganKu, tidaklah hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan amal ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu tiada henti-hentinya bertaqarrub kepadaKu dengan segala yang sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya, yang dengannya dia memandang, menjadi tangannya, yang dengannya dia menggenggam, dan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah. Jika dia meminta kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi permintaannya dan jika dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku akan melindunginya.”

 

Ini adalah hadits wilayah(hadits yang menjelaskan tentang waliyullah/kekasih Allah) yang telah diuraikan maknanya oleh para ulama dalam buku-buku mereka. Hadits ini merupakan hadits yang amat agung dalam Islam, dan Imam asy-syaukani memiliki uraian yang indah dalam bukunya yang berjudul, “Qathr al-Waly Fi Syarh Hadits al-Waly”.

Dalam hadits ini Allah mengelompokkan orang-orang yang beriman menjadi dua kelompok, orang yang pertengahan dalam beramal (al-Muqtashid) dan orang yang terdepan dalam melakukan kebajikan (as-sabiq bil khairat).

Al-Muqtashidadalah orang yang menunaikan segala yang wajib dan as-sabiq bil khairat adalah orang yang mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah dengan segala yang sunnah. Allah berfirman, 

“Kemudian Kitab ini kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan.”(Fathir : 32)

 

Ibnu Taimiyah berkata yang artinya, “Semua golongan itu akan masuk surga.”

Ini merupakan berita gembira bagi kita karena kita menganggap diri kita termasuk orang-orang yang menganiaya diri.

Masruq bertanya kepada Aisyah “Wahai ibu, siapakah orang-orang yang terdepan dalam melakukan amal kebajikan ?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang terdepan dalam melakukan amal kebajikan adalah orang-orang yang pernah hidup bersama Rasulullah dan orang-orang yang pertengahan adalah orang-orang yang datang setelah mereka atau yang mengikuti mereka. Sedangkan orang-orang yang menganiaya dirinya adalah saya dan kamu.”

Ini adalah sikap tawadhu’ yang diperlihatkan oleh Aisyah.

 

Faktor-Faktor Menggapai Cinta Allah

Adapun faktor - faktor untuk menggapai cinta Allah adalah sebagai berikut :

 

Pertama, al-Qur’an al-Karim

Sesuatu yang paling besar manfaatnya dan paling dapat mendekatkan seseorang kepada Allah adalah Al Qur’an, karena dialah kitab yang agung yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah.

 

Maka tidak ada kesuksesan bagi umat ini dan tidak ada kebahagiaan baginya selain membaca dan mentadaburial-Quran. Ketika umat jauh dari al-Qur’an dan mencari alternatif lain selainnya, maka Allah akan melemparkan mereka dalam perdebatan.

Tirmidzi dan Abu Umamah meriwayatkan secara marfur’bahwa Rasulullah bersabda,

 

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka mendapatkan petunjuk, melainkan mereka dijadikannya saling berdebat.”

Umat Islam kini hidup dalam kerendahan nilai, prinsip dan pendidikan, ketika mereka berpaling dari al-Qur’an dan sunnah. Sehingga forum-forum mereka mandul, tidak memiliki faedah dan manfaat apa-apa serta tidak memberikan kebaikan kepada mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Umat yang mengambil kebudayaannya dari selain al-Qur’an, adalah umat yang tidak memiliki intelektualitas, daya nalar dan kemuliaan. Karena itulah, siapa pun yang mencermati kehidupan generasi as-salaf-as-shalih pada abad-abad yang utama, akan mendapati mereka memegang teguh al-Quran dan sunnah. Sehingga mereka menjadi generasi yang paling pantas, paling ikhlas, paling jujur, dan paling mulia dalam beribadah, zuhud dan kembali kepada Allah.

Namun ketika berpaling kecuali orang – orang yang dirahmati Allah dari al-Qur’an, maka hati kita menjadi mati dan kita kehilangan cahaya, sinar dan keinginan cahaya, sinar dan keinginan untuk kembali kepada Allah.

Allah berfirman kepada RasulNya, “Dan supaya aku membacakan al-Qur’an (kepada manusia)”. (An-Naml : 92). Tugas Nabi adalah membacakan al-Qur’an kepada Manusia dan karena itulah di awal hayatnya, beliau melarang menulis hadits agar manusia tidak disibukkan dengan hadits hingga meninggalkan al-Qur’an.

Muslim meriwayatkan dari Hisyam bin Sa’d bin ‘Amir dari bapaknya dari kakeknya – bapak dan kakeknya merupakan dua orang sahabat Anshar yang ikut dalam perang Badar dan Uhud – sebuah bait sya’ir yang berbunyi,

 

Itulah, akhlak-akhlak mulia, bukan sekedar dua campuran antara susu dengan air yang akhirnya menjadi kering.”

 

Jika seorang muslim ingin membanggakan diri, maka berbanggalah dengan ujian yang didapatnya dalam Islam, keberanian dan pengabdiannya untuk agama ini dan kemauannya meninggikan kalimat “La ilaha illallah.”

Adapun orang yang membanggakan diri dengan nasab, keluarga, etnis, kedudukan dan jabatan, maka itulah kebanggaan yang dilakukan Fir’aun dan orang-orang yang sama dengannya sampai Allah mewarisi bumi ini dan segala yang ada di atasnya.

Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah.” Dia berkata, “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.”

Itulah ungkapan yang amat padat setelah al-Qur’an dalam menggambarkan pribadi Rasulullah. Seolah-olah beliau adalah al-Qur’an yang berjalan di atas muka bumi. Jika engkau membaca al-Qur’an, maka seakan engkau membaca kehidupan Nabi.

 Allah berfirman kepada NabiNya dalam al-Qur’an,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(al-Qalam : 4)

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran : 159)

 

Allah berfirman,

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf : 199)

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (Keimanan dan Keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin .” (At-Taubah : 128)

Rasulullah telah mengajarkan kepada para sahabatnya bagaimana hidup bersama al-Qur’an melalui hadits – hadits yang jika dibaca oleh seorang muslim, akan menjadikan hatinya rindu ingin mendengarkan al-Qur’an.

 

Muslim meriwayatkan dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah bersabda :

“Bacalah al-Qur’an, karena karena kelak pada hari kiamat ia akan memberi syafa’at bagi para pembacanya.”

Jika al-Qur’an akan memberi syafa’at kepadamu, maka sungguh bahagianya hatimu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ustman bahwa Rasulullah bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Demi Allah, orang yang paling baik, paling luhur dan paling mulia dari kita adalah orang yang hidup bersama al-Qur’an.

Inilah kriteria yang Allah turunkan ke bumi, bukan kriteria penghuni bumi dan kaum materialis yang memandang manusia berdasarkan kedudukan, jabatan dan keturunan.

Karena itulah, Rasulullah memposisikan manusia sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan al-Qur’an dan beliau menghormati mereka sesuai dengan kadar hafalan mereka terhadap Kitabullah dan sesuai dengan kadar bacaan mereka terhadapnya.

Anas berkata, Rasulullah mengirim suatu pasukan untuk berperang di jalan Allah. Lalu beliau bertanya, “Siapakah dari kalian yang hafal al-Qur’an ?” Semuanya terdiam. Nabi lalu bertanya lagi, “Adakah seseorang dari kalian yang hafal al-Qur’an ?” Seorang laki-laki menjawab. “Aku wahai Rasulullah” Beliau bertanya kepadanya, “Surat apa yang kamu hafal?” Dia menjawab, “Saya hafal surat al-Baqarah”. Akhirnya beliau berkata kepadanya, “Pergilah, kamulah yang menjadi pemimpin pasukan ini.”

Inilah kriteria kelayakan dalam Islam, orang-orang yang komitmen dengan prinsip La ilaha illallah dan orang-orang yang kembali kepada Allah.

Selagi kamu hafal surat al-Baqarah di dalam dadamu, kamu hidup bersamanya dan mengamalkan kandungannya, maka kamulah yang menjadi pemimpin pasukan.

Jabir berkata, “Rasulullah menanyakan para korban perang Uhud yang terbunuh. Siapa dari mereka yang paling banyak menghafal al-Qur’an, maka beliau mendahulukannya memasukkan ke dalam liang lahad.”

Al-Qur’an adalah teman berbicara di malam hari. Bahkan jika kamu memasuki rumah salah seorang sahabat Muhajirin atau Anshar, maka kamu akan mendapati al-Qur’an digantungkan di rumahnya, sedang pedang disampingnya. Pedang untuk menaklukkan negeri dan al-Qur’an untuk menaklukkan hati.

Karena itulah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa disebutkan bahwa Rasulullah mendengarkan bacaannya di malam hari. Abu Musa memiliki suara yang sangat indah yang mengalir ke dalam hati sehingga mampu berbicara secara langsung kepada jiwa manusia.

Rasulullah keluar dan merebahkan tubuhnya di emperan masjid yang berada di dekat rumahnya. Beliau pun mulai mendengarkan bacaan Abu Musa. Di pagi harinya, Nabi berkata kepadanya, “Engkau telah dikaruniai suara seperti suling keluarga Nabi Daud. Abu Musa bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tadi malam engkau mendengarkanku?” Beliau menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya”. Abu Musa berkata lagi, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya aku tahu engkau mendengarkanku, aku akan memperindah bacaanku untukmu.” Yaitu memperindahnya hingga lebih membekas lagi.

Al-Qur’an seluruhnya amat menakjubkan. Allah berfirman,

“Katakanlah (Hai Muhammad) Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an), lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (Al-Jin : 1).

Seorang ahli tafsir mengatakan, “menakjubkan” hingga jin pun menikmati al-Qur’an. Karena itulah jin mengatakan sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Ahqaf,

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata ,.”Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).”Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kita yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari Adzab Allah di muka bumi dan dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Ahqaf : 29-32).

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah kembali dari Tha’if, yaitu ketika beliau membaca Al-Quran di sebuah lembah kebun kurma. Ketika para jin mendengarkan al-Qur’an, mereka pun akhirnya masuk Islam dan beriman. Lalu kembali kepada kaum mereka untuk memberikan peringatan kepada mereka dan meninggikan kalimat “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya orang yang di dalam perutnya, tidak akan sedikit bacaan Al-Quran seperti rumah yang rusak.

Rumah yang tak berpenghuni adalah rumah yang ditempati burung-burung gagak, ular dan kalajengking.

Sedangkan hati yang tak diisi oleh al-Qur’an adalah hati yang diisi kemunafikan, bisikan setan, bisikan jahat, cinta buta, nyanyian-nyanyian kotor dan pandangan buruk.

Rasulullah memberi kabar gembira kepada sahabatnya dengan kedudukan dan kedekatan mereka dengan al-Qur’an.

Rasulullah berkata kepada sayyidul Al-Qurra’ Pemimpin para penghapal al-Qur’an). Ubai bin Ka’ab dari golongan Anshar, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk membacakan kepadamu ayat ini,

“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya).” (Al-Bayyinah : 1)

Allah dari atas langit yang tujuh menyebut-nyebut nama Ubai, salah seorang sahabat Nabi, kemuliaan apakah ini ?

Ubai berkata, “Apakah Allah menyebut-nyebut namaku kepadamu ?” Rasulullah menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya.” Akhirnya air mata Ubai pun menetes dan Rasulullah membacakan kepadanya surat al-Bayyinah.

DalamShahih Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah hendak bertanya kepada Ubai untuk menguji kedekatannya dengan al-Qur’an, banyak hafalannya, pengetahuannya dan kecerdasannya.

Beliau bertanya, “Wahai Abu Mundzir, ayat apakah yang paling agung dalam al-Qur’an ?”

Ubai menjawab, Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”

Beliau bertanya kembali, “Ayat apakah yang paling agung dalam al- Qur’an ?”

Ubai menjawab,

“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya).” (Al-Baqarah : 255).

Rasulullah kemudian mengulurkan telapak tangannya, dan memukulkannya ke dada Ubai sambil berkata, “Hendaklah ilmu membuatmu bahagia, wahai Abu Mundzir.”

Inilah ilmu yang menjadi rebutan dan inilah ilmu yang bermanfaat. Maka jadilah Ubai sebagai sayyidul qurra’ (pemimpin para penghafal al-Quran). Rasulullah bahkan ketika lupa salah satu ayat lalu beliau diingatkan oleh salah seorang sahabat, beliau bertanya kepada Ubai usai shalat untuk memastikan, karena kedudukannya dengan al-Qur’an.

Sedangkan Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat terpengaruh dengan al-Qur’an dan amat memperhatikannya.

Ibnu Abi Hatim dalam menafsirkan surat al-Gasyiyah menyebutkan, bahwa Rasulullah mendengar seorang wanita membaca al-Qur’an di malam hari. Beliau lalu meletakkan kepalanya di pintu rumah wanita itu yang terus membaca tanpa mengetahui bahwa Rasulullah sedang mendengarkannya. Dia membaca ayat,

Sudah datangkah kepadamu (tentang) hari pembalasan (Al-Ghasyiyah : 1)

Rasulullah pun menangis dan berkata, “Ya, telah datang kepadaku, ya, telah datang kepadaku.”

Para sahabat pun mendapat pengaruh al-Qur’an dari Rasulullah ketika mereka melihat beliau hidup bersama ayat-ayatnya seakan beliau melihatnya langsung.

Ibnu Katsir dalam bukunya al-Bidayah wa an-Nihayah ketika menyebutkan biografi Umar mengatakan bahwa Umar pernah sakit karena terpengaruh oleh satu ayat, sehingga para sahabat menjenguknya.

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa ayat tersebut adalah firman Allah,

“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, Kenapa kamu tidak tolong-menolong ? Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” (Ash-Shafat : 24-26).

Dengan demikian, maka tidaklah mungkin seorang hamba mencintai Allah sebelum dia mencintai al-Qur’an. Karena itulah Ibnu Mas’ud mengatakan, “Janganlah seseorang dari kalian bertanya tentang cintanya kepada Allah, tetapi tanyakanlah kepada dirinya tentang cintanya kepada al-Qur’an”. Jika engkau mencintai al-Qur’an, maka engkau telah mencintai Allah, dan seberapa besar cintamu kepada al-Qur’an, maka sebesar itu pulalah cintamu kepada Allah.

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Usaid bin Khudhair bangun untuk membaca surat al-Baqarah, lalu kudanya berkeliling di kandangnya. Usaid membatalkan shalatnya karena kuda itu hampir saja menginjak anaknya dengan kakinya. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan mendekati kepalanya dan peristiwa itupun diceritakannya kepada Rasulullah. Beliau bertanya, “Apakah kamu benar-benar melihatnya ?” Usaid menjawab, “Ya” Beliau berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya malaikat turun untuk mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau membaca hingga pagi, tentu orang-orang akan melihatnya, karena tidak ada sesuatu yang dihalanginya.” Hadits dengan lafazh ini atau yang seperti ini adalah shahih.

Paras sahabat malamnya selalu bersama al-Qur’an, sedangkan kita, malam kita habis bukan bersama al-Qur’an, tetapi begadang yang tidak bermanfaat, mengobrol dan berdebat yang dibenci yang tidak berguna dan tidak mendekatkan kita kepada Allah serta tidak memberikan manfaat untuk dunia dan akhirat. Maka kita rugi karena tidak membuat kita dekat dengan Allah dan jauh dari derajat orang-orang yang baik.

Malam-malam kita habis dengan segala permainan dan kemaksiatan, sedangkan malam – malam mereka habis dengan al-Qur’an dan tahajud. 

Saya katakan kepada malam, apakah di perutmu ada rahasia

yang penuh dengan obrolan dan rahasia ?

Dia berkata, “Saya tidak pernah menemukan dalam hidupku suatu perbincangan

 

seperti perbincangan para kekasih di waktu sahur .”

Malam yang dihabiskan oleh para sahabat bersama al-Qur’an, sangat sedikit dari kita yang melakukannya.

Ibnu Abbas berkata, “Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, lalu Rasulullah datang dan masuk ke rumahnya setelah shalat Isya, sedangkan aku tidur di atas bantal. Beliau bertanya, “Apakah anak itu sudah tidur ?”

Ibnu Abbas pura-pura tidur dan tidak tidur yang sebenarnya.

Maimunah menjawab, “Sudah.” Kemudian beliau pergi ke ranjang, lalu berzikir dan berdoa kepada Allah, lalu tidur.

Ibnu Abbas berkata, “Hingga aku mendengar dengkurannya.

Setelah itu beliau bangun, menghilangkan rasa kantuk di matanya dan membaca,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Mahasuci Engkau, maka perilahalah kami dari siksa neraka’.”(Ali Imran : 190-191).

Beliau membaca ayat-ayat ini sehingga sempurna sepuluh ayat.

Kemudian beliau bangun dan keluar dari rumah. Ibnu Abbas menyusulnya dengan membawa air dan wadah lalu meletakkannya di depan pintu.

Setelah kembali, beliau melihat air, dan bertanya kepada dirinya, “Siapakah yang meletakkan air untukku ?”

Ibnu Abbas menghafal kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Nabi pada malam itu. Kemudian beliau mendoakannya :

“Ya Allah, berikanlah kepadanya pemahaman dalam bidang agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.”

Inilah awal kehidupan intelektualitas Ibnu Abbas

Kemudian Rasulullah menghadap ke Kiblat dan membaca,

“Ya Allah, bagiMu segala puji , Engkau yang mengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji , Engkau cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji, Engkaulah raja langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji, Engkaulah yang Haaq, janjiMu haq, firmanMu adalah haq, surga adalah haq, neraka adalah haq, para nabi adalah haq dan Muhammad adalah haq.”

“Ya Allah, kepadaMu aku berserah, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku tawakal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu dalam penyelesaian pertikaian, kepadaMu aku mengharap keputusan. Ampunilah segala yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan.” 

Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan shalat dan Ibnu Abbas ikut pula shalat bersama beliau pada malam yang panjang.

Rasulullah shalat dengan membaca Al-Qur’an hingga orang-orang yang ikut shalat bersamanya tidak mampu menahan diri hingga beliau selesai.

Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shalat dan aku pun ikut shalat bersamanya. Beliau membaca surat hingga aku ingin melakukan sesuatu yang buruk.” Ketika ditanya,” Apa yang ingin engkau lakukan?” Dia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi.”

Hudzaifah berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah, lalu beliau memulainya dengan membaca surat al-Baqarah. Aku katakan, Beliau ruku ketika telah membaca seratus ayat’ kemudian beliau membaca lagi al-Qur’an dan memulainya dengan surat an-Nisa’ (menurut susunan mushaf Ibnu Mas’ud), lalu membacanya. Aku katakan, ‘Beliau rukuk ketika telah sampai akhir surat.’ Kemudian beliau memulai lagi dengan membaca surat Ali Imran, lalu membacanya. Beliau bertasbih ketika menjumpai ayat tasbih, memohon karunia kepada Allah ketika menjumpai ayat rahmat dan berlindung kepada Allah ketika menjumpai ayat adzab.”

Ini shalat yang dilakukan oleh Rasulullah.

Jadi, faktor pertama yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah membaca Al-Qur’an, hidup di bawah naungannya, mentadaburinya,lalu mengulangi bacaannya dan mengamalkannya.

Kedua, melepaskan dunia (tajarud ‘anidduniya) dan zuhud terhadapnya.

Ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sahal bin Sa’ad bahwasanya dia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu dia bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang jika aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku?” Beliau menjawab,

“Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.”

Hal yang paling agung yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah adalah menyingkirkan cinta dunia dari hatinya.

Jika seorang hamba mengeluarkan cinta dunia dari hatinya dan mengisinya dengan cinta kepada Allah, maka Allah akan mencintainya.

Cinta Allah tidaklah dapat diraih kecuali engkau menjadi hambaNya dan penghambaan berarti tunduk, merendah dan pasrah kepada Allah.

Karena itulah Allah berfirman kepada RasulNya ketika memuliakannya dengan memperjalankannya dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha (Isra’),

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya dari al-Masjid al- Haram ke al-Masjid al-Aqsha .” (Al-Isra : 1).

Ketika memberi peringatan kepadanya, Allah berfirman,

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya .” (Al-Jin : 19).

Ketika Allah menjelaskan bahwa Dia yang menurunkan al-Qur’an kepadanya. Dia berfirman kepadanya,

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hambaNya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”(Al- Furqan : 1).

Keunggulan as-salaf as-shalih atas diri kita pada sisi ini, mereka telah melepaskan dunia. Dunia ada di tangan mereka, tetapi tidak ada di hati mereka. Karena itulah Allah mencintai mereka.

Rasulullah telah memperingatkan mereka dan juga kita dari cinta dunia dan menyembah kepadaNya. Sebab ada sebagian manusia yang menyembah dinar dan dirham. Ada yang menyembah khamishah(sejenis pakaian) dan khamilah(pohon-pohon yang lebat).

Ada pula yang menyembah jabatan dan pangkat.

Rasulullah bersabda,

“Celakalah hamba dirham,celakalah hamba dinar, celakalah hamba khamilah, celakakah hamba khamisah, celakalah ia dan tersungkurlah. Jika ia terkena duri semoga ia tidak bias mencabutnya.”

Mengapa mereka celaka ? Karena mereka telah menjadi budak hawa nafsu,

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” (Al-Jatsiyah : 23). 

Kita telah sering mendengar kisah Muhammad bin Wasi’az-Zahid ketika bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Qutaibah untuk meninggikan kalimat la ilaha illallah di belahan timur wilayah Islam.

Qutaibah ingin mengujinya di hadapan para komandan perang dan para menteri. Sambil memegang kantong berisi emas yang besarnya seperti kepala banteng, yang diperolehnya dari musuh, dia bertanya kepada mereka, “Apakah menurut kalian ada orang yang menolak kantong ini jika disodorkan kepadanya?’

Mereka menjawab, “Kami rasa tak seorang pun yang tidak menginginkan harta ini.

Qutaibah berkata, “Akan aku perlihatkan kepada kalian seorang dari umat Muhammad, yang emas baginya seperti debu. Panggillah Muhammad bin Wasi’ kepadaku!”

Kemudian para tentara pergi untuk membawa Muhammad bin Wasi’ menghadap kepada komandannya (Qutaibah). Mereka menemukannya sedang bertasbih, istighfar dan memuji Allah atas kemenangan kaum muslim.

Ketika dia menghadap, Qutaibah memberikan kepadanya emas, lalu dia pun mengambilnya. Qutaibah terkejut, karena dia mengira emas itu akan dikembalikan sehingga wajahnya berubah di hadapan para komandan dan menteri.

Muhammad bin Wasi’ lalu keluar dengan membawa emas. Qutaibah meminta kepadanya meminta kepada sebagian tentaranya untuk mengawasinya kemana di pergi ? Dan dia berkata, “Ya Allah janganlah Engkau pelesetkan dugaanku kepadanya”

Muhammad bin Wasi’ pergi membawa emasnya dan di jalan dia bertemu dengan seorang fakir miskin yang meminta-minta kepada tentara, lalu Muhammad bin Wasi’ memberikan seluruh emasnya kepadanya. Akhirnya berita ini disampaikan kepada Qutaibah dan dia pun berkata kepada para komandan dan menteri, “Bukankah aku katakan kepada kalian, ada seseorang dari umat Muhammad yang emas baginya seperti debu?”

Inilah kezuhudan! Dan kisah ini selalu saya ulang-ulang, karena dia amat membekas.

Kita perlu untuk selalu mengulang-ulangnya dalam khutbah-khutbah, nasehat-nasehat, pelajaran, pendidikan dan bimbingan agar manusia kembali kepada Allah. Sebab ada orang yang telah menjadi budak dunia sehingga tidak lagi mampu menghadiri majelis-majelis ilmu dan dakwah serta tidak mampu berkonsentrasi dalam zikir dan membaca al-Qur’an karena dunia.

Kita amat perlu untuk mengulang-ulang pelajaran ini agar hati-hati manusia sadar dan bangkit dari tidur dan kelalaiannya.

Ibnu Umar berkata, seperti yang tersebut dalam Shahih alBukhari, Rasulullah memegang pundakku dan berkata,

“Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan.

Maka Ibnu Umar pun menjadi seorang sahabat yang paling zuhud terhadap dunia, bahkan dia lepaskan jabatan khilafah, padahal dia layak memangkunya seandainya dia meminta, karena hati semua orang telah tertarik kepadanya. Namun dia tinggalkan jabatan itu karena dia ingin mengamalkan nasehat Rasulullah. Dia seperti orang asing di dunia dan orang yang sedang melewati jalan, yang mengambil sedikit saja bekal dan meninggalkan segala kemewahannya.

Tajarud(melepaskan) dunia artinya engkau mengambil dari dunia ini apa yang berguna bagimu dan tidak membuatmu disibukkan olehnya serta menjadikannya sebagai penolong dalam rangka ketaatan kepada Allah.

Sementara sebagian orang memahami zuhud dengan meninggalkan dunia. Ini tidak benar.

Sebagian ulama menafsirkan zuhud dengan meninggalkan yang haram dan defenisi ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad. Semua orang tentu dianggap zuhud jika zuhud hanya sebatas ini (meninggalkan yang haram).

Ibnu Taimiyah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Sedangkan apa yang bermanfaat baginya, maka tidak boleh ditinggalkan”. 

Ketiga,qiyamullail (shalat malam)

Faktor ketiga untuk meraih cinta Allah adalah shalat malam. Di sinilah kita mengadukan keadaan kita kepadaNya.

Allah menyebutkan sifat hamba-hambaNya dalam firmanNya,

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat : 17-18).

Juga dalam firmanNya yang lain,

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dalam harap, dan mereka menafkah-kan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajadah : 16).

Tentang orang-orang yang beriman dari Ahli Kitab, Allah berfirman, 

“Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” (Ali Imran : 113).

Rasulullah telah mendorong manusia agar melakukan shalat malam.

Shalat malam biasa dilakukan setengah jam atau sepertiga jam sebelum subuh, meski hanya dua rakaat agar Anda termasuk orang-orang yang mengingat Allah pada waktu itu.

Di dalam ash-Shahihaian,Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,

“Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang tersisa, lalu Dia berkata, Adakah orang yang meminta, maka akan aku berikan permintaannya ? Adakah orang yang memohon ampunan, maka aku akan ampuni kesalahannya ? Adakah orang yang berdoa, maka aku akan kabulkan doanya?”

Allah turun sesuai keagunganNya dan kita tidak mempertanyakan bagaimana turunNya, tidak kita serupakan dengan makhlukNya dan kita tidak nafikan kandungannya.

Waktu ini adalah waktu yang banyak diabaikan orang, dan barangsiapa yang mengabaikannya, maka dia rugi dan hina, kecuali karena sakit, atau begadang untuk suatu kebaikan yang harus dilakukan, atau karena dalam perjalanan.

Rasulullah berkata, “Wahai Abdullah, maksudnya adalah Ibnu Umar janganlah seperti si Fulan, dia melakukan shalat malam, lalu meninggalkannya.

Hadits ini terdapat dalam kitab ash-Shahih

Ibnu Umar berkata, “Seorang sahabat apabila bermimpi, maka dia menceritakannya kepada Rasulullah, dan aku berharap bermimpi baik agar aku dapat menceritakannya kepada beliau.” Ibnu Umar berkata, “Ketika aku muda dan masih lajang, aku tidur di masjid, aku bermimpi dua orang laki-laki mengajakku ke sebuah sumur yang dibuat dari batu. Lalu aku melihat ke bawahnya dan aku merasa takut. Kedua orang yang mengajakku berkata, ‘Jangan takut.’ Lalu aku mengambil sehelai sutra yang jika aku isyaratkan ke arah manapun dari kebun yang hijau, niscaya aku dibawa terbang olehnya ke tempat itu. Di pagi hari aku ceritakan mimpiku kepada saudara perempuanku, Hafshah yang juga istri Rasulullah, lalu dia menceritakannya kepada beliau. Maka beliau berkata, “Sebaik-baik hamba Allah adalah Abdullah, seandainya dia melakukan shalat malam.

Nafi’ budak Ibnu Umar berkata, “Setelah itu Ibnu Umar tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.”

Jika dalam perjalanan, Ibnu Umar juga tetap shalat, lalu dia bertanya kepada Nafi’, “Wahai Nafi’ apakah fajar telah terbit?” Jika dikatakan, ‘belum’, dia meneruskan shalatnya dan jika dikatakan, ‘telah terbit’, dia shalat witir satu rakaat, lalu menghadap Kiblat untuk melakukan shalat fajar.

Hal-hal yang dapat membantu melakukan shalat malam sebagaimana yang dikemukakan para ulama, antara lain :

  1. Mengurangi maksiat di siang hari Seorang laki-laki berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, aku tidak bisa shalat malam,” Al-Bashri menjawab, “Demi Tuhan Ka’bah, maksiat telah mengikatmu.
  2. Membaca wirid yang diajarkan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, yaitu tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali.
  3. Tidak begadang di malam hari, karena saat ini orang begadang bukan untuk melakukan sesuatu yang diridhai Allah, kecuali orang yang dirahmatiNya. Bagaimana mungkin orang yang tidak tidur dari pukul 12 malam hingga pukul 2 pagi bisa melakukan shalat malam ? padahal waktu ini adalah waktu shalat malam bagi as-salaf ash-shalih.

  4. Qailulah(tidur di siang hari) agar dapat melakukan shalat di malam hari atau mencari ridha Allah.

Shalat malam merupakan sunnah yang dilakukan Rasulullah dan syi’ar Islam. Ketika kita meninggalkannya, kita kehilangan panasnya iman, kehilangan waktu untuk melakukan perhitungan terhadap diri (muthasabatunnafsi) dan kehilangan kesempatan untuk menghadap kepada Allah.

 

Keempat,merenungkan ayat-ayat Allah

Allah berfirman,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi,dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang – orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali Imran : 190-191).

Setiap kali Anda merenungkan ayat Allah, maka ayat itu akan menunjukkanmu kepadaNya.

Di setiap sesuatu terdapat tanda

Yang menunjukkan keesaanNya

Sungguh aneh, bagaimana Tuhan ditentang

Atau bagaimana orang ingkar kepadaNya

Di setiap kejapan mata, di setiap pandangan, di setiap pohon, di setiap bunga, dan di setiap gunung terdapat ayat-ayat Allah.

Betapa banyak ayat-ayat Allah yang kita lewati, tapi kita mengambilnya sebagai pelajaran kecuali bagi orang yang ditolong Allah untuk bertafakur. Allah berfirman,

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana dia dihamparkan.” (Ali-Ghasyiyah : 17-20).

Merenungkan ayat-ayat Allah adalah sesuatu yang akan mendorong Anda untuk beribadah kepadaNya. Ini adalah ibadah orang-orang shalih yang selalu merenungkan ayat-ayat Allah yang jelas, semua ciptaanNya dan keindahan ciptaan Tuhan langit sehingga mereka kembali dengan keimanan dan keyakinan.

Betapa indahnya seandainya perjalanan kita dan rekreasi kita, kita manfaatkan untuk merenungkan ayat-ayat Allah. Maka tidak ada sebuah pohon pun yang dilewati manusia, kecuali seakan pohon itu berbicara kepadanya, La ilaha illallah.

Inilah sarana paling besar untuk mencintai Allah yang menciptakan segala sesuatu bagi kita dan ayat-ayatNya agar kita dapat mengambilnya sebagai pelajaran, sehingga kita semakin dekat denganNya.

Tanyakanlah kepada dokter yang tertimpa kecelakaan

Wahai dokter yang tahu tentang kedokteran, siapakah yang telah mencelakakanmu ?

Tanyakanlah kepada orang sakit yang selamat dan sembuh

Setelah semua cara pengobatan tak mampu menolongnya, siapakah yang menyembuhkanmu ?

Tanyakanlah kepada lebah, wahai burung-burung lembah

Siapakah yang menghiasimu dengan madumu ?

Jika kamu melihat ular besar mengeluarkan bisanya

Tanyakanlah kepadanya, siapakah yang mengisi bias itu ke dalam dirimu ?

Tanyakanlah, wahai ular, bagaimana engkau hidup

Sedang racun bias memenuhi mulutmu ?

Segala puji bagi Allah yang Maha Agung dengan DzatNya.

Yang tidak ada seorang pun melainkan semuanya dariMu.

 

( Sumber :  Buku "Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu" Karya Syekh Aidh Al Al Qarni ) 

(read more ...)



Diantara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim. Pembicaraan masalah ini -dengan memohon pertolongan Allah- akan saya bahas melalui empat point berikut.

Pertama : Makna Silaturrahim
Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Silaturrahim Termasuk Diantara Pintu-Pintu Rizki
Ketiga : Apa Saja Sarana Untuk Silaturrahim .?
Keempat : Tata Cara Silaturrahim Dengan Para Ahli Maksiat.

Pertama : Makna Silaturrahim

Makna "ar-rahim" adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".

Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian. [Fathul Bari, 10/414]

Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka. [Lihat, Murqatul Mafatih, 8/645]

Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Silaturrahim Termasuk Kunci Rizki

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah.

[1]. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) [1] maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim" [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415]

[2]. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim". [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415]

Dalam dua hadits yang mulia diatas, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. Demikian, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan "Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim" [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, 10/415).Artinya, dengan sebab silaturrahim. (’Umdatul Qari, 22/91)]

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu dalam Kitab Shahihnya dan beliau memberi judul dengan "Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim". [Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath’iha, 2/180]

[3]. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam beliau bersabda.

"Artinya : Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyak - nya harta dan bertambahnya usia" [2] 

Dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahu ’laihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim itu membuahkan tiga hal, diantaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.

[4]. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda.

"Artinya :Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim" [3]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, mejelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat ; bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim. Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan rizki.

[5]. Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhu ia berkata.

"Artinya : Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya, dibanyakkan rizkinya dan dicintai oleh keluarganya" [Al-Adabul Mufrad, Bab Man Washala Rahimahu Ahbbahu Allah, no. 59, hal. 37]

[6]. Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta dan benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya keta’atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan)". [Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath’iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (Lihat, 2/183-184)].

[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah oleh Syiakh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah hal. 45-51 terbitan Darul Haq, Penerjemah Ainul Haris Arifin Lc]
_________
Foote Note.
[1]. Catatan : "Para ahli hadits mengangkat persoalan seputar bertambahnya umur karena silaturrahim dan mereka memberikan jawabannya. Misalnya, dalam Fathul Bari disebutkan, Ibnu At-Tin berkata, ’Secara lahiriah, hadits ini beterntangan dengan firman Allah : "Artinya ; Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya" (Al-A’raf : 34). Untuk mencari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan. Pertama, bahwasanya tambahan (umur) yang dimaksud adalah kinayah dari usia yang diberi berkah karena mendapat taufiq untuk menjalankan keta’atan, ia menyibukkan waktunya dengan apa yang bermanfa’at di akhirat, serta menjaga dari menyia-nyiakan waktunya untuk hal lain (yang tidak bermanfa’at). Kedua, tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Dan itu berkaitan dengan malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditujukkan oleh ayat pertama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Ta’ala. Umpamanya dikatakan kepada malaikat, ’Sesungguhnya umur fulan dalah 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim dan 60 tahun jika ia memutuskannya’. Dalam ilmu Allah telah diketahui bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturrahim. Dan apa yang ada di dalam ilmu Allah itu tidak akan maju atu mundur. Adapun yang ada dalam ilmu malaikat maka hal itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah :"Artinya : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)". (Ar-Ra’d : 39) . Jadi, yang dimaksudkan dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu adalah apa yang ada dalam ilmu malaikat. Sedangkan apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh itu merupakan ilmu Allah, yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al-qadha’ al-mubram (taqdir/ putusan yang pasti), sedang yang pertama (dalam ilmu malaikat) disebut al-qadha’ al-mu’allaq (taqdir / putusan yang masih menggantung). [Fathul Bari, 10/416 secara ringkas. Lihat pula, Syarah Nawawi, 16/114, ’Umdatul Qari, 22/91]
[2]. Al-Musnad, no. 8855, 17/42 ; Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shihah, Bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak ’alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata. ’Hadits ini sanad-nya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Op.cit, 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, Al-Talkhish, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanad-nya shahih. (Lihat, Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. [Lihat, Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190].
[3]. Al-Musnad, no. 1212, 2/290 ; Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, Kitabul Birri wash Shihah, Bab Shilaturrahim wa Qath’iha, 8/152-153. Tentang hadits ini, Al-Hafizh Al-Haitsami berkata : ’Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath. Para perawi Al-Bazzar adalah perawi-perawi Shahih Muslim, selain Ashim bin Hamzah, dia adalah orang tsiqah (terpercaya). (Op.cit, 8/153). Disebutkan Ashim bin Hamzah, yang benar adalah Ashim bin Dhamrah. Penulisan Hamzah adalah salah cetak. (Lihat, Hamisyul Musnad, 2/290). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata. ’Sanad hadits ini Shahih. [Op.cit. 2/290]

(read more ...)



SAUDARIKU, AKHIRILAH KEPEDIHANMU!

 

Kaum muslimah adalah salah satu benteng dari benteng-benteng Islam yang tidak boleh dijamah. Di pundaknya ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mentarbiyyah dan menjaga ummat dari berbagai kerusakan yang menyesatkan. Apabilah para muslimah senantiasa istiqāmah dalam mengayomi ummat, maka seluruh lapisan masyarakatpun akan terlindungi. Keshalehan dan iffah (kesucian jiwa) mereka merupakan jalan untuk melindungi ummat dari kemunduran dan kesenangan menurutkan hawa nafsu.

Karena hal inilah, maka musuh-musuh Allah I baik dari kalangan Westernis maupun Sekuleris senantiasa berusaha keras untuk dapat menghancurkan benteng kokoh yang mulia dan untuk memecahkan permata yang belum terjamah ini. Mulailah mereka menyebarkan racun dan rayuan maut untuk menjerumuskan kaum muslimah dari agama dan ketakwaannya. Mereka memobilisasi berbagai mass media untuk mengiklankan beragam bentuk hisyah (perbuatan keji lagi lacur) sebagai sebuah seni atau peradaban. Dan merekapun sebarkan pula peradaban semu yang hina berupa komoditi seksual, dengan tujuan untuk merubah tatanan masyarakat dan opini publik terhadap kaum muslimah.

Sesungguhnya hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena ini merupakan slogan dan adat-istiadat yang telah mendarah daging bagi mereka. Namun, yang sebaiknya kita perbuat adalah untuk saling bertanya dengan tulus ikhlash: "Apa sajakah yang telah diperbuat para dai kita untuk menjaga permata ini?. Tentunya yang paling berhak untuk merenungi pertanyaan ini adalah para wanita muslimah yang shalihat, karena merekalah yang lebih layak merenunginya.

Sesungguhnya kita semua dituntut untuk dapat mengetahui dengan seksama bahwa realita ummat kita, baik dari segi sosial-masyarakat maupun dari sisi dakwah, menunjukkan satu kesimpulan pasti bahwa kita semua kurang memberikan porsi dan perhatian yang cukup untuk mendakwahi kaum muslimah. Kitapun melihat bahwa kebanyakan muslimah yang shalihat –apalagi yang awamnya- lebih banyak diam dan tidak mampu berbuat banyak dalam berdakwah kepada kalangannya serndiri. Bahkan kebanyakan mereka hanya pandai mencari berbagai alasan semu atau kambing hitam, agar ketidakmampuan dan sifat diam mereka dapat dilegalkan.

Bukankah secara pasti kita semua mengetahui bahwa rintangan-rintangan dakwah yang dihadapi oleh kaum wanita adalah lebih banyak daripada yang menimpa saudara-saudaranya, kaum lelaki? Namun, apakah hal ini justru menjadi alasan kuat bagi seorang wanita untuk bersiap menyongsong kebangkitannya? Ataukah dibenarkan bagi seorang wanita dāiyyah untuk bermalas-malasan dan berfutūr ria?

Wahai saudariku, marilah sejenak bersama-sama kita  merenungi khabar berita dari Abu Hurayrah tatkala berkata: "Ada seseorang berkulit hitam–lelaki ataupun perempuan- meninggal dunia dan dia adalah orang yang senantiasa menyapu masjid, dan kematiannya belum diketahui oleh Rasulullah. Maka ketika pada suatu hari beliau diinformasikan tentang hal tersebut, maka beliau berkata: Apakah yang telah dikerjakannya? Lalu dijawab: Dia telah meninggal, wahai Rasulullah! Beliau berkata: Maukah kalian menginformasikannya lebih lanjut? Maka merekapun menjawab: Sesungguhnya dia itu begini dan begini –kisah hidupnya-, seakan-akan merendahkannya-. Maka beliau berkata: Tolong tunjukkan kepadaku dimana kuburannya! Dan beliaupun mendatangi kuburannya dan menyalatkannya" {HR. al-Bukhāri dalam Kitāb al-Shalāh Bāb Kans al-Masjid (1/552) No. 458 dan Muslim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa al-Ribāth (3/1503) No. 1889}

Subhānallah...seorang wanita –sebagaimana dalam riwayat lain- yang oleh kebanyakan orang dipandang dengan sebelah mata ataupun hina...Namun nilai (kemuliaannya) di sisi Rasulullah r sangatlah agung sehingga beliau menanyakan hal-ihwalnya dan juga menyalatkannya.

Wanita tersebut telah menunaikan tugas dan tanggung jawabnya –meskipun dianggap sepele-, akan tetapi di sisi Allah I merupakan amalan yang agung sehingga berhak mendapatkan pujian dan perhatian dari Rasulullah r.

Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk kreatifitas, yang mendorong wanita agung tersebut untuk berkhidmat kepada kaum muslimin dalam memenuhi hajat kebutuhan mereka. Itulah gambaran amalan mulia yang berasal dari seorang wanita lemah dalam pandangan orang lain...Namun hatinya adalah hati yang dipenuhi dengan ketaatan yang sanggup untuk melahirkan kesungguhan dan pengorbanan, tanpa dibarengi perasaan malu atau malas sedikitpun.

Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk kreatifitas, yang membuat bangga hati orang-orang yang memiliki nurani yang sensitif (dalam kebaikan) dan senantiasa bergelora (untuk berjuang). Maka diapun bangkit untuk segera mempersembahkan kemampuan dirinya untuk mengharap wajah Allah I semata, tanpa dibarengi perasaan berpasrah diri atau menunggu orang lain saja yang akan berbuat.

Dan ternyata banyak sekali pengaruh yang meresap dalam jiwa tatkala kita menyaksikan kebiasaan yang telah mendarah daging seperti ini ternyata sering kita lihat. Namun sebaliknya, justri kita menyaksikan bahwa kebanyakan wanita shalihat justru berpaling dan menghindar dari tanggung jawab yang besar ini.

Subhānallah...Mengapa saudariku meninggalkan medan mulia ini?. Lalu, kepada siapa saudari akan berharap agar ada orang lain yang akan memainkan peranannya?

Ataukah hati saudariku tidak merasa tersayat tatkala melihat berbagai kebejadan yang memberondong kehidupan melalui taring-taring tajam dunia maya (internet) dan juga mass media? Dan dengan muda mempermainkan dan mengombang-ambingkan saudari-saudarimu sehingga merenggut iffah (kesucian diri) dan kemuliannya?

Tidakkah hati saudariku merasa teriris tatkala menyaksikan beragam kerusakan yang menimpa saudari-saudarimu? Atau bahkan yang tersebar luas di rumah-rumah kita bagaikan kobaran api yang menyala-nyala?

Atau masih sanggupkah saudariku merasakan lezatnya makanan dan minuman tatkala saudariku menyaksikan seorang pemudi dan diikuti oleh yang lainnya, mulai mencampakkah hijabnya? Atau mulai berdansa-dansi kesana-kemari sambil terbuai oleh alunan musik durjana pembawa petaka dan fitnah?

Ya Allah...!! Bagaimana mungkin saudariku masih diam seribu basa, sementara engkau memiliki kemampuan –dengan karunia Allah- untuk melindungi dan mengayomi saudari-saudarimu dari jerat dan tipu-daya para durjana.

Sudah keringkah air matamu? Atau sudah merasa ternteramkah hatimu? Ataukah Allah I meridhai langkahmu?

Saudariku sesama hamba Allah I:

Sekaranglah saatnya, apakah engkau mulai mempersiapkan diri...karena kalau tidak, maka sesungguhnya ummat ini adalah tanggung jawabmu. Karena sesungguhnya kelalaianmu merupakan kesempatan yang engkau berikan kepada para durjana untuk bebas melakukan segala upayanya. Barangsiapa yang menyadari akan besarnya tanggung jawab yang harus diembannya, maka dia akan terbebas dari segala dosa...Barangsiapa membenarkan Allah, maka Allahpun akan mengakuianya sebagai hamba-Nya yang jujur.

و من رعى غنما في أرض مسبعة      و نام عنها تولى رعيها الأسد

Barangsiapa yang mengembalakan kambingnya di lahan yang banyak binatang buasnya

      Kemudian diapun terlelap menjaganya, maka tidaklah heran apabila gembalaannya diterkam harimau

 

 

 

 

(read more ...)



Banyak orang menyadari bahwa hidup dunia sangat singkat dan bersifat sementara. Namun kesadaran ini kebanyakan tidak diikuti dengan perilaku yang menghargai waktu. Alhasil, waktu sering terbuang percuma tanpa kita sadari. 


Ketahuilah, wahai saudariku muslimah…! Waktu, bagi seorang muslim yang menyadari betapa berharganya tujuan hidupnya di dunia, tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja dengan sia-sia. Ia tidak mengatakan seperti perkataan orang Barat materialis yang cinta dunia, time is money. Tapi ia mengatakan “waktu itu untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Umur kita pendek, waktu kita cuma sedikit, sementara kita harus mempersiapkan bekal yang banyak untuk menempuh perjalanan menuju kampung akhirat, bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
Barangkali kita semua menyadari bahwa waktu hidup kita di dunia memang hanya sebentar, tidak ada yang hidup kekal. Namun entah mengapa kebanyakan dari kita tidak bisa menjaga waktu dengan baik sehingga waktu berlalu sia-sia tanpa diisi dengan amal kebaikan.
Saudariku…! Di antara waktu-waktu yang kita miliki, ada waktu lapang, waktu senggang, atau waktu yang kosong dari kesibukan. Dan waktu luang ini merupakan kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti digunakan sebaik-baiknya sebagai tanda syukur kepada-Nya. Namun kenyataannya, kebanyakan dari kita lalai akan nikmat ini sehingga kita pun merugi. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya yang agung:



نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ


“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

(read more ...)



 AGAR KAMU LEBIH DICINTAI ALLAH

 

عن أبي هريرة t  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " المؤمن القوي، خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف ، وفي كل خير احرص على ما ينفعك ، واستعن بالله ولا تعجز ، وإن أصابك شيء ، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل ، فإن لو تفتح عمل الشيطان " (رواه مسلم )

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).

Hadits yang mulia ini menunjukkan beberapa hal:
Pertama; Allah ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat, kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah. Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal; [1] ilmu yang bermanfaat, [2] beramal salih, [3] saling mengajak kepada kebenaran, dan [4] saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.

Kedua; kebaikan pada diri orang-orang beriman itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama; kaum As-Saabiqun ilal Khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh. Kedua; kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan. Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Ketiga; Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.

Ketiga; perkara yang bermanfaat ada dua macam; perkara keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut. Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya. Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki. Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu benar-benar bermanfaat baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”

Keempat; dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.

Kelima; apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa ridha dengan takdir Allah ta’ala. Tidak perlu berandai-andai, karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.

Keenam; di dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu. Sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu” merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah” merupakan bentuk keimanan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.

Diringkas dari buku:

Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Alkhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.

 

 

(read more ...)



Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya.

Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.

 

1.       Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda

 

عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ: إِِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أََنَّهُ يُحِبُّهُ

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

عَنْ اَنَسٍ: اَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فَمَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنّي لأحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَعْلَمْتَهُ؟ قَالَ: لا، قَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: أعْلِمْهُ فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ فِى اللهِ فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِى لَهُ

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Jadi, jangan tunda lagi. Katakan cinta kepada orang yang Anda cintai.

 

2.       Minta didoakan dari jauh saat berpisah

 

عَنْ عُمَرَبْنِ الْخَطَابِ قَالَ: اِسْتَأْذِنْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فِى الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي فَقَالَ: لاَ تَنْسَنَا يَا اُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ: كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى بِِهَا الدُّنْيَا، وَفِى رِوَايَةٍ قَالَ: أَشْرِكْنَا يَا أُجَيَّ فِى دُعَائِكَ

Umaق bin Khaththab berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku.” Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang hamba mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan malainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu seperti itu’.” (Muslim)

3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim)

 

3.       Berjabat tangan dengan erat dan hangat

 

Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمِيْنَ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

 

4.       Sering-seringlah berkunjung

 

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberli karena Aku’.” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)

5.       Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan

 

عَنْ اَنَسٍ بن مالك قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ لَقِيَ أَجَاهُ بِمَا يُحِبُّ لِيَسُرَّهُ ذَالِكَ سَرَّةُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)

Jadilah Anda orang yang paling pertama mengucapkan selamat kala saudara Anda menikah, mendapat anak, menempati rumah baru, pergi haji, naik jabatan, dan lain-lain.

 

6.       Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa

 

عَلَيْكُمْ بِالْهَدَايَا فَإِنَّهَا تُوْرِثُ الْمَوَدَّةَ وَتُذْهِبُ الضَّغَائِنَ

Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)

عَنْ عَائِشَةَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوْا

Thabrani juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah r.a. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.”

 

7.       Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيْهِ.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (Muslim)

Karena itu, jadikan diri Anda orang yang paling dahulu membantu kala saudara Anda membutuhkan.

  

(read more ...)



Jun

19

 
Ittiba’ An-Nabiy Salallahhu Alaihi Wasalam Dalam Perspektif Sunnah

Saudaraku kaum muslimin... Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

 “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai diriku melebihi cintanya kepada anak dan orang tuanya serta seluruh manusia yang lainnya” (HR. al-Bukhāriy No. 15 dan Muslim No. 44)

Suatu ketika, ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahuanhu berkata kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

(( يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي ))

 “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar sangat saya cintaimelebihi siapapun juga, kecuali dari diriku sendiri”

Maka Rasulullah Salallahualaihi Wasalam bertutur kepadanya:

(( لاَ، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ))

 “Tidak demikian halnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya aku lebih dicintai olehmu walaupun dari dirimu sendiri”

Kemudian ‘Umar Radhiallahuanhu pun berkata kepada beliau Salallahhu Alaihi Wasalam:

(( فَإِنَّهُ اْلآنَ وَاللهِ! َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي )

 “Adapun sekarang, demi Allah, sesunguhnya engkau benar-benar sangat saya cintai melebihi dari diriku sendiri”

Kemudian Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

(( اْلآنَ يَا عُمَرُ ))

“Sekarang (benar), wahai ‘Umar!” (HR. al-Bukhāriy No. 3694)

Saudaraku kaum muslimin...

 Di antara sarana paling utama agar kita dapat merealisasikan konsep ittibā’adalah dengan mahabbah (mencintai) Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

melebihi cinta kita kepada siapapun atau apapun, juga dengan senantiasa mengutamakan sabda-sabda dan perintah-perintahnya lebih dari pendapat dan perintah selainnya.

Benih mahabbah (cinta) kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

mulai bersemi dari adanya mahabbah qalbiyyah (kecintaan hati) ke-padanya serta tamannī ru’yatihi (harapan untuk dapat bertemu) dan tamannīshuhbatihi (berkawan) dengannya, ke-mudian ditutup dengan upaya kerasuntuk mengamalkan seluruh syari’at-nya dengan penuh kecintaan dan ke-rinduan kepadanya, secara lahir maupun batin.

Benih mahabbah (cinta) ini akan se-makin tumbuh dan mengkristal apabila kita merenungkan sabda beliau Salallhu Alaihi Wasalam berikut:

 

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِيْ، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِيْ بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Ummatku yang sangat mencintai diriku adalah orang-orang yang hidupsepeninggalku, hingga salah satu di antara mereka sampai-sampai ada yang sangat berkeinginan untuk berjumpa denganku beserta segenapkeluarga dan hartanya” (HR. al-Bukhāriy No. 3694)

Saudaraku kaum muslimin...

Benih mahabbah (cinta) tidaklah tumbuh begitu saja, tetapi memerlukanfaktor pendorong dan bahkan alasan kuat. Di antara faktor yang dapat menum-buhkan mahabbah (kecintaan) dan ta’zhīm (pengagungan) kepada Rasulul-lah sa, adalah:

1.    Harapan untuk dapat merealisasikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan perintah-Nya yang menegaskan kepada kita untuk mencintai dan mengagung-kan Rasul-Nya Salallahhu Alaihi Wasalam.

·       Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah dengan masa hidup (umur)beliau Salallahhu Alaihi Wasalam, sebagai ben-tuk pengagungan-Nya kepadanya:

 

“(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya merekaterombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” [QS. al-Hijr (15): 72]

·       Allah Subhanahu Wa Ta’ala memujinya Salallahhu Alaihi Wasalam:


“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [QS. al-Qalam (68): 4]

 

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” [QS. asy-Syarh (94): 4]

·       Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dipuji dan diagungkan nama-nya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain Rasul Salallahhu Alaihi Wasalam, bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya sebagaikhalīl (kekasih)-Nya. (Lihat: HR. Muslim 2/1855 No. 2383)

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

 

 ( وَكُلُّ مَحَبَّةٍ وَتَعْظِيْمٍ لِلْبَشَرِ فَإِنَّمَا تَجُوْزُ تَبَعًا لِمَحَبَّةِ اللهِ وَتَعْظِيْمِهِ، كَمَحَبَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  وَتَعْظِيْمِهِ، فَإِنَّهَا مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ مُرْسِلِهِ وَتَعْظِيْمِهِ، فَإِنَّ أُمَّتَهُ يُحِبُّوْنَهُ لِمَحَبَّةِ اللهِ لَهُ، وَيُعَظِّمُوْنَهُ ِلإِجْلاَلِ اللهِ لَهُ، فَهِيَ مَحَبَّةٌ ِللهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ مَحَبَّةِ اللهِ... )

 

“Setiap bentuk kecintaan dan pen-gagungan kepada manusia hanya di-perbolehkan sebagai kelanjutan dari bentuk kecintaan dan pengagungankepada Allah. Seperti halnya kecin-taan dan pengagungan kepada Rasulullahmaka ini merupakan penyem-purna bagi kecintaan danpengagungan kepada Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah. Oleh karenaitu, ummatnyapun mencintainya karena adanya kecintaan Allah kepadanya dan mengagungkan-nya karena adanya pengagungan Allah kepadanya.Kecintaan kepada Rasu-lullah merupakan persembahan cinta kepada Allah, sekaligus sebagai bukti cinta kepada-Nya...” (Lihat: Jalā’ al-Afhām: 297)

 

2.    Kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam adalah syarat bagi ke-imanan seseorang.

Ibnu Taymiyyah Rahimahullah berkata:

إِنَّ قِيَامَ المَدْحَةِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَالتَّعْظِيْمِ وَالتَّوْقِيْرِ لَهُ قِيَامُ الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَسُقُوْطُ ذَلِكَ سُقُوْطُ الدِّيْنِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya terealisasinya pu-jian, pengagungan dan penghormatankepadanya (Rasulullahmerupakan pilar bagi tegaknya seluruh syi’ar agama. Sebaliknya, runtuh atau hilangnya pilar tersebut adalah kehancuran bagi selu-ruh syi’ar agama” (Lihat: ash-Shārim al-Maslūl: 211)

 

3.    Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan berba-gai keistimewaandan karakteristik agung kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam; yaitu nasab (keturunan) dan keluarga yanmulia lagi pilihan,pertumbuhan hidup yang baik serta kesempur-naan akhlak, sifat dantingkah laku.

 

4.    Besarnya kecintaan, kasih sayang dan welas asih RasulullahSalallahhu Alaihi Wasalam kepada ummatnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah datang kepada-mu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas ka-sihan lagi penyayangterhadap orang-orang mu’min” [QS. at-Tawbah (9): 128]

Banyak sekali lantunan dan kumandang do’a beliau sa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ummatnya dilimpahkan berbagai karunia dan kebaikan!

Begitu banyak beban derita yang beliau pikul demi tersebarnya dakwah,walaupun harus menghadapi berbagai ejekan dan siksaan dari orang-orangmusyrik! (Lihat: at-Ta’addub Ma’a Rasūlillah fī Dhaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah: 37-123, oleh Hasan Nūr Hasan)

Saudaraku kaum muslimin...

 

Sesungguhnya mencintai Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam termasuksalah satu pilar agama yang paling utama, sehingga tidaklahmengherankan bahwa tidak ada kei-manan bagi orang-orang yang tidakmenjadikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai insan yang paling dicintainya melebihi anak dan keluarganya serta seluruh manusia yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih dari-pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkankeputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petun-juk kepada orang-orang yang fasik” [QS. at-Tawbah (9): 24]

 “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” [QS. al-Ahzāb (33): 6]

Berkaitan dengan ayat tersebut, Rasu-lullah Salallahhu Alaihi Wasalam bersabda:

(( مَا مِنْ مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِهِ فِيْ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ ))

 

“Tidak ada seorang mukminpun kecuali dia akan lebih mencintai diriku, baik di dunia maupun di akhirat” (HR. al-Bukhāriy 6/22 no. 4781)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

(( أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ ))

 “Saya adalah orang yang harus lebih dicintai oleh sorang mukmin, walaupun dari dirinya sendiri” (HR. Muslim 1/592 No. 687)

Saudaraku kaum muslimin...

 

Mahabbah (kecintaan) kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam memiliki dua tingkatan, yaitu:

 

1.    Wajib atau Fardhu.

 

Yaitu mahabbah yang mengandung konsekuensi untuk merealisasikan se-gala perintah Rasulullah sa dan men-jauhi larangannya, rela atau ridha ter-hadap segala ketetapannya, mendasar-kan pengambilan berbagai perintah dan larangan dari ajaran yang dibawa-nya dan tidak memilih jalan kecuali jalan yang telah ditempuh olehnya. 

2.    Sunnah atau Mandub.

 

Yaitu mahabbah yang mengandung konsekuensi untuk mengikuti dan men-contoh dengan baik beragam sunnah, akhlak, adab dan ibadah-ibadah sun-nah yang beliau kerjakan. (Lihat: Istinsyāq Nasīm al-Uns min Nafahāt Riyādh al-Quds: 34-35 dan Fath al-Bāriy 1/61) 

Saudaraku kaum muslimin...

 

Pangkal utama sebuah mahabbah (cinta) adalah ath-thā’ah (taat), al-inqiyād (tunduk patuh) dan at-taslīm (menerima dengan totalitas), bahkan hal ini meru-pakan kewajiban mahabbah tersebut. 

Oleh karena itu, tidak diperkenan-kan bagi seorangpun untuk keluar atau membangkang dari ketaatan kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam dan perintahnya. Bahkan wajib baginya untuk merealisasikansegala perintah dan meninggalkan segala larangannya, serta dengan lebih mengutamakan kecintaan kepadanya dari pada kecintaan kepada keinginan jiwa dan hawa nafsunya sendiri. (Lihat: Fath al-Bāriy 1/53)

 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hinggame-reka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, ke-mudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatimereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka mene-rima dengan sepenuhnya” [QS. an-Nisā’ (4): 65]

Saudaraku kaum muslimin...

 

Sebagai penutup, marilah kita renungkan sabda Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam berikut:

 

(( ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ ))

 

“Tiga hal yang apabila seseorang dapat merealisasikannya, maka ia akan mera-sakan lezatnya keimanan, yaitu; 1. Men-jadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintainya dari selainnya, 2. Mencintai seseorang, tiada lain mencintainya kecuali hanya karena Allah, 3. Benci apabila dirinya terjeru-mus kembali kepada kekafiran sepertikebenciannya apabila dijerumuskan ke dalam api” (HR. Muslim 1/592 No. 687)

Seorang penyair bijak berkata:

 

 

َعْصِي اْلإِلَهَ وَأَنْتَ تَزْعُمُ حُبَّهُ ذَاكَ لَعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ لَـوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا َلأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِـمَنْ أَحَبَّ مُطِيْعُ

 

 

Engkau bermaksiat kepada Allah, padahal kau mengaku mencintai-Nya

Dalam pandanganku, itu bukanlah timbangan yang pantas

Seandainya cintamu tulus, tentu kau akan mentaati-Nya

Karena sang pencinta kan taat pada yang dirindukannya

 

 

Kitab-kitab yang mengupas secara khusus tentang mahabbah, ta’zhīmdan ittibā’ kepada Rasulullah sa, di antaranya:

·       

(read more ...)



 Wahai Da’i Islam, Renungkanlah Perjalananmu

Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, gelanggangdakwah banyak diminati jutaan manusia, mereka bukanlah manusia biasa, tetapi mereka adalah para brillian, para pejuang, para patriot serta orang-orang yang siap mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk dapat berandil dan ikut berpacu dalam gelanggang yang penuh liku tersebut.

 Ya, jalannya tak bertabur semerbak bunga atau bermandikan cahaya. Di jalannya tergeletak sejumlah sosok tubuh manusia, berjuta jiwa terlepas dari  jasadnya, berjalan kelelahan dengan terseok-seok dan bercucuran derai air matanya.

Akan tetapi –alhamdulillah– gelanggang ini tak pernah sepi, bahkan kian hari peminatnya kian membanjir, bagai air bah yang tak pernah bisa dibendung.

 

(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ عَلَى ذَلِكَ ))

“Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang berjalan di atas kebenaran, tiada sedikitpun terpengaruh oleh orang yang menghina mereka, hingga datangnya keputusan Allah” (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

 

Gelanggang itu adalah sebuah perjuangan membentuk tata kehidupan ummat, mengobati luka dan membawa obat penawar bagi penyakit mewabah yang telah menjangkiti ummat. Seorang da’i adalah arsitektur yang merancang benteng Islam yang megah, menambal yang runtuh dan menjaganya agar tetap kokoh, tampak cerah di tengah kegelapan fasadyang semakin pekat.

Seorang da’i yang memulai langkah perjuangannya bertolak dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan ma-nusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” [QS. adz-Dzāriyāt (51): 56]

 

Mengikuti gerak laju sebuah perintah:

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama” [QS. at-Tawbah (9): 122] 

Merambah kehidupan di atas fondasi: 

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petun-juk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” [QS. Sajdah (32): 24]

ٍSemua itu dirajut dalam sebuah tenunan adab yang apik, sebagaimana difirmankan:

 

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi ber-hati kasar, tentunya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu [QS. Āli ‘Imrān (3): 159]

“Dan janganlah kamu memalingkan mu-kamu dari manusia” [QS. Luqmān (31): 18]

Sungguh, betapa mulianya seorang da’i tatkala dia menyuarakan sebuah kalimat dari Rabb-Nya:

 

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu…” [QS. an-Nisā’ (4): 1]

 

Seorang da’i sedang menapaki jalan yang menuju ke puncak gunung, mengarungi lautan dan menelusuri lembah. Mengingatkan orang yang lalai, memberitahu orang yang belum mengerti, mengasihi para pencari kebenaran hakiki, berdiri tegap menghadapi kesombongan para penjahat, senyum antusias dan optimisme menghadapi segala hambatan, teguh menghadang segala tekanan dan derasnya aliran kebatilan.

Dakwah adalah tangga kemajuan bagi ummat Islam dari tidur panjang dan realitas menyedihkan yang dialaminya. Da’i adalah pahlawan yang akan mengentaskan ummat dari segala kerendahan dan kesesatan. Membawa manusia dari kubangan kemaksiatan menuju mahligai iman dan ketentraman. Oleh karena itu, maka pantaslah bila al-Qur’an dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Hadits sangat menghargai usaha yang dilakukan seorang da’i :

“Siapakah yang lebih baik perkatannya da-ripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” [QS. Fushshilat (41): 33]

(( فَوَاللهِ َلأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ ))

"Demi Allah , apabila Allah menunjuki seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih berharga bagimu dari pada onta merah (kemegahan hidup) (HR. al-Bu-khariy, Muslim dan selain keduanya)

Tetapi dakwah bukanlah pintu yang telah terbuka lebar, sehingga setiap orang dengan mudah bisa memasukinya. Dakwah membutuhkan kesiapan, metode, dan rambu-rambu yang akan membantu perjalanan seorang da’i dalam mengemban tugas agungnya.

Tulisan ringkas ini bermaksud memberikan sebagian bekal yang harus dibawa seorang da’i, dalam perjalanannya di medan dakwah. Hal ini sangat penting untuk dipahami, sebab amal dakwah adalah amal agung yang membutuhkan keseriusan, istiqamah, kesabaran dan juga beragam cara, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh Alaihi Salam:

“Nuh berkata: “Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumkumalam dan si-ang. Maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)” [QS. Nūh (71): 5-6]

Renungilah beberapa hal berikut, semoga dapat menjadi modal berharga untuk menemani perjalananmu dan perjuanganmu yang panjang:

Pertama: Teman Perjalanan 

Saudaraku…!

Alangkah terasa jauh dan begitu panjang perjalanan yang hanya dilakoni seorang diri, tanpa seseorang yang menjadi teman bicara atau membantu di saat-saat menjumpai rintangan di jalan. Seorang muslim dalam kehidupan dunia ini, layaknya seorang musafir yang membutuhkan teman selama bepergian, membantunya dalam jihad hingga mencapai target dan tujuan. Sungguh menyenangkan bila dia memiliki teman yang cerdas dan takwa, sebaliknya akan terasa sesak dadanya bila yang mengiringi perjalanan panjangnya itu adalah orang-orang yang buruk, baik hati maupun tingkah lakunya. Seorang mu`min akan selalu kuat bila bergabung dengan sesamanya.

 

(( فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ اْلغَنَمِ اْلقَاصِيَةِ ))

 “Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian” (HR. Ahmad, Abū Dāwūd dan an-Nasā’iy)

Kedua: Kehidupan Tanpa Ruh

Alangkah buruknya, bahkan tak mungkin seseorang hidup tanpa ruh, ya...sesuatu yang tidak mungkin:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepa-damu wahyu (al-Qur’an, ruh) dengan pe-rintah Kami” [QS. asy-Syūrā (42): 52]

Subhanallah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamakan al-Qur’an sebagai ruh, maka tidak akan ada kehidupan yang sebenarnya tanpa al-Qur’an dan tidak ada kenikmatan dunia akherat tanpa Kitab Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Inilah kenikmatan hakiki bagi orang yang memiliki selera kenikmatan, yaitu tali Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat kuat dan jalan-Nya yang lurus.

Sebaik-baik usaha untuk mendidik diri dan keluarga atau anak didik adalah duduk khusyu’ bersimpuh di hadapan Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jauh dari kotornya dunia dan bercak-bercak noda kehidupan.

Betapa indahnya bergantungan dengan tali langit di saat tali bumi terputus, betapa bahagianya memasuki pintu langit tatkala pintu bumi telah tertutup. Suasana terindah bersama Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adalah ketika mata kebanyakan orang pejam mengantuk atau tidur terlelap, namun seorang yang justru shaleh membaca al-Qur’an dengan penuh khusyu’ dan tunduk patuh, dikelilingi rahmat yang di bawa para malaikat.

Bacalah al-Qur’an dan tafsirnya, hafalkanlah, perhatikan baik-baik, ambillah pelajaran, dan hiduplah bersamanya. Jangan putuskan hubunganmu dengan Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala , jauhilah kegelimangan dunia dan gemerlapnya kehidupan palsu yang fana.

Ketiga: Yang Paling Mengasihi Di Antara Sesama Manusia

Saat engkau menemui seseorang yang merintih kesakitan, tiba-tiba engkau pun merasakan sakitnya, engkau bahkan menangis karenanya. Kemudian engkau ulurkan tanganmu untuk benar-benar membantunya. Bukan hanya itu, bahkan engkau rela mengorbankan jiwawu demi menolongnya. Saat itu dirimu adalah orang yang sangat peduli dan mengasihi orang lain. Tapi tahukah, siapa sebenarnya orang yang paling mengasihi sesamanya? Yah, dirimu juga, yaitu ketika engkau menyeru (mendakwahkan) orang lain untuk menapaki jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketika engkau memberikan cahaya petunjuk kepadanya agar selamat dari hitam pekatnya kesesatan.

Dakwah menyeru kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  adalah jalan para nabi dan rasel utusan-Nya. Adalah kemuliaan yang amat besar, bila kita pun mau menempuh jalan yang sama. Ketauhilah, dakwah yang paling agung adalah mentarbiyyah anak didik untuk mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya saw serta manjauhkan mereka dari ombak kehinaan.

Saudaraku...!

Mendidik para pemuda untuk taat dan takwa adalah salah satu sisi paling agung, yang tidak pernah dipahami dengan baik hasil akhirnya, kecuali oleh ahlul bashirah yang berpandangan tajam. Hal ini tidak akan pernah disadari oleh mereka yang berpandangan pragmatis dan tergesa-gesa ingin menuai hasil.

Seorang pendidik adalah pencetak manusia pejuang, yang akan menjali pilar peradaban dan merubah sejarah. Dakwah dan seruan yang kekal adalah dakwah yang mengayomi anak didik dengan sesungguhnya, fondasinya menghunjam kuat ke bumi, hingga tidak akan termakan fitnah kecuali yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai kebaikan baginya.

Keempat: Jangan Jadi Lilin

 

Alangkah kasihannya sebuah lilin, dirinya terbakar, sementara manusia dengan senang hati memanfaatkan cahayanya. Akankah seorang da’i bernasib seperti sepotong lilin? Yang kami maksudkan di sini adalah seseorang yang melalaikan pendidikan dirinya, padahal dirinya sudah memasuki tahapan tertentu dari usianya.

Mungkin dirinya menyangka bahwa usianya telah mencukupi sebagai pengganti tarbiyah fardhiyyah (pendidikan diri), atau dia mengira bahwa kesibukan dakwah cukup sebagai pengganti perhatian pada dirinya sendiri. Ini adalah jebakan yang sangat membahayakan. Orang yang tak memiliki apapun, tentuanya tak akan dapat memberi. Seorang da’i dalam gelanggang dakwah akan selalu menjadi qudwah, oleh karenanya harus ada cara tertentu untuk mendidik diri serta untuk komitmen menumbuhkan iman, keshalehan dan wara’. Jangan menjadi lilin yang membakar dirinya untuk menerangi orang lain.

 

Kelima: Warisan Para Nabi

Dakwah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala walaupun begitu penting, agung dan juga sebagai suatu amal ibadah, tetapi bisa saja berubah menjadi bumerang bagi pelakunya bila tidak memiliki fondasi yang benar dan substansi yang asli, yaitu ilmu syar’i. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

Katakanlah: “ Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yangmengikutiku me-ngajak (kamu) kepada Allah  dengan huj-jah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [QS. Yūsūf (12): 108]

 

Setiap dakwah yang tidak dilandasi oleh ilmu syar’i, meskipun sangat gencar, adalah dakwah yang kosong bahkan mungkin menjadi seruan menuju kebodohan. Munculnya kelompok-kelompok sesat adalah karena mereka tidak membekali dakwah dengan keilmuan yang shahih (benar).

Setiap amal ibadah meskipun banyak, bila tidak berdasarkan petunjuk Nabi saw adalah cacat dan kurang, khususnya bila tidak dilandasi ilmu syar’i. Karena dari sinilah munculnya para ahli zuhud yang sesat.

Ilmu adalah kehidupan, tidak akan pernah mengerti arti kehidupan itu melainkan orang yang dapat merasakan manisnya dan melahap kenikmatannya. Kita menyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa sebuah masyarakat pilihan, pasti pilarya adalah orang-orang yang berilmu.

 

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah, di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama” [QS. Fāthir (35): 28]

 Oleh karena itu, sangatlah penting menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai salah satu cara meneguk ilmu syar’i. Seorang da’i yang memikul tanggungjawab untuk melakukan perubahan dengan goresan tinta, kata bijak dan perbuatannya, harus hidup dalam dunianya.

Kejadian dan aliran pemikiran yang selalu berkembang setiap saat, menuntutnya untuk mengetahui banyak hal yang ada di sekelilingnya demi kepentingan dakwahnya, termasuk membaca buah karya para penulis kontemporer. Ini merupakan sebuah keniscayaan, agar dia menjadi seorang da;i yang tanggap, respek dan sukses.

Namun jangan dilupakan, kita adalah ummat yang memiliki akar sejarah yang jelas. Manhaj ulama salaf adalah manhaj yang lebih benar, lebih lurus dan lebih selamat. Seorang da’i merasakan kebanggaan tersendiri bila menisbatkan dirinya pada manhaj para pendahulunya. Mayoritas goresan tinta mereka dihiasi keikhlasan, kejujuran dan lautan ilmu yang dalam.

Keenam: Keikhlasan Membutuhkan Keikhlasan

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supa-ya Dia menguji kamu, siapa di antara ka-mu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Ma-ha Perkasa lagi Maha Pengampun” [QS. al-Mulk (67): 2]

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa dalam menentukan tingkatan manusia, barometernya adalah hasan (yang baik). Jadi permasalaannya bukan kuantitas, tetapi kualitas. Satu hal yang menjadi faktor terpenting untuk kualitas amal ibadah agar dikatakan sebagai amal yang hasan adalah keikhlasan. Bahkan substansi amal itu sendiri sebenarnya adalah keikhlasan. Ketika keikhlasan tidak ada, maka ada tidaknya sebuah amal menjadi sama saja (percuma).

Saudaraku...!

Betapa para shiddiqun sendiri mengalami problem dalam keikhlasan. Tapi tidaklah mengapa, karena langkah pertama adalah melakukan dan merasakan, tetapi perlu sabar, mushābarah (menyabar-nyabari) danmujāhadah (berjuang terus) agar dirinya dapat sampai tujuan meskipun setelah sekian lama.

Hati-hati jangan pernah terbuai oleh amal perbuatan kita sendiri. Sebagian salaf menyebutkan:

“Barang siapa yang mengira ikhlash terhadap keikhlasan dirinya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”. Wallahu A’lam. (hasmi.org) 

(read more ...)